My Love (just) For You Chapter 5

My Love (just) For You

chapter 5

 

...

Presented by Kim Yeri

.

Genre :: Romance, Hurt

.

Rate : T

.

Warning : GS For Sungmin, Typo(s).

.

Disclaimer : KyuMin milik Tuhan, Orang tua mereka, SUPER JUNIOR,

ELF, JOYERS.

 

Kyuhyun memutuskan untuk ke rumah sakit. Memulai tugasnya yang seharusnya sudah ia lakukan beberapa hari sebelumnya. Ia lelah jika terus-terusan seperti itu. Hanya meratapi nasibnya, tak akan membuatnya bertemu Sungmin. Untuk itulah, ia mencoba untuk memulai apa yang memang seharusnya ia mulai.

Dua minggu berlalu. Sedikit demi sedikit Kyuhyun bisa kembali menunjukkan dirinya yang dulu. Dirinya yang selalu bersemangat atas apapun yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Memang kurang lengkap. Separuh dunianya memang tak tahu ada di mana sekarang. Bukannya menghilang, Kyuhyun yakin hanya perlu menunggu waktu mempertemukannya dengan separuh dunia nya yang hanya ada Sungmin di dalamnya.

–O–

Kyuhyun POV

Hari ini, sebelum berangkat ke rumah sakit, aku di telepon oleh dokter Im, kepala rumah sakit tempatku bekerja. Menyuruhku agar datang lebih cepat. Sepertinya ada hal penting yang akan dibicarakan denganku.

“Oh, Kyuhyun-ssi. Silahkan masuk.” Lelaki yang sudah berkepala empat itu tersenyum menyambutku yang baru saja datang.

Sedikit membungkuk kepadanya sebelum aku duduk di hadapan dokter Im.

“Anda baru pertama kali menghubungiku, ku pikir yang akan kita bicarakan pasti hal yang sangat penting.”

“Kau benar, Kyuhyun-ssi. Begini, sebenarnya aku ingin memberitahumu jika dokter Park tak jadi dipindahkan ke Nowon, ternyata pihak rumah sakit di sana, telah salah mengajukan permohonan. Mereka seharusnya meminta dokter spesialis bedah, namun malah meminta dokter spesialis anak.”

“Lalu, hubungannya denganku? Apa ini berarti aku yang harus ke sana?” Entah mengapa aku begitu yakin dengan tebakanku ini, dan entah mengapa aku begitu bersemangat jika memang ini benar terjadi.

“Itu pun jika kau tak keberatan. Tapi, sejujurnya kami sangat mengharapkan kesediaanmu.”

“Tak masalah. Aku bersedia untuk dipindahkan ke sana. Toh, di manapun aku bertugas, tetap yang ku hadapi adalah pasien.”

Dokter Im seketika menjabat tanganku. Berterima kasih kepadaku berulang-ulang. Ku pikir memang tak ada salahnya, kan? Bisa saja aku bertemu Sungmin di sana. Setidaknya Nowon itu kampung halaman Sungmin. Yah, semoga saja.

–O–

Normal POV

“Kau akan pergi lagi Kyuhyun-a? Kau mau meninggalkan umma? Apa kau masih marah?” Heechul begitu kaget saat Kyuhyun mengatakan bahwa ia akan dipindah tugaskan. Tentu saja ia tak rela. Sangat sebentar dan rasanya sangat tak cukup waktu yang ia miliki untuk bersama dengan anaknya.

Kyuhyun tentu tak tega melihat umma nya yang merengek seperti itu kepadanya, namun mau tidak mau, ini sudah keputusan dan ia pun menerima keputusan itu. Sekarang ia hanya perlu memberitahu eomma nya secara perlahan, agar eomma nya bisa mengerti.

“Eomma, sebelumnya aku ingin bertanya.”

“Apa itu?”

“Yang mengajarkan aku menjadi seseorang yang suka menolong orang lain, siapa?

“Eomma.”

“Yang menginginkan aku menjadi dokter siapa?”

“Eomma.”

“Yang menginginkan aku menjadi seorang dokter yang peduli pada pasiennya siapa?”

“Eomma, Kyu.”

“Lalu, eomma tahu, kan apa yang aku inginkan?”

Heechul memandangi Kyuhyun. Menatap haru pada anaknya.

“Eomma, apapun yang sekarang tengah ku lalui, apapun yang menjadi pilihanku, semuanya berawal dari eomma. Eomma yang mengajarkanku semua hal. Jadi, jangan pernah berpikir aku pindah, karena marah pada eomma. Aku tak mau menjadi anak yang durhaka eomma. Aku hanya ingin menjadi apa yang eomma inginkan. Menjadi anak yang bisa membanggakan eomma.”

Heechul terisak setelah mendengarkan ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum mendapati eommanya yang tengah menahan tangis disampingnya. Di tariknya tubuh bergetar eommanya itu ke dalam pelukannya.

“Lagipula, eomma kan, tahu. Aku bukannya ke luar negeri. Hanya di Nowon eomma. Dan aku berjanji. Jika waktu libur, aku pasti akan mengunjungi eomma. Eomma pun begitu. Harus sering mengunjungiku bersama appa. Eomma mau berjanji untuk itu?”

Heechul menghapus air matanya. Menarik kepalanya perlahan, untuk melepaskan pelukan anaknya. Menyodorkan jari kelingkingnya di hadapan wajah Kyuhyun.

“Eomma berjanji, Kyu. Dan kau juga.”

Kyuhyun tertawa mendapati sikap kekanakan eommanya yang tiba-tiba muncul.

“Ne, eomma. Aku berjanji.” Jari kelingking ibu dan anak itu saling terpaut.

“Wah..wah..sepertinya appa ketinggalan cerita seru.”

Heechul dan Kyuhyun sontak menoleh ke arah Hankyung yang ternyata sedari tadi sudah berdiri di ambang pintu masuk.

“Aku tak perlu mengulangnya dari awal. Aku yakin appa sudah mendengarnya. Meskipun umurmu sudah tak muda lagi, tapi aku yakin pendengaranmu masih sangat tajam, appa. Aku masuk ke kamar dulu.” Kyuhyun beranjak dari duduknya, mencium kening ummanya sekejap, lalu melangkah masuk ke kamarnya, tak perduli pada appanya yang berteriak padanya.

“Aissh…anak itu kembali ke sifat aslinya. Aku harus sering-sering mengelus dada jika begini.” Heechul terkekeh melihat tingkah suaminya yang tak kalah kekanakan darinya.

“Tapi, kau sadar tidak, Heenim-ah?” Kening Heechul berkerut mendengar pertanyaan Hankyung yang tiba-tiba ia lontarkan itu.

“Sadar, tentu saja. Aku tak sedang mabuk sekarang.”

Hankyung menepuk jidatnya. Sejak kapan istrinya jadi idiot begini? Apa karena faktor usia. Heechul hanya memandangi suaminya dengan tatapan –aku memang sedang tak mabuk, kan?-

“Bukan itu. Kyuhyun, Heenim-ah. Ia tadi mengatakan akan pindah ke Nowon, kan?”

“Hmm…lalu? Hubungannya dengan aku yang sadar, apa?”

“Ya Tuhan! Kenapa kau jadi bodoh begini?”

“YA!! Jaga bicaramu Tuan CHO!!” Heechul melempari suaminya dengan bantal sofa yang ada di pangkuannya. Siapa yang tak kesal dikatai bodoh secara terang-terangan oleh suamimu?

Hankyung beranjak dari duduknya, menghampiri Heechul unhtuk kemudian duduk di samping istrinya.

“Oke. Oke, maafkan aku. Yang ku maksudkan itu..” Hankyung menoleh ke arah kamar Kyuhyun. Pintunya tertutup, namun belum tentu jika anaknya itu telah tidur. Di tariknya Heechul untuk lebih mendekat lagi.

“Ada harapan Kyuhyun bisa bertemu dengan Sungmin. Kau tahu, kan jika Kangin dan Sungmin itu menetap di Nowon?” Suara bisikan di telinga Heechul itu baru dicerna olehnya, dan..

“ASTAGA..hmmpph.” Teriakan Heechul tertahan saat Hankyung membungkam mulut istrinya itu dengan tangannya.

“Jangan berteriak, Heenim-ah.” Bisik Hankyung.

“Ya! Kau juga tak perlu menyumpal mulutku dengan tanganmu, kan?” Heechul balas berbisik.

“Tapi, kau mengerti maksudku sekarang, kan? Kyuhyun mungkin punya harapan akan bertemu Sungmin saat ia di Nowon, toh Kyuhyun tahu jika Nowon adalah kampung halaman Sungmin.”

Heechul mengangguk paham.

“Aku harap begitu. Semoga mereka benar-benar bertemu di sana.”

–O–

Kyuhyun POV

Sebulan lebih aku di sini, namun sekalipun aku tak pernah melihat keberadaan Sungmin. Memang, hari-hariku sebagian besar ku habiskan di rumah sakit. Selebihnya, aku memilih istrahat di rumah. Seminggu yang lalu, untuk merayakan hari pernikahan orang tuaku, ku sempatkan untuk pulang.

Selain di rumah sakit, satu-satunya daerah yang ku datangi hanya pusat keramaian yang ada di dekat rumah sakit. Hanya itu. Bahkan aku tahu, jika Nowon bukanlah kota yang bisa di katakan kecil. Jadi, masih ada begitu banyak kemungkinan aku akan menemukan Sungmin-ku di kota ini. Aku hanya perlu berusaha lebih keras lagi.

Seperti biasa, saat jam istrahat, aku akan keluar mencari makan, atau sekedar mengunjungi beberapa toko. Membeli barang yang ku perlukan.

Siang ini cukup panas. Aku berjalan menyusuri beberapa tempat makan dan toko, lalu memasuki salah satu toko sepatu. Entah kenapa, aku tertarik melihat sepasang sepatu yang terpajang di sana.

Aku membeli sepatu itu. Sepatu yang sama persis dengan yang ku hadiahkan kepada Sungmin-ku dulu. Sayangnya, Sungmin tak pernah memakai sepatu itu.

Aku berniat langsung kembali ke rumah sakit, namun urung saat melihat seorang gadis yang berusaha mendorong kursi rodanya agar bisa melalui jalan menanjak, tak jauh dari tempatku berdiri.

DEG

Bodoh. Kenapa aku tak menyadarinya? Itu Sungmin-ku. Yang di sana itu Sungmin! Dan, YA TUHAN!!

Secepat kilat aku berlari ke arahnya saat melihat kursi roda Sungmin mundur perlahan.

GREP

Tepat waktu. Dia benar Sungmin-ku. DIA SUNGMIN-KU.

“Kenapa diam saja? Kenapa tak memanggilku.” Susah payah aku mengeluarkan suaraku.

Bahu gadis-ku ini bergetar hebat. Dia..menangis?? Apa aku mengucapkan kata yang salah?

“Kyuhyun…Kyuhyun…Kyuhyun….Benar itu kau?? Kyu!!!” Gadisku ini, memandangiku dengan wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata. Ia menangis dengan keras. Menggapai tubuhku. Memeluk pinggangku dengan erat. Sebentar saja aku sudah bisa merasakan kemejaku basah karena air matanya.

YA TUHAN!

–O–

Normal POV

Beruntung Kyuhyun tak ada jadwal operasi siang ini. Ia membawa Sungmin kembali ke toko bunga milik Sungmin. Sesampainya di sana, mereka berdua terdiam. Jongwoon dan Ryeowook yang sempat kelimpungan mencari Sungmin yang tiba-tiba menghilang, hanya bisa melongo saat melihat Kyuhyun yang membantu Sungmin mendorong kursi rodanya. Pasangan suami istri itu hanya mengangguk pelan saat Kyuhyun menyapa mereka. Terus memperhatikan hingga Kyuhyun dan Sungmin telah berada di dalam toko bunga. Karena cafe dan toko bunga hanya di batasi sebuah kaca transparan, membuat Jongwoon dan Ryeowook bisa memantau Kyuhyun dan Sungmin di balik kasir.

“Hampir setengah jam, dan mereka masih belum bicara. Aku jadi gemas melihat mereka.” Ryeowook sedikit menggeram saat memperhatikan gerak-gerik KyuMin, yang sepertinya sama-sama tak berniat untuk memulai pembicaraan.

Jongwoon tersenyum melihat tingkah istrinya. Di elusnya kepala Ryeowook dengan sayang.

“Ibu hamil tak baik marah-marah.”

“Tapi, mereka hanya akan seperti itu terus?”

“Mereka pasti bingung Wookie-ah. Terlalu banyak hal yang ingin mereka katakan, hingga semuanya seperti berlomba untuk keluar. Karena terlalu banyak hal, dan rasanya kata-kata mungkin tak cukup untuk menyampaikannya, dengan saling memandang seperti itu pun, mereka sudah saling berbicara, Wook-ah. Sekarang, yang mereka butuhkan adalah saat-saat seperti ini.”

Ryeowook mendengus saat menyadari jika kata-kata suaminya seratus persen benar. Perlahan, wanita itu tersenyum seraya mengelus perutnya.

“Baiklah. Mereka memang butuh seperti itu. Lebih baik aku bermain dengan baby ku saja.” Jongwoon tersenyum seraya memandangi istrinya yang berjalan ke arah perpustakaan mini. Mencari beberapa buku, dan membaca di sana. Jongwoon sendiri, kembali melayani pelanggan.

–O–

“Min.”

Akhirnya Kyuhyun memulai pembicaraan di antara mereka. Namun, sepertinya Sungmin tak mendengar Kyuhyun. Gadis itu masih setia menunduk, menatapi kedua kakinya.

“Lee Sungmin.”

Sungmin sontak mengangkat wajahnya. Terkejut saat matanya langsung bertabrakan dengan mata Kyuhyun. Ingin memalingkan wajahnya, namun bahkan untuk bergerak menarik nafas saja, ia kesusahan.

“Sudah lama sekali.” Kyuhyun kembali menggumam. Tanpa sadar, tangan lelaki itu bergerak untuk menangkup wajah Sungmin. Menarik perlahan wajah gadisnya itu, untuk kemudian menempelkan dahinya pada dahi Sungmin. Sungmin berkali-kali mengerjapkan matanya. Tak tahu harus memasang wajah seperti apa sekarang.

Sementara itu, Kyuhyun sepertinya menyukai posisi seperti itu. Posisi di mana ia bisa melihat dengan jelas kedua mata gadisnya. Menghirup udara yang Sungmin lepaskan dari hidungnya. Merasakan napas hangat gadisnya menyapu wajahnya.

“Aku merindukanmu.” Kalimat itu terucap bersamaan dengan air mata Kyuhyun yang mengalir. Sungmin bisa melihatnya dengan jelas. Tanpa berpikir ulang, Sungmin mengusap air mata Kyuhyun. Mengelus wajah lelaki di hadapannya itu dengan lembut.

“Aku juga merindukanmu, Kyu. Sangat merindukanmu, sampai rasanya begitu sulit untuk mengatakannya.” Gantian Sungmin yang menangis. Satu persatu air mata gadis itu menetes.

Kyuhyun beralih untuk memeluk Sungmin. Memeluknya dengan sangat erat. Menyalurkan semua hal yang ia rasakan sekarang. Menyampaikan betapa ia merindukan hal ini terjadi.

“Terima kasih karena telah kembali Kyu. Terima kasih karena akhirnya kau datang untuk menepati janjimu. Terima kasih karena tak melupakanku.”

“Terima kasih juga untukmu, sayang. Terima kasih atas segala penantianmu. Terima kasih karena kau tak lelah untuk menungguku. Terima kasih sudah percaya padaku. Aku mencintaimu”

–O–

Beberapa hari setelah pertemuan mereka, Kyuhyun hampir tak pernah absen mendatangi Sungmin. Bahkan saat hari di mana mereka bertemu, lelaki itu meminta izin pada Kangin agar diizinkan menginap dirumahnya. Kangin tentu tak masalah dengan hal itu.

Kyuhyun telah memberitahu ayah dan ibunya. Hampir saja Hankyung dan Heechul mendatangi Sungmin ke Nowon, jika tak di larang oleh Kyuhyun. Bukan segampang itu Heechul mau mendengarkan Kyuhyun yang melarangnya datang ke Nowon. Namun, karena satu hal yang disampaikan Kyuhyun, membuat Heechul dan Hankyung urung untuk datang. Kyuhyun hanya meminta orang tuanya itu menyiapkan sesuatu, dan ia berjanji akan membawa Sungmin bersamanya nanti untuk pulang ke Seoul.

Hari Sabtu, dan itu berarti Sungmin akan memberikan les musik. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, setengah jam lagi sebelum waktu les. Kyuhyun belum mengunjungi Sungmin hari ini. Sepertinya lelaki itu tengah menangani banyak operasi.

“Sungmin noona!!! Kau di mana??!!!”

Sungmin menghela napas mendengar teriakan itu. Siapa lagi jika bukan Sungjin, muridnya yang sangat hyperaktif.

“Aku tak tuli, Sungjin-ah.”

Sungjin terkekeh setelah menemukan Sungmin yang sedang menyirami bunga. Di hampirinya Sungmin, lalu dengan seenaknya memeluk tubuh gadis itu.

“Gomawo noona…gomawo….jeongmal goma…kkhhh” Sungjin tak bisa menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba ada seseorang yang datang dan langsung menarik kerah baju belakangnya. Segera Sungjin berbalik dan mendapati seorang lelaki yang tengah menatapnya tajam. Sungmin tahu siapa yang datang. Tentu saja Cho Kyuhyun. Siapa lagi?

“YA!!! Ahjussi!! Kau ini apa-apaan? Kau ingin membunuhku?” Sungjin tak terima di perlakukan seperti itu, apalagi oleh orang asing-menurutnya-yang tiba-tiba muncul seperti itu.

“Kau yang apa-apaan? Dan jangan panggil aku ahjussi. Aku bukan pamanmu, bocah!”

“Kau memang pantas di panggil ahjussi pak tua. Sadarlah!”

PLAK

“Adaww!!”

“YA! Kalian berdua berhenti!” Teriakan dari Sungmin itu seketika membuat dua lelaki di hadapannya menatap ke arahnya.

“Dia yang memulai lebih dulu Sungmin noona. Lagipula, aku kan hanya ingin berterima kasih padamu” Sungjin mencoba merengek.

“Jangan memasang tampang menjijikkan seperti itu di hadapan Sungmin-ku!”

“Sungmin-mu? Hah? Kau bodoh, ahjussi tua? Sejak kapan Sungmin noona jadi milikmu?? Kau ini sebenarnya muncul darimana, sih?”

“Jaga bicaramu anak kecil, atau mulutmu itu ku jahit!”

“Coba saja, jika…”

“YA!! KU BILANG BERHENTI!!!”

Kyuhyun menghela napasnya perlahan. Beranjak mendekati Sungmin yang sepertinya sangat kesal, mengacuhkan tatapan tajam dari Sungjin.

“Maaf, membuatmu kesal. Tapi, sebenarnya dia siapa?” Kyuhyun menoleh sebentar pada Sungjin yang masih menatap tajam ke arahnya.

“Dia itu muridku, Kyu. Berhentilah bertindak kekanakan seperti tadi.”

“Noona….” Sungjin yang merasakan terabaikan, mencoba memanggil Sungmin. Sungmin yang tahu jika Sungjin tengah merengek, tersenyum sambil menghampiri anak itu. Kyuhyun hanya memperhatikannya. Sedikit tak rela saat Sungmin beralih darinya.

“Sungjin-a, lain kali kau harus lebih sopan pada orang yang lebih tua darimu, meskipun kau tak mengenalnya. Arra?”

“Ne, noona. Mainhae. Tapi, dia itu siapa?” Sungjin menanyakan perihal yang sama pada Sungmin. Kyuhyun mendengus kesal saat mendengar anak itu menyebutnya dengan panggilan “dia”.

“Namanya Cho Kyuhyun. Dia itu sahabat noona sejak bayi. Dia salah satu dokter di rumah sakit yang ada di ujung jalan sana.”

Sungjin perlahan mengarahkan tatapannya pada sosok yang disebut Cho Kyuhyun itu. Baru menyadari jika lelaki itu ternyata menggunakan jas dokternya. Sungjin sedikit takut saat mendapati tatapan tajam Kyuhyun kepadanya. Dilihatnya lelaki itu menghampiri dirinya dan Sungmin. Berhenti tepat di samping Sungmin.

“Dan kau juga perlu tahu, bocah. Wanita yang kau panggil noona ini adalah calon istriku, jadi jangan seenaknya menyentuh Sungmin tanpa sepengetahuanku. Dia ini milikku. Kau mengerti?”

Sungjin terperangah mendengar penuturan Kyuhyun. Sungmin bahkan tak pernah bercerita bahwa ia akan menikah, dan sekarang seorang lelaki yang baru saja ia lihat untuk pertama kalinya, mengatakan bahwa Sungmin adalah calon istrinya. WOW.

“Sungmin noona..kau benar-benar, ya. Mengapa tak pernah bercerita jika kau akan menikah? Aku, kan tak perlu repot-repot mencarikanmu calon suami.”

Kyuhyun segera menghadiahi Sungjin sebuah deathglare saat mendengar ucapan bocah itu. Sungjin membalasnya dengan sebuah cengiran.

“Tenang saja, tuan Cho Kyuhyun. Aku hanya bercanda. Lagipula Sungmin noona tak pernah mau diperkenalkan pada lelaki manapun.”

Kyuhyun tak menanggapi jawaban bocah itu saat menyadari Sungmin-nya sedari tadi terdiam.

“Hei, kau kenapa?”

Sungmin tak bereaksi. Sungjin mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Sungmin, namun tetap tak ada reaksi.

“Noona, kau ini kenapa?”

“Calon istri?” Sungmin menggumam, namun dapat terdengar jelas oleh Kyuhyun dan Sungjin. Saat itulah Kyuhyun sadar akan sikap Sungmin. Gadis itu pasti terkejut. Kyuhyun tersenyum sebelum duduk berjongkok di hadapan Sungmin. Menatap gadis itu.

“Sepertinya aku harus pergi.”

“Tidak, Sungjin-a. Kau tetap di sini. Jadilah saksi agar Sungmin percaya.” Sungjin terdiam di tempatnya. Agak bergidik mendengar suara Kyuhyun yang berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Sungjin sedikit tak menyangka lelaki di hadapannya ini bisa berbicara dengan lembut seperti itu.

“Lee Sungmin, ini adalah impianku sejak dulu. Menjadikanmu milikku sepenuhnya, agar aku bisa terus bersamamu untuk menjagamu. Dengarkan baik-baik sayang.”

Sungmin menatap Kyuhyun dengan tatapan haru. Menyelami mata kelam lelaki dihadapannya itu tanpa berkedip.

“Menikahlah denganku, Lee Sungmin. Hiduplah bersamaku. Apapun yang akan terjadi, tetaplah disisiku. Hanya kau yang aku inginkan. Hanya kau Lee Sungmin. Menikah denganku, ya?” Sedikit memohon, Kyuhyun menggenggam erat kedua tangan Sungmin. Menciumi kedua tangan itu berulang-ulang.

Sungmin hanya bisa menangis. Apa lagi yang ia inginkan sekarang? Lelaki yang begitu dicintainya, satu-satunya lelaki yang ia harapkan untuk terus bersamanya, mengucapkan hal yang selama ini ingin ia dengarkan dari mulut lelaki itu. Lalu apa lagi?

“Kau mau, kan menikah denganku?” Kyuhyun kembali bertanya saat Sungmin belum juga mau bersuara. Diusapnya wajah gadis di hadapannya itu, menhapus jejak air mata di pipi gadis-nya.

“Tentu saja dia mau, hyung.” Tanpa sadar Sungjin menyahuti pertanyaan Kyuhyun. Kyuhyun kembali menatap Sungjin dengan tatapan –aku benar-benar akan menjahit mulutmu-. Sungjin yang menyadari tatapan membunuh yang dilayangkan Kyuhyun kepadanya, segera menunduk. Kan, sudah ku bilang, lebih baik aku pergi dari sini tadi.

Sungmin yang mendengar gumaman Sungjin, seketika tersenyum.

“Sungjin benar, Kyu.”

“Maksudmu?” Ayolah, Cho Kyuhyun. Kenapa jadi kau yang terkaget-kaget begini? Kau terlihat bodoh jika begitu.

Sungmin meraih wajah Kyuhyun. Mengelus kedua pipi lelaki itu, sebelum kemudian mencium lelaki itu tepat di bibirnya. Hanya menempelkan saja, dan bukan untuk waktu yang lama, namun mampu membuat seorang yang cerdas seperti Cho Kyuhyun melongo layaknya orang bodoh. Sungmin terkekeh melihat ekspresi bodoh Kyuhyun di hadapannya.

Sungjin hampir saja tertawa melihat perubahan ekspresi wajah Kyuhyun, jika tak melihat Sungmin yang memberi isyarat kepadanya untuk diam.

“Dengarkan baik-baik, Cho Kyuhyun-ku tersayang. Aku mau menjadi istrimu. Aku mau menikah denganmu.”

T.B.C–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s