My Love (just) For You Chapter 6

My Love (just) For You

chapter 6

 

...

Presented by Kim Yeri

.

Genre :: Romance, Hurt

.

Rate : T

.

Warning : GS For Sungmin, Typo(s).

.

Disclaimer : KyuMin milik Tuhan, Orang tua mereka, SUPER JUNIOR,

ELF, JOYERS.

“Kyuhyun, sebenarnya kita mau kemana? Kenapa harus membawa pakaian sebanyak ini?” Sungmin terus bertanya pada Kyuhyun yang tengah sibuk mengemasi pakaian Sungmin. Sedari tadi lelaki itu, tak mau berbicara pada Sungmin. Tiba-tiba datang dan langsung mengemasi pakaian Sungmin.

Kemarin, setelah mendengar persetujuan Sungmin untuk menikah dengannya, selepas dari toko bunga, seketika itu juga Kyuhyun menelepon orang tuanya. Menanyakan apakah semuanya telah siap. Setelah itu, Kyuhyun menghampiri Kangin yang tengah beristrahat di rumahnya tanpa sepengetahuan Sungmin. Memberi tahu ayah dari gadisnya itu, bahwa ia akan menikahi Sungmin. Kangin yang tengah bersantai, terlonjak kaget ketika Kyuhyun menghampirinya dengan tergesa-gesa. Dan tanpa pikir panjang, Kangin langsung mengiyakan kemauan Kyuhyun untuk menikahi putrinya, melihat bagaimana raut wajah serius dari lelaki itu.

“Cho Kyuhyun! Kau terus mengabaikanku.”

Kyuhyun yang tak mau memberitahu Sungmin akan niatnya membawa gadis itu ke Seoul, menghela napas berat mendapati sikap merajuk Sungmin-nya itu.

“Kau hanya perlu ikut Lee Sungmin. Dan, hei..dengarkan aku.” Kyuhyun segera beranjak menghampiri Sungmin yang perlahan membuka pintu kamarnya, berniat untuk keluar.

“Lee Sungmin.”

Sungmin mencoba mengabaikan panggilan itu. Terus memutar kursi rodanya hingga sampai ke pintu utama rumahnya. Kyuhyun terus mengekorinya.

“Jangan mengikutiku! Aku membencimu, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun tersenyum mendengar bentakan ringan dari Sungmin. Baiklah, mari kita bermain-main sebentar.

“Baiklah. Lee Sungmin membenciku, ya? Hah…sepertinya aku tak jadi menikah kalau begini.” Sungmin terhenyak mendengar penuturan Kyuhyun. Namun, ia masih kesal. Toh, hal itu tak mungkin terjadi, kan?

“Yah. Lebih baik seperti itu. Aku tak mau menjadi istrimu.” Sungmin masih melanjutkan aksi merajuknya.

“Baiklah. Baiklah.” Kyuhyun berjalan masuk ke kamar Sungmin tepat saat gadis itu menoleh ke arahnya. Sungmin langsung memutar kursi rodanya. Secepat mungkin menghampiri Kyuhyun. Apa aku terlalu berlebihan? pikir Sungmin.

“Kyuhyun. Maaf, tadi aku hanya bercan..ya!!!” Sungmin seketika berteriak saat Kyuhyun yang baru saja keluar dari kamar, mengangkat tubuhnya.

“Ya!! Kita mau ke mana, Cho Kyuhyun?”

“Acara pernikahan, Sungmin sayang.”

Sungmin mengernyit. Pernikahan, dengan penampilan seperti ini?

“Ya!! Kyuhyun pabo! Pernikahan siapa? Aku tak pernah menerima undangan pernikahan. Lagipula, ini masih pagi. Siapa yang melangsungkan pernikaha sepagi ini? Dan lihatlah penampilan kita. Sangat tak pan..hmmphh.” ocehan Sungmin terhenti saat pria yang menggendongnya ini dengan lancang menabrakkan bibirnya pada bibir Sungmin.

“Kenapa kau jadi cerewet sekali, sih?” ujar Kyuhyun setelah melepaskan bungkamannya pada bibir Sungmin.

CUP

Belum sempat Sungmin melayangkan protes, Kyuhyun lagi-lagi mencium Sungmin.

“Jangan bertanya lagi.”

“Tapi, setidaknya kau memberitahuku kita akan ke ma….”

“Acara pernikahan kita. Sudah jelas Lee Sungmin?”

Sungmin hanya bisa ternganga dengan cantiknya mendengar ucapan Kyuhyun. Sudah tak memperdulikan lagi saat Kyuhyun mendudukkannya di sisi kemudi mobil.

–O–

Terlalu cepat bagi Lee Sungmin, ah sebentar lagi akan menjadi Cho Sungmin. Sangat cepat, bagaimana ia yang dibawa oleh Kyuhyun dari Nowon ke Seoul. Bagitu tiba di rumah Kyuhyun, ia langsung di dandani. Terus digiring ke sebuah gereja yang berada tak jauh dari kediamannya.

Sungmin yang masih belum bisa menyesuaikan dirinya pada keadaan, hanya bisa terdiam saat ia masuk ke gereja bersama dengan ayahnya yang membantu ia mendorong kursi rodanya. Di depan sana, ia bisa melihat lelaki yang dengan lancang membawa dirinya seenak hati itu, berdiri dengan gagahnya. Tersenyum sangat lembut saat menyambut kehadirannya di gereja ini.

Sungmin sudah tak bisa melihat yang lain lagi. Tak tahu siapa saja yang ada di dalam gereja ini. Matanya hanya tertuju pada lelaki yang ada di sampingnya sekarang ini. Lelaki itu, Kyuhyun menyambut tangan Sungmin yang diberikan oleh Kangin.

Jaga anakku baik-baik Cho Kyuhyun.

Sungmin bisa mendengarkan ucapan ayahnya itu. Saat itulah ia tersadar. Sebentar lagi ia akan menikah. Oh, ralat. Saat ini bahkan ia tengah melangsungkan pernikahan. Rasanya Sungmin ingin pingsan saja.

Setelah mengucapkan janji pernikahan, maka resmilah kedua orang ini sebagai suami istri. Sungmin menyadari, jika sejak tadi Kyuhyun terus menyunggingkan senyum terindahnya. Tampaknya lelaki itu sangat bahagia. Mengetahui itu, Sungmin tak bisa menahan air matanya. Kyuhyun yang tahu jika wanita yang sudah menjadi istrinya itu menangis, tersenyum sekilas sebelum berjongkok di hadapan Sungmin. Memutar kursi roda istrinya agar berhadapan dengannya.

Sungmin mengangkat wajahnya. Balas menatap Kyuhyun yang juga tengah menatapnya. Tanpa pikir panjang, Sungmin menangkupkan wajah Kyuhyun, lalu mengecup bibir suaminya itu dengan lembut. Para hadirin tersentak kaget mendapati tingkah Sungmin. Kyuhyun berkali-kali mengerjapkan matanya. Tak menyangka istrinya akan menyerang lebih dulu.

“Ya! Harusnya aku yang menciummu lebih dulu, Cho Sungmin!” Serentak gereja itu di penuhi tawa mendengar kalimat protes dari Kyuhyun. Sepertinya Cho Kyuhyun merasa dikalahkan oleh wanita bernama Lee Sungmin, ani Cho Sungmin ini. Oke, kau akan tahu rasanya jika berani menggoda Cho Kyuhyun. Tunggu saja Cho Sungmin.

–O–

Acara resepsi itu diadakan di rumah Kyuhyun. Tidak terlalu besar namun cukup meriah. Sungmin baru tahu jika sebagian murid lesnya ada di sini. Jongwoon dan Ryeowook serta Jongjin pun ada di sini, dan mereka tengah berbincang dengan Hyukkie dan Suaminya, Lee Donghae. Yah, sepupu Kyuhyun itu menikah dua tahun yang lalu.

Sungmin terus mengedarkan pandangannya melihat siapa saja yang ada di acara resepsi pernikahannya, hingga sepasang tangan yang Sungmin tahu milik suaminya, melingkar di lehernya.

“Cho Sungmin.”

“Hmm…”

“Saranghae.”

“Kau tahu jawabanku, kan?”

“Setidaknya kau mengucapkannya, kan.”

“Baiklah. Saranghae. Begitu yang kau mau?”

Kyuhyun mencebik. Beralih untuk berjongkok di hadapan Sungmin.

“Kau tak ikhlas, ya menikah denganku?”

“Aku sangat amat ikhlas Cho Kyuhyun sayang.” Sungmin mengusap dengan pelan wajah suaminya itu.

“Jika begitu, kau harusnya mengucapkan ‘Cho Kyuhyun sayang, suamiku tercinta, saranghae’ harusnya seperti itu.” Sungmin tertawa melihat wajah Kyuhyun yang bertekuk tekuk.

“Cho Kyuhyun sayang, suamiku tercinta, lelaki tampan dan baik hati, SARANGHAE. Jeongmal saranghae. Aku mencintaimu.”

Kyuhyun tersenyum sebelum mendaratkan ciumannya di kening Sungmin. Mengecupnya lama, sebelum akhirnya menurunkan ciumannya tepat di bibir Sungmin.

“Sepertinya pasangan pengantin baru ini melupakan tamu-tamunya, eoh?”

Sungmin tersenyum malu mendengar suara Heechul. Wanita itu tidak sendiri. Ada Hankyung dan Kangin bersamanya. Di belakang mereka, Jongwoon, Ryeowook, Jongjin, Hyukkie, dan Donghae, tertawa melihat raut wajah kesal Kyuhyun sementara sang istri tengah tersenyum malu disampingnya.

“Umma, mengganggu. Kalian juga.” Baiklah. Cho Kyuhyun kembali merengut karena merasa aktivitasnya diganggu oleh orang-orang ini.

–O–

2 bulan berlalu setelah pernikahan Kyuhyun dan Sungmin. Pasangan ini memilih tak berbulan madu, atau lebih tepatnya Sungmin yang tak ingin bebulan madu. Alasannya sudah pasti ia tak mau Kyuhyun meninggalkan pekerjaannya. Jika bertanya pada Kyuhyun, tentu saja lelaki itu ingin berbulan madu. Sangat ingin malah. Toh, ia bisa meminta cuti. Tapi, sepertinya Cho Kyuhyun hanya bisa bersabar menunggu Sungmin yang ingin berbulan madu. Hanya saja Kyuhyun kesal mendapat olok-olokan dari sepupunya, ditambah ummanya yang tak berhenti tertawa saat Sungmin menolak ajakannya untuk berbulan madu.

Kyuhyun yang semula tinggal sendiri di rumah yang ia beli di Nowon, akhirnya menetap di rumah Sungmin. Rumah yang ia beli dulu ia titipkan pada pembantunya untuk sesekali datang mengurusinya. Kyuhyun tak berniat untuk menjual rumah itu. Toh, jika kelak ia telah memilki anak, tak mungkin kan ia terus tinggal di rumah mertuanya?

Jika tak ada operasi, biasanya Kyuhyun telah ada di rumah saat waktu menunjukkan pukul 7 malam. Namun, lelaki itu telah memberitahu Sungmin terlebih dahulu jika ada operasi mendadak. Jadilah Sungmin di rumah di temani oleh ayahnya. Merasa bosan, wanita itu beranjak menghampiri cafe. Toko bunganya sudah ia tutup dua jam yang lalu.

Saat itu di cafe, cukup ramai. Belum sempat Sungmin masuk, dari kejauhan ia melihat Ryeowook yang sepertinya berjalan tertatih menuju ke arahnya. Wajar saja. Usia kehamilan wanita itu sudah memasuki bulan terakhir. Tinggal menunggu hari kelahiran saja. Sungmin terus memperhatikan Ryeowook. Sedikit heran saat melihat langkah wanita itu yang semakin melambat.

Sungmin yang berniat menghampiri Ryeowook terperanjat saat melihat tubuh wanita itu jatuh merosot di dekat mobil yang terparkir tak jauh dari tempat Sungmin.

“Jongwoon-aa!!!!! Jongwoon!!!!” Sungmin berteriak sekencang mungkin sebelum akhirnya mendorong kursi rodanya menghampiri Ryeowook yang tergeletak lemas di jalan.

“Ya, Tuhan! Wookie!! Apa yang harus ku lakukan.” Sungmin menangis. Tanpa pikir panjang, Sungmin menurunkan tubuhnya, duduk di samping Ryeowook yang tengah merintih kesakitan.

“Astaga!!! Wookie! Kau kenapa?!” Jongwoon yang langsung berlari setelah mendengarkan teriakan Sungmin, terkejut setengah mati melihat istrinya itu tergolek tak berdaya di hadapan Sungmin.

“Se-sepertinya….ak-aku akan melahirkan..hh..hh” Susah payah Ryeowook mengucapkan kalimat itu.

Mendengar ucapan Ryeowook, Jongwoon langsung berdiri untuk mengangkat tubuh istrinya. Agak bingung saat harus meninggalkan Sungmin yang sudah pasti tak bisa naik sendiri ke kursi rodanya.

“Cepat Jongwoon-a!! Bawa Ryeowook ke rumah sakit!” Teriakan Sungmin yang terdengar panik itu membuat Jongwoon segera berlari menghampiri mobilnya. Meskipun rumah sakit ada di ujung jalan sana, namun akan lebih cepat membawa istrinya jika ia menggunakan kendaraan.

Sungmin masih menangis setelah kepergian Jongwoon. Tubuhnya lemas. Beberapa orang memperhatikannya. Baru saja Jongjin yang berada di dalam cafe berniat menghampiri Sungmin, mengurungkan niatnya saat melihat Kyuhyun yang berlari dari arah rumah sakit.

Kyuhyun langsung duduk di hadapan Sungmin yang tengah terisak. Melihat suaminya datang, seketika wanita itu memeluk Kyuhyun. Membenamkan wajahnya di dada suaminya, mencoba meredam suara tangisnya.

“Hei..hei..kenapa menangis? Ryeowook tak apa-apa sayang.” Kyuhyun mengusap punggung istrinya perlahan.

“Aku takut, Kyu. Aku takut.”

“Sudah. Tak apa. Semuanya akan baik-baik saja. Memang sudah waktunya Ryeowook akan melahirkan sayang.”

Sungmin masih terisak. Kyuhyun dengan sabar menunggu hingga tangisan istrinya itu mereda. Setelah itu, barulah ia menyusul Jongwoon dan Ryeowook ke rumah sakit saat sebelumnya ia memberi tahu Kangin.

–O–

Sungmin sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari bayi yang tengah ada dalam dekapan Ryeowook itu. Bayi laki-laki yang tampan. Melihatnya saja sudah membuat Sungmin ingin menangis saking bahagianya. Ingin sekali rasanya ia mendekap bayi mungil itu.

“Selamat Ryeowook-ah. Akhirnya kau jadi ibu setelah menunggu tiga tahun lebih.” Ungkapan tulus itu terlontar dari mulut Kyuhyun. Jongwoon tengah mengurus biaya rumah sakit Ryeowook diluar. Orang tua Ryeowook beserta orang tua Jongwoon baru bisa datang besok, berhubung mereka menetap di Jepang.

Sejak memasuki ruangan di mana Ryeowook berada, Sungmin belum mengucapkan apa-apa. Ia hanya terlihat sesekali mengusap air matanya. Ryeowook hanya bisa tersenyum melihat Sungmin saat itu. Sementara Kyuhyun, entah apa yang tengah ia pikirkan saat memandangi istrinya.

“Kenapa di sini sunyi sekali? Tak ada yang berniat bicara, eoh?” Jongwoon yang baru saja masuk, memecah keheningan di ruangan itu. Tatapan Ryeowook dan Kyuhyun yang langsung mengarah pada Sungmin, membuat Jongwoon mengangguk. Lelaki itu lalu menghampiri Sungmin yang sama sekali tak mau mengalihkan pandangannya dari bayi laki-laki yang ada dalam dekapan Ryeowook.

“Kau ingin menggendongnya?” Pertanyaan Jongwoon itu akhirnya membuat Sungmin menengadah, menatap Jongwoon, kemudian Ryeowook, lalu suaminya. Terakhir ia mengarahkan pandangannya pada bayi itu.

“Bolehkah?” ujar Sungmin. Ketiga orang yang ada di sana, tersenyum mendengar pertanyaan Sungmin. Jongwoon pun perlahan mengangkat bayinya, meskipun agak kaku, namun ia harus membiasakan diri. Lelaki itu kemudian berjongkok di hadapan Sungmin.

“Cha, gendonglah. Dia keponakanmu, Min.” Dengan sangat hati-hati, Sungmin menerima bayi kecil itu. Mendekapnya perlahan di dalam pangkuannya. Sungmin tak kuasa menahan tangisnya.

“Kyu..Kyu…” Jongwoon segera berdiri, mempersilahkan Kyuhyun untuk duduk di hadapan istrinya saat mendengar sepupunya itu memanggil suaminya.

“Kenapa sayang?”

“Tangannya kecil, kakinya kecil, wajahnya kecil, astaga…semuanya..hiks..kecil Kyu. Aku takut menyakitinya.” Ryeowook tak kuasa menahan tangisnya. Terlalu bahagia. Jongwoon segera mendekap istrinya agar tenang.

“Memang begitu sayang. Semuanya akan tumbuh besar nanti, asal Jongwoon dan Ryeowook merawatnya dengan baik.” Kyuhyun mengecup pucuk kepala istrinya. Memberinya sedikit rasa tenang. Ia mengerti mengapa Sungmin begini. Sangat mengerti. Ia tahu, jika ini pertama kalinya Sungmin berurusan dengan orang yang baru melahirkan. Hal yang baru bagi sungmin melihat langsung bayi yang baru dilahirkan beberapa jam yang lalu.

Sungmin perlahan mencium kening bayi mungil itu. Tersenyum kala melihat bayi itu tidur dengan sangat tenang. Inikah rasanya memiliki seorang anak? Apakah sebahagia ini? Jika iya, Sungmin ingin. Ia sangat ingin memiliki anak.

–O–

“Kyuhyun, bagaimana jika kita punya anak?”

Kyuhyun yang sudah hampir memasuki alam mimpinya, tersentak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari istrinya. Tampaknya Sungmin terus memikirkan bayi Ryeowook.

Sugmin menengadahkan wajahnya untuk menatap Kyuhyun yang tengah memeluknya, saat merasa tak mendapat jawaban dari suaminya.

“Kau belum siap, ya?” Ada sedikit nada kecewa yang dapat Kyuhyun tangkap dari ucapan istrinya itu. Di tariknya Sungmin agar semakin merapat dalam pelukannya.

“Kata siapa aku belum siap? Kau pikir kenapa dulu aku bersikeras mengajakmu bulan madu? Tentu saja karena aku ingin segera membuat anak yang banyak.”

Sungmin terkekeh dalam dekapan Kyuhyun.

“Apa kau tak keberatan jika nanti kita memiliki anak? Waktu kita berdua akan berkurang.” Sungmin menarik kepalanya agar bisa bertatapan dengan Kyuhyun. Lagi.

“Pertanyaan bodoh macam apa itu? Berkurang bagaimana? Malah aku akan semakin sering bersamamu.” Kyuhyun sedikit menyentil dahi istrinya itu. Sedikit gemas melihat ekspresi istrinya yang tengah memanyun-manyunkan bibirnya.

“Kalau begitu, kita buat anak saja, Kyu. Sekarang.” Ucapan semangat dari Sungmin itu, mampu membuat Cho Kyuhyun membulatkan matanya. Ayolah. Meskipun mereka sudah cukup lama menjadi suami istri, namun belum sekalipun mereka melakukan hubungan intim itu. Salahkan saja tuan Cho Kyuhyun kita yang selalu pulang telat.

CUP

“Jangan menggodaku, sayang.”

“Aku tak menggodamu, Cho Kyuhyun. Aku memang menginginkan anak darimu.” Oh, shit. Kalimat itu terdengar sangat seksi di telinga Kyuhyun.

“Jadi kau mau melakukannya, hanya karena ingin memiliki anak?” Kyuhyun mencoba menetralkan suaranya. Biar bagaimanapun, dia tetap lelaki normal. Istrimu mengajak lebih dulu, siapa yang akan menolak, eoh?

CUP

Gantian sungmin yang mengecup bibir Kyuhyun.

“Tentu saja itu salah satu alasannya. Tapi, yang terpenting, aku mau melakukannya karena kau suamiku, dan karena suamiku adalah kau, Cho Kyuhyun yang sangat aku cintai, maka dari itu aku mau melakukannya.”

Sudah cukup Cho Sungmin. Kau tak menjelaskannya pun, Kyuhyun akan menerima dengan senang hati.

Tanpa berbicara lagi, Kyuhyun segera menyambar bibir istrinya. Merubah posisinya menjadi berada di atas Sungminnya. Semakin lama, ciuman yang berawal lembut itu, menjadi semakin dalam.

Sungmin sedikit tersentak saat suaminya semakin menggerakkan bibirnya dengan liar. Sekalipun mereka sering berciuman, namun jujur Sungmin tak pernah merasakan ciuman sepanas ini. Ia hanya bisa pasrah di bawah kungkungan suaminya.

Menyadari Sungmin yang kesulitan bernapas, membuat Kyuhyun melepaskan sejenak ciumannya. Beralih memandang istrinya yang tengah memejamkan matanya rapat-rapat seraya berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Kyuhyun ikut memejamkan matanya, sesaat setelah ia kembali mendaratkan sebuah ciuman lembut di dahi istrinya. Menciumnya lama. Sungmin membuka perlahan kedua matanya, merasakan ciuman lembut itu di dahinya. Sungmin tersenyum sebelum akhirnya Kyuhyun kembali mengecup bibirnya. Sungmin hanya bisa mencengkeram bahu Kyuhyun. Mencari pegangan atas semua sensasi yang ia rasakan.

Kyuhyun pun memeluk Sungmin dengan erat. Tak berniat sedikitpun untuk melepaskankan Sungmin-nya. Setidaknya untuk malam ini.

–O–

Seminggu belakangan ini, Sungmin dibuat kewalahan. Apapun yang ia makan, baik itu dalam jumlah banyak maupun sedikit, pasti akan ia muntahkan. Kyuhyun yang harus pergi ke Seoul untuk sebuah pelatihan selama dua minggu tak bisa menemaninya. Sungmin pun tak mau Kyuhyun khawatir, hingga ia sama sekali tak memberitahu suaminya itu tentang kondisinya. Berkali-kali Kangin mengajak anaknya itu untuk memeriksakan diri, namun, Sungmin selalu menolak. Alasannya, ia selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

Namun, kali ini, saat lagi-lagi Kangin mendapati anaknya itu memuntahkan makanannya, langsung saja pria itu membawa anaknya ke rumah sakit. Sungmin yang sudah sangat lemas, tak bisa menolak lagi.

–O–

“Jadi, benar dokter, jika anak saya hamil?” Kangin bertanya lagi dengan antusias. Sungmin yang berada di sampingnya sudah tak bisa menutupi kebahagiaannya lagi.

“Ye, tuan. Anak anda hamil. Usia kandungannya baru dua minggu.”

“Astaga, Min. Selamat, nak. Kau harus segera memberitahu suami dan mertuamu.” Kangin begitu bahagia mendengar berita baik ini. Di peluknya Sungmin dengan erat.

“Tapi, tuan.”

Suara dokter yang menginterupsi kegiatan Kangin dan Sungmin itu, membuat keduanya mau tak mau langsung menatap dokter yang ada di depan mereka.

“Tapi, kenapa dok? Apa ada masalah pada kandungan saya?”

“Begini, Sungmin-ssi. Apa sebelumnya kau pernah mengalami kecelakaan?”

Sungmin terdiam. Tiba-tiba pikirannya kembali pada masa di mana ia harus kehilangan fungsi kedua kakinya. Menyadari perubahan sikap putrinya, Kangin kemudian menatap sang dokter.

“Dulu, ia pernah terjatuh dari lantai tiga sekolahnya, yang membuat kakinya tak bisa berfungsi. Hubungannya dengan kandungan anak saya apa, dok?”

Pria itu sedikit membersihkan tenggorokannya. Mengambil sebuah kertas lalu menyerahkannya pada Kangin.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan kami, rahim anak anda mengalami sedikit kerusakan. Sebenarnya tak akan memiliki efek besar, jika saja anak anda tak menderita anemia.”

Sungmin menutup mulutnya. Mencoba menyembunyikan suara tangisnya. Kangin hanya bisa menatap nanar kertas ditangannya.

“Kehamilan nona Sungmin ini sangat rentan. Saya menyarankan agar nona Sungmin harus sesering mungkin mengontrol kandungannya.” Dokter itu beranjak. Mangambil sebuah kertas kecil, kembali duduk lalu menulis, yang tampaknya adalah sebuah resep obat.

“Untuk sementara, nona Sungmin harus mengonsumsi obat ini. Melihat riwayat kesehatan anda, anemia yang nona Sungmin derita, adalah penyakit turunan. Jadi, sangat memiliki resiko yang tinggi, nona Sungmin akan seperti ibunya saat ia hamil dulu.”

Kangin baru menyadari hal itu. Ia sempat melupakannya. Astaga! Bagaimana mungkin ini kembali terjadi pada putrinya? Apa yang sebenarnya Tuhan inginkan?

Sungmin masih terdiam. Sedikit membungkuk kepada sang dokter saat ia dan ayahnya akan keluar.

“Appa…”

“Iya, sayang. Ada apa? Ada yang sakit?”

“Ku mohon…jangan beritahu siapapun tentang masalah ini. Cukup aku dan appa saja yang tahu.” Sungmin bergerak memeluk ayahnya. Menumpahkan tangisnya di sana.

“Tapi, appa tidak mungkin menyembunyikan hal ini, apalagi dari suami…”

“Terutama Kyuhyun. Jangan memberitahunya. Jangan membuatnya khawatir. Aku mohon appa.” Isakan Sungmin semakin terdengar jelas, membuat Kangin tak tega mendengarnya

Kangin tak tahu harus melakukan apa. Sekarang ia hanya ingin menenangkan anaknya, juga dirinya.

T.B.C–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s