My Love (just) For You Chapter 4

My Love (just) For You

chapter 4

6264fdeab9f08b728a6b0beb1a3012c2

 

...

Presented by Kim Yeri

.

Genre :: Romance, Hurt

.

Rate : T

.

Warning : GS For Sungmin, Typo(s).

.

Disclaimer : KyuMin milik Tuhan, Orang tua mereka, SUPER JUNIOR,

ELF, JOYERS.

Kyuhyun memandangi rumahnya, lalu ke arah rumah Sungmin. Sudah lama, dan tak ada perubahan. Lelaki itu tersenyum memikirkan orang tuanya akan terkaget – kaget melihatnya tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

Perlahan, Kyuhyun melangkahkan kakinya memasuki rumahnya. Ia yakin, ayah dan ibunya ada di dalam, berhubung ini hari Sabtu.

Kyuhyun membuka pintu, dan mendapati kedua orang tuanya tengah bersantai sambil menonton tv. Mereka berdua belum menyadari kehadiran anaknya. Kyuhyun berjalan pelan ke arah mereka.

“Appa!! Eomma!! Aku Pulang!!”

“Omo!! Kyu…” Heechul langsung berlari menghampiri Kyuhyun. Memeluk anak semata wayangnya itu dengan erat. Ia menangis.

“Aku merindukanmu eomma. Aku merindukan appa. Maaf tak pernah mengunjungi kalian selama aku di sana.” Kyuhyun membalas pelukan eommanya. Memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu dengan sangat erat. Pandangannya tertuju kepada ayahnya yang tengah memandangi mereka berdua.

Hankyung beranjak untuk memeluk kedua orang itu. Mengusap punggung Kyuhyun perlahan.

“Kami juga merindukanmu, nak. Syukurlah kau bisa menyelesaikan kuliahmu dan pulang dengan selamat” Hankyung berujar setelah melepaskan pelukannya.

“Kenapa tak memeberi tahu kau akan pulang, bodoh?” Heechul masih terisak. Dipukulinya bahu Kyuhyun. Perasaan kesal bercampur bahagia tengah memenuhi hatinya.

“Kejutan eomma, ke-ju-tan.” Kyuhyun tertawa mendapati tatapan eommanya yang seakan marah kepadanya.

“Sudahlah, Heenim-ah. Toh, anak ini sudah ada di sini. Nah, Kyu. Kau pasti lelah. Lebih baik istrahat saja dulu.”

“Ani, appa.” Tolak Kyu. “Aku tak lelah sama sekali. Aku ingin bercerita banyak kepada kalian, tapi sebelumnya, aku akan menemui Sungmin dulu.” Kyuhyun tersenyum lebar saat mengucapkan kalimat itu. Heechul yang masih bergelayut di lengan anaknya, seketika terdiam. Hankyung memandang penuh rasa bersalah pada Kyuhyun. Kyuhyun yang menyadari perubahan sikap kedua orang tuanya, tentu saja menjadi kebingungan.

“Kenapa appa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi?”

Hankyung bingung harus mengatakan apa pada Kyuhyun. Entah harus ia mulai dari bagian mana. Tak mendapat respon dari ayahnya, Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Heechul. Mencoba bertanya, namun eommanya itu malah memalingkan wajah dan memilih untuk diam.

“Oke..oke. Aku mengerti. Hari ini aku akan bersama appa dan eomma saja. Bertemu Sungmin akan ku lakukan besok saja. Itu, kan yang kalian….”

“Bukan itu Kyuhyun-a. Kami memang ingin seperti yang kau katakan tadi, hanya saja….”

Kening Kyuhyun berkerut mendengar kalimat menggantung dari Appanya.

“Hanya saja apa? Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, ku mohon.”

Hankyung baru saja akan melanjutkan penjelasannya, namun niatnya terhenti saat Heechul menarik lengannya.

“Eomma, ada apa sebenar…..”

“Maafkan eomma, Kyu. Maafkan eomma.” Tubuh Heechul merosot jatuh terduduk di hadapan anak dan suaminya. Kyuhyun dan Hankyung refleks memegabhi Heechul yang terlihat begitu lemah. Hankyung tahu pasti apa yang membuat Heechul seperti ini, Tetapi Kyuhyun, ia bahkan harus bersabar untuk mengetahui apa yang terjadi.

Kyuhyun berjongkok di hadapan eommanya yang menangis lagi. Dengan sabar Kyuhyun menarik Heechul ke dalam pelukannya.

“Eomma yang salah, Kyu. Ini semua karena eomma. Ku mohon, maafkan eomma Kyu. Hankyung-a..ku mohon beritahu Kyuhyun. Aku yang salah. Aku yang bodoh sudah menyakiti Sungmin.”

DEG

Apa yang Kyuhyun takutkan, sepertinya akan terjadi. Sedari tadi, ia mulai menyadari jika hal ini ada hubungannya dengan Sungmin. Kyuhyun mencoba untuk tenang.

“Eomma. Jangan begini. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa eomma bersalah, dan Sungmin? Eomma menyakitinya bagaimana?”

Heechul semakin menangis. Tak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Setelah ia pendam selama dua tahun lebih, akhirnya perasaan bersalah itu kembali muncul.

Hankyung menghela napas perlahan.

“Sungmin dan appanya sudah lama pindah, Kyu.”

Kyuhyun mendongak menatap ayahnya.

“Maksud appa….”

“Maaf tak memberitahumu soal ini. Kami pun tak tahu mereka pindah ke mana.”

Pelukan Kyuhyun pada eommanya merenggang. Heechul bisa merasakannya membuat ia semakin merasa bersalah. Kyuhyun menunduk. Lelaki itu menangis dalam diam. Heechul yang tepat berada di hadapannya, bisa merasakan air mata anaknya yang jatuh tepat di telapak tangannya.

“Mianhae Kyu…mianhae” Heechul mencoba meredam tangisnya. Menggenggam kedua tangan Kyuhyun yang bergetar hebat.

“Kenapa?? Kenapa eomma??” suara itu terdengar begitu memilukan di telinga Heechul. Hankyung tak kuasa menahan air matanya, melihat sang anak yang terlihat begitu sedih seperti sekarang. Bahkan ia baru saja datang. Harus dihadap

kan akan kenyataan seperti ini.

“Maaf Kyu. Eomma yang bodoh. Eomma yang terlalu mementingkan keinginan eomma tanpa memikirkan perasaanmu dan Sungmin.”

Tangis Kyuhyun semakin menjadi. Memikirkan Sungmin-nya yang sekarang bahkan tak tahu ada di mana, membuat hatinya terasa begitu ngilu. Ia tak menyalahkan eommanya. Dirinya yang salah, tak bisa mempertahankan Sungmin.

Hankyung memberi isyarat kepada Heechul untuk meninggalkan mereka berdua. Dengan langkah pelan Heechul memasuki kamarnya.

Maafkan eomma, Kyu. Eomma janji akan menemukan Sungmin untukmu. Tak akan eomma ulangi kesalahan yang dulu.

–O–

Beberapa hari ini, Kyuhyun hanya berdiam di rumah. Tak berniat untuk ke mana-mana. Berkeliling hanya di seputaran kamar dan dapur. Kyuhyun bahkan tak berbicara banyak dengan kedua orang tuanya. Hanya seperlunya saja.

Hari di mana Kyuhyun baru saja tiba di rumahnya. Hari di mana leleki itu twrus menangis di hadapan ayahnya. Katakan ia cengeng. Namun, bagi Kyuhyun, menangis mungkin cara yang bisa ia gunakan untuk mengurangi sakit di hatinya.

Hampir setiap malam, Heechul dan Hankyung mendengar Kyuhyun menangis di dalam kamarnya. Jika mereka tak bertindak, Kyuhyun akan begini terus. Hankyung berusaha mencari keberadaan Sungmin. Memang tak pasti alamatnya, Namun setidaknya ia tahu, jika sahabatnya, Kangin dan putrinya, Sungmin sekarang menetap di Nowon. Mengetahui hal itu, Heechul yang tahu jika Kyuhyun belum mendatangi rumah sakit tempatnya bekerja, berencana untuk meminta kepada kepala rumah sakit itu untuk memindahkan Kyuhyun ke rumah sakit di Nowon. Namun, hal itu urung ia lakukan, karena hari ini, Kyuhyun tiba-tiba keluar dari rumah. Mengatakan bahwa ia akan mulai masuk ke rumah sakit.

“Ahjumma, jika kami berjodoh, ke manapun aku pergi, sejauh apapun, dan selama apapun itu, kami akan bertemu lagi. Dan, Heechul ahjumma, berhentilah minta maaf. Kau tak bersalah.” Senyum itu menghiasi wajah cantik yang ada di depan Heechul.

“Ya! Kau masih memanggilku ahjumma? Kau seperti masih memendam amarah kepadaku, Sungmin-a.”

Sungmin terkekeh. Mendorong kursi rodanya untuk mendekat ke arah Heechul yang duduk di hadapannya. Memeluk wanita paruh baya itu.

“Aku marah pada siapa? Aku bukan orang yang suka memendam perasaan marah, umma.” Sungmin melepaskan pelukannya. Beralih menggenggam tangan Heechul. Ibu Kyuhyun itu terisak mendapati perlakuan Sungmin.

“Uljima, umma. Kau tahu aku menyayangimu, kan? Terima kasih karena selama ini sudah menjadi umma untukku. Kita akan bertemu lagi. Asal umma menyetujuiku menjadi pendamping Kyuhyun.” Sungmin tersenyum. Mengusap wajah Heechul yang dipenuhi air mata.

“Sungmin-a..umma menyayangimu.”

Mereka kembali berpelukan. Hankyung muncul bersama Kangin dari dalam rumah. Membawa beberapa barang yang akan Kangin dan Sungmin bawa.

“Sampaikan salamku untuk Kyuhyun jika ia pulang nanti” Heechul mengangguk untuk menyahuti perkataan Kangin.

“Kau yakin tak mau memberitahu kami kau akan kemana dengan putrimu?” hankyung mencoba bertanya untuk kesekian kalinya.

“Tanyakan saja pada Sungmin.” Kangin tersenyum penuh arti. Sungmin pun tersenyum tak kalah misteriusnya.

Hankyung mendengus kesal lalu beralih memeluk sahabatnya itu. Sedikit tak rela harus berpisah. Mengingat mereka telah bersama-sama sejak kecil.

Hankyung dan Heechul mengantar kedua orang itu, membantu memasukkan barabg-barang ke bagasi mobil.

“Kami berangkat dulu, appa, umma.”

“Changkamman.” Heechul berjalan menghampiri Sungmin yang baru saja duduk di samping ayahnya yang memegan kemudi.

“Simpan ini.”

Sungmin menangis melihat benda yang di berikan Heechul untuknya.

“Gomawo umma. Sampaikan pada Kyuhyun. Aku mencintainya.”

Heechul tak akan lupa hari itu. Hari di mana Kangin dan Sungmin pergi. Heechul sadar akan kebodohannya, namun ia tak ingin larut dalam keadaan itu. Ia hanya perlu berdoa dan yakin jika Sungmin memang ditakdirkan hanya untuk Kyuhyun.

–O–

Kyuhyun POV

Aku memutuskan untuk menjadi dokter di sini. Bukan untuk menjauh dari umma dan appa, namun, entahlah. Aku pun tak tahu. Tetapi, seperti ada sesuatu yang ku harapkan terjadi jika aku di sini. Jauh dari keramaian yang selalu ku temui di Seoul.

Lee Sungmin.

Aku tak tahu bagaimana keadaannya. Bahkan tak tahu keberadaannya. Perasaan rinduku menumpuk. Entah harus apa lagi, agar aku bisa menemukan gadis itu.

Aku sempat marah pada umma. Tapi, aku sadar jika aku yang lebih bersalah di sini. Tak memberi tahu dari awal jika aku hanya menginginkan Sungmin. Aku tahu umma berpikir aku perhatian kepada Sungmin karena menganggap gadis itu sebagai adikku. Apalagi keadaannya yang memang membutuhkan perhatian lebih. Seharusnya sejak awal aku memberi tahu umma, bagaimana aku mencintai Sungmin.

Tak ada gunanya menyesali yang telah terjadi. Hanya satu hal yang membuatku bertahan saat ini. Aku yakin dan percaya akan hal itu. Sungmin menungguku. Tak tahu di mana, namun aku yakin ia tengah menungguku. Aku percaya itu, karena dia Sungmin, dan karena dia Sungmin-ku, aku akan menemukannya.

–O–

Normal POV

“Sungmin noona!!!!”

“Ya!! Berhenti berteriak seperti Sungjin-a! Orang-orang di dalam sana akan terganggu.”

“Terserah. Yang pasti, noona harus membantuku membuat lagu kali ini. Aku tak ingin mendapat hukuman dari songsengnim lagi.” Sungjin menggerutu. Menunjukkan wajah cemberutnya, yang justru terlihat lucu di mata Sungmin.

“Arasseo. Tapi, kau harus berjanji untuk tak datang memberontak lagi di sini. Bisa-bisa semua pelangganku kabur karena kau.”

“Ne, Arasseo!!” Sungjin berbalik dan berlari kembali menuju sekolahnya yang tak jauh dari cafe Sungmin. Sungjin adalah salah satu murid yang mengikuti les musik pada Sungmin.

Ayah Sungmin sudah berhenti dari pekerjaannya. Tidak sepenuhnya berhenti, karena ia masih sesekali berhubungan dengan Hankyung untuk mengurus perusahaan. Biar bagaimanapun, perusahaan itu milik mereka berdua.

Sungmin yang telah selesai dengan kuliahnya, memutuskan untuk membuka tempat les musik. Awalnya, ia berencana untuk menjadi guru les musik di sekolahnya dulu, DI Seoul. Namun, karena ayahnya yang berniat pulang ke kampung halaman, di tambah kejadian yang tak mengenakkan dulu, membuat Sungmin akhirnya membuka tempat les musik di rumahnya sendiri. Rumah yang terletak di tengah pusat kegiatan di Nowon itu memang besar. Karena Sungmin hanya tinggal berdua, maka mereka memanfaatkan sebagian rumah itu di tambah halamannya untuk membuat tempat les musik. Selain itu ada cafe yang di lengkapi dengan toko bunga dan perpustakaan kecil. Semuanya merupakan keinginan Sungmin. Kangin hanya menuruti saja apa yang diinginkan oleh putrinya.

Sungmin sadar. Ia sengaja seperti sekarang ini. Melakukan banyak hal. Mencoba untuk tak larut dalam kesedihannya. Jika mau, ia ingin menangis setiap saat. Meneriakkan nama Kyuhyun, megatakan betapa ia merindukan lelaki itu. Namun, Sungmin tahu. Hal itu tak akan merubah apapun.

Satu-satunya yang membuat Sungmin bertahan sampai saat ini adalah Kyuhyun. Ia sudah berjanji untuk menunggu Kyuhyun. Menunggu lelaki itu datang untuk menepati janjinya. Sungmin tak bisa memastikan kapan itu akan terjadi. Ia hanya ingin percaya. Hanya ingin membuktikan jika ia percaya, apapun itu akan menjadi sesuatu yang membahagiakan untuknya dan untuk Kyuhyun.

–O–

Seperti biasa, Sungmin berada di toko bunganya setiap pagi. Les musiknya hanya ia lakukan setiap hari Sabtu dan Minggu, mengingat kebanyakan dari muridnya adalah anak sekolah. Cafenya sendiri sudah ia percayakan pada Jongwoon dan Jongjin, sepupunya. Lelaki yang memiliki beberapa cafe dan toko kacamata itu, bersedia untuk mengurus cafe Sungmin karena kebetulan ia tinggal tak jauh dari rumah Sungmin.

Hari Senin. Hari yang cukup sibuk. Biasanya cafe akan ramai di saat makan siang, dan saat jam pulang kerja. Sungmin, seperti hari-hari sebelumnya akan mengurusi bunga-bunganya, melayani orang yang kebetulan ingin membeli bunga, menghampiri cafe untuk sekedar bersantai di sana. Terus dan terus berulang setiap harinya. Sungmin mungkin bosan, namun ini lebih baik daripada ia harus berdiam diri.

“Sungmin-a.. Kau melamun lagi??”

“oh. Wookie. Kau datang.”

“Hmm..dan kau tak akan menyadarinya jika tak ku sapa.”

Sungmin tersenyum pada wanita yang tengah hamil di hadapannya ini. Dia Kim Ryeowook. Wookie. Gadis yang pernah akan dijodohkan dengan Kyuhyun. Namun, kenyataannya sekarang, Wookie adalah istri dari sepupunya, Kim Jongwoon. Yah, dunia serasa begitu sempit bagi Sungmin, namun juga terasa begitu luas, hingga untuk bertemu dengan Kyuhyun-nya begitu sulit.

“Bagaimana kandunganmu?” Sungmin memulai pembicaraan setelah Wookie duduk di sampingnya.

“Baik. Sangat baik malah. Sepertinya, bayiku ini memang menginginkan ummanya untuk tak bekerja.”

“Memang harusnya seperti itu,kan. Suamimu bisa membiayaimu, lalu untuk apalagi kau bersusah payah untuk bekerja.” Ryeowook tersenyum saat memandangi Sungmin yang berbicara padanya, namun entah bagaimana seperti terlihat tengah memikirkan sesuatu.

“Kau merindukannya?”

“Heh?” Sungmin seketika menoleh ke arah Ryeowook

“Kyuhyun. Aku tahu kau merindukannya Sungmin-a. Sekeras apapun kau mencoba menyembunyikan perasaanmu, tetapi tetap saja semuanya terlihat jelas di wajahmu.

Sungmin terdiam.

“Aku merindukannya. Bukan hanya di saat tertentu. Selalu, Wookie. Aku selalu merindukannya, apapun yang ku lakukan, tak bisa membuatku lupa sejenak untuk tak merindukannya.”

Ryeowook sangat mengerti itu. Ia sempat merasa bersalah pada Sungmin saat mendengar cerita dari Heechul. Namun, Sungmin tak pernah mempermasalahkan hal itu. Toh, Sungmin sangat percaya pada Kyuhyun. Dan lagi Ryeowook tak pernah setuju akan perjodohan yang hampir terjadi antara dirinya dan Kyuhyun. Ia sudah tahu bagaiman hubungan Sungmin dan Kyuhyun. Semuanya, ia telah mengetahuinya sejak awal ia menjadi kekasih dari sepupu Sungmin, tak lama setelah kejadianyang membuat kaki Sungmin tak berfungsi.

Ryeowook mengelus perlahan punggung Sungmin, tersenyum saat gadis itu menatapnya.

“Cha. Sudah waktunya makan siang. Kita ke cafe mu. Anakku sudah tak sabar bertemu appanya.”

Sungmin terkekeh mendengar penuturan Ryeowook. Dengan di bantu Ryeowook, mereka berdua lalu menuju cafe yang tepat berada di samping toko bunga Sungmin.

–O–

Sungmin POV

Bukannya menemaniku makan, Ryeowook malah membantu Jongwoon melayani pelanggan di kasir. Sedikt sebal, tapi aku tak sanggup untuk marah. Ternyata aku memang lapar.

Sambil makan, sesekali aku memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sampingku. Kebanyakan dari merka adalah anak sekolah menengah pertama yang baru pulang. Sisanya orang-orang yang mengunjungi beberapa toko di depan sana. Beberapa dokter dan perawat dari rumah sakit yang ada di ujung jalan juga tampak tengah berjalan menuju beberapa kedai maupun cafe, termasuk cafe Sungmin.

DEG

Suapan terakhirku, terjatuh begitu saja saat mataku menangkap sosok itu. Masih begitu jauh dari sini, tapi entah bagaimana aku begitu mengenali sosok itu.

Air mataku menggenang. Terus ku perhatikan pergerakan sosok itu yang sepertinya memasuki salah satu toko yang tak jauh dari cafeku. Tanpa memberi tahu Jongwoon maupun Ryeowook, dengan susah payah aku mendorong kursi rodaku keluar dari cafe ini. Sekuat mungkin mempercepat pergerakanku. Aku tak melihatnya masuk ke toko yang mana. Air mataku menetes begitu saja. Beberapa orang memperhatikanku, namun aku tak memperdulikannya.

Bahkan aku lupa jika jalan di hadapanku agak menanjak. Aku tak melihatnya di manapun. Tanganku melemas. Aku melupakan jika sekarang aku berada di jalan menanjak. Kursi rodaku bergerak mundur sendiri.

Ya Tuhan, apa yang akan terjadi padaku?

Ku pejamkan mataku serapat mungkin, menangis sudah tak ada gunanya lagi, hingga aku merasakan ada yang menarik kursi rodaku dari depan.

“Kenapa hanya diam saja? Kenapa tak memanggilku?”

Tangisku pecah. Suara itu…aku sangat mengenalinya.

 

T.B.C–

 

 

 

Advertisements

One thought on “My Love (just) For You Chapter 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s