My Love (just) For You Chapter 7

My Love (just) For You

chapter 7

 

...

Presented by Kim Yeri

.

Genre :: Romance, Hurt

.

Pairing : KyuMin

.

Rate : T

.

Warning : GS For Sungmin, Typo(s).

.

Disclaimer : KyuMin milik Tuhan, Orang tua mereka, SUPER JUNIOR,

ELF, JOYERS.

 

Sungmin, berkali-kali mencoba memejamkan matanya, namun tampak sangat sulit. Beberapa hari belakangan ini, ia susah tidur. Apalagi ia harus tidur sendiri, tanpa ditemani Kyuhyun.

Seharusnya Kyuhyun sudah kembali kemarin, tapi tanpa memeberitahu lebih dulu, lelaki itu batal kembali. Sungmin sudah sangat rindu pada suaminya. Ditambah lagi dirinya yang tengah hamil muda. Benar-benar sangat membutuhkan Kyuhyun.

Sungmin menyadari itu. Ada yang menariknya ke dalam pelukan. Mengusap punggungnya perlahan agar ia terlelap. Sangat nyaman, hingga untuk memikirkan siapa yang memeluknya dengan lembut seperti itu pun, Sungmin tak sanggup. Sungguh, ia sangat menikmati helaan napas yang menyapu wajahnya.

–O–

Sungmin sedikit mengerjap saat cahaya matahari mengusik tidurnya. Cukup kaget saat menyadari ia berada dalam dekapan seseorang.

Sungmin ingat wangi tubuh ini. Hanya Kyuhyun nya yang memiliki wangi semenenangkan ini. Sungmin balas mengeratkan pelukannya. Tanpa berniat untuk membuka mata. Mencoba untuk melelapkan dirinya lagi.

CUP

“Tak perlu menghitung, Kyu. Aku sudah memelukmu.”

CUP

Sungmin susah payah membuka matanya saat sang suami kembali mencium kelopak matanya. DI dapatinya wajah yang sangat dirindukannya itu tengah menatapnya dengan sebuah senyum terukir di bibirnya.

“Aku merindukanmu, sayang.” Bisik Kyuhyun tepat di telinga Sungmin. Sungmin tersenyum kecil di balik pelukan Kyuhyun.

“Kenapa tak memberitahu kapan kau pulang? Aku menunggumu kemarin, tuan Cho.”

Wajah Sungmin merengut. Bibir kecilnya mengerucut lucu.

CUP

“Kau menggodaku, ya? Jangan pasang wajah seperti itu.”

“Aisshh…aku bertanya padamu tuan Cho! Jangan membahas masalah wajahku!”

Sungmin seketika membalikkan tubuhnya, memunggungi Kyuhyun yang tengah menahan tawa. Sungmin tengah merajuk rupanya.

Kyuhyun tak mencoba membalik tubuh sungmin agar menghadap ke arahnya. Lelaki itu lebih memilih menempelkan wajahnya di punggung Sungmin. Memeluk pinggang istrinya seraya perlahan mengelus perut Sungmin yang masih rata.

“Anak appa, apa kabar, hmm?” Sungmin tersenyum kecil mendengar ucapan suaminya. Diusapnya tangan Kyuhyun yang tengah mengelusi perutnya.

“Dia sehat appa. Sangat sehat.”

“Tak merindukan appa?”

Sungmin seketika membalik badannya. Menarik wajah suaminya, lalu mencium sekilas bibir suaminya itu.

“Dia sangat merindukanmu, Kyu. Sangat merindukanmu.” Kyuhyun mengusap wajah istrinya yang berurai air mata.

“Uljima, sayang. Aku juga merindukan kalian.”

“Jika seperti itu, kau tak boleh kemana-mana hari ini. Kau harus menemaniku.”

“Baiklah Cho Sungmin. Keinginanmu akan ku penuhi.”

Kembali kedua orang itu berpelukan erat. Melepaskan rasa rindu yang sempat menumpuk. Meski tak selama dulu, rindu itu tetap sama. Menyesakkan, namun membahagiakan.

–O–

“Aigoo….anakmu benar-benar mengikutimu Kim Jongwoon.”

“Tentu saja. Dia, kan anakku.”

“Tak menyisakan sedikitpun untuk Wookie, heh?” Sungmin kembali menciumi wajah Seunghyun, bayi laki-laki yang baru berumur 8 bulan. Bayi Jongwoon dan Ryeowook. Benar kata Sungmin. Seunghyun benar-benar duplikat dari ayahnya.

“Tak apa, Sungmin-ah. Toh, nanti ia akan mengikuti sifatku.”

“Lebih baik begitu. Aku tak akan terima jika anankmu ini mengikuti sifat ayahnya yang aneh.” Jongwoon mendelik mendengar kalimat sindiran dari sepupunya itu.

“Dengar Seunghyun-a. Jangan mau menjadi orang aneh seperti appamu, ne. Jadilah orang yang pandai seperti ummamu, dan aku.”

“Ya! Kau seolah-olah mengatakan jika aku ini bodoh.”

Ryeowook tertawa melihat Sungmin yang begitu seriusnya menemani Seunghyun bicara, tak memperdulikan suaminya yang tengah merengut kesal di sampingnya.

Bayi kecil yang berada di gendongan Sungmin itu, hanya sesekali menjulurkan tangannya, bermaksud menggapai wajah Sungmin. Mungkin bayi kecil itu gemas melihat wajah imut Sungmin.

“Kau lebih baik urusi pelanggan Kim Jongwoon. Berhenti marah-marah seperti itu.”

Jongwoon mendengus saat mendengar ucapan istrinya. Benar-benar tak ada niat membela suaminya yang tengah diolok-olok oleh Sungmin.

“Oh, ya. Bagaimana kabar kandunganmu, Min? Sudah memasuki minggu keempat, kan?”

“Ne, Wookie. Bayiku juga sehat.”

“Tak ku sangka kalian secepat itu menyusul. Kami yang menikah sejak dua tahun yang lalu baru bisa memiliki anak sekarang.” Jongwoon kembali bergabung dengan kedua wanita itu.

“Itu masalahmu.” Sungmin mengangkat wajahnya, kali ini menatap Jongwoon. “Kau saja yang tak bisa menghamili Ryeowook secepatnya.”

“Sudah-sudah. Jangan memulai lagi. Lebih baik kau kembali ke tempatmu, yeobo.” Ryeowook kembali menengahi kedua orang ini. Jika tidak, akan semakin panjang urusannya.

“Wookie, jika nanti anakku lahir dan ternyata dia perempuan, kita jodohkan saja anakmu dengan anakku.”

“Mana boleh begitu Lee Sungmin. Kau itu sepupu suamiku. Anakku dan anakmu sudah jelas memiliki hubungan darah.”

Sungmin terkekeh. Menyadari pemikiran gilanya, yang ia sendiri tak tahu mengapa tiba-tiba mengatakan hal itu.

“Haha…aku bercanda Ryeowook-ah.”

Menyadari gelagat Sungmin yang berbicara padanya namun sama sekali tak menatap ke arahnya, membuat Ryeowook yakin, ada yang tengah dipikirkan oleh wanita itu.

“Sungmin-a”

“Hmm..”

“Bukan pertama kalinya aku melihatmu begini.”

Sungmin menoleh ke arah Ryeowook. Sedikit mengerutkan keningnya.

“Maksudmu?”

“Apakah ada sesuatu yang menjadi beban pikiranmu? Kau menyembunyikan sesuatu?” cerca Ryeowook, yang membuat Sungmin tak berani menatap wanita di sampingnya itu.

Apakah terlihat begitu jelas?
“Kau bicara apa Wookie-a? Aku baik-baik saja. Aku memang memikirkan sesuatu. Dan itu hanya tentang kandunganku. Aku juga tak menyembunyikan apapun.”

Ryeowook menghela napas. Sungmin tak akan langsung memberitahu apa yang tengah dipikirkannya.

“Lupakan saja. Aku hanya bercanda tadi.”

Mianhae Ryeowook-ah. Kau tak perlu ikut menanggung bebanku dengan mengetahui hal apa yang tengah ku hadapi.

–O–

“umma?? Kenapa tak memberitahu jika akan datang?” Sungmin sesegera mungkin menyambut mertuanya yangpagi itu tiba-tiba muncul di rumahnya. Heechul menghampiri Sungmin, memeluk wanita yang tengah mengandung cucunya itu.

“Lalu,kenapa jika umma memberitahumu? Kau akan menjemput umma begitu?” Heechul memandangi Sungmin yang tersenum kecil.

“yah, setidaknya menyiapkan sesuatu.”

“Tak penting. Kau, kan tahu. Kedua appamu tengah ke Jeongju. Umma sendiri di rumha. Kau enak, ditemani oleh anakku.” Sungmin jadi tak enak hati melihat sang umma yang tengah mengerutkan wajahnya.

“Mianhae umma. Karena aku, kau jadi kehilangan banyak waktu bersama anakmu.” Terdengar sekali jika Sungmin sangat merasa bersalah dari nada suaranya. Heechul tertawa kecil melihat tingkah Sungmin.

“Ya! Kau ini bicara apa? Umma bercanda. Jangan menganggapnya seriud seperti itu.”

Heechul melangkah masuk sambil membantu Sungmin mendorong kursi rodanya.

“Sungmin-a.”

“Ne, umma. Waeyo?”

“Kau sudah pernah berbelanja untuk keperluan anakmu nanti?”

“Belum umma. Kyuhyun sangat sibuk akhir-akhir ini. Jongwoon dan Ryeowook apalagi.”

“kalau begitu, hari ini kita pergi berbelanja saja. Eotte?”

“Tapi, umma baru tiba. Tak ingin istrahat dulu?”

“Umma tak setua yang kau pikir, sayang. Umma ini masih tetap wanita yang tak punya rasa lelah, asal kautau saja. Sudah..sudah. Lebih baik kita bersiap-siap.”

–O–

Selama seminggu, Heechul terus menemani Sungmin. Hari pertama mereka pergi berbelanja. Hari kedua berwisata kuliner. Hari ketiga, Heechul membawa Sungmin ke tempat senam untuk orang hamil. Namun, Sungmin tak mau melanjutkan senam untuk orang hamil itu. Bukannya tak mau, tetapi Kyuhyun melarangnya. Itu disebabkan karena setelah kembali dari senam, Sungmin tiba-tiba demam. Heechul sempat panik dan sangat merasa bersalah.

Kandungan Sungmin sudah memasuki bulan ke delapan. Sebulan lagi, dan anaknya akan lahir. Kyuhyun maupun Sungmin sepakat untuk tak mengetahui jenis kelamin anaknya. Selama Sungmin melakukan USG, sekalipun ia tak berniat untuk melihat atau sekedar tahu jenis kelamin anaknya. Ia melakukan USG hanya untuk mengetahui apakah kandungannya baik-baik saja.

Hari ini, Heechul kembali ke Seoul, karena Hankyung dan Kangin telah kembali. Kembali Sungmin ditemani oleh Kangin selama ia di rumah.

“Sungmin-a. Appa mau keluar sebentar. Akan ku panggilkan Ryeowook menemanimu.”

Sungmin hanya mengangguk. Tampaknya wanita itu begitu menikmati tontonannya.

Tak lama setelah kepergian Kangin, Ryeowook datang bersama dengan Seunghyun.

“Annyeong Sungmin ahjumma. Seunghyun datang.”

Sungmin mengalihkan perhatiannya dari tvyang tenga menayangkan acara musik itu. Merentangkan tangannya, yang berarti ia meminta untuk menggendong Seunghyun.”

“Annyeong sayang. Apa kabarmu, eoh?” Sungmin mencium hidung kecil keponakannya itu. Ikut tertawa saat bayi itu tertawa dalam pelukannya.

“Mianhae baru mengunjungi mu lagi. Aku tak pernah keluar ruamh seminggu yang lalu.”

“Harusnya aku yang minta maaf. Tak datang menjenguk anakmu ini.”

Ryeowook mengambil alih remot tv. Mencari-cari saluran yang bisa ia tonton. Sesekali di perhatikannya Sungmin yang tengah asyik bermain dengan anaknya.

Ryeowook sedikit mengamati wajah Sungmin. Agak heran saat menyadari jika wajah wanita itu sangat pucat. Setahunya, wanita yang hamil muda saja yang kan terlihat pucat seperti itu. Dan lagi, Sungmin terlihat begitu lemah.

“Kenapa menatapku seperti itu?” Sungmin sadar sedari tadi Ryeowook memandanginya, mengabaikan acara tv di hadapannya.

“Tidak. Aku hanya bingung.”

Dahi Sungmin mengerut. Kali ini ia memalingkan wajahnya ke arah Ryeowook yang tengah menatapnya serius.

“Bingung karena apa? Aku?”

Ryeowook mengangguk.

“Kau tak sakit, kan? Kenapa begitu pucat seperti ini?”

Sungmin terdiam sesaat, sebelum ia tersenyum.

“Kau tak tahu, ya kalau aku ini menderita anemia?”

Ryeowook menggeleng.

“Aku pucat karena anemia ku, Wookie-ah. Dan kata dokter, ini bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.” Sungmin berbohong, tentu saja.

“Kau yakin? Apa benar begitu? Tak ada dampaknya pada kandunganmu, kan?”

Sungmin tersenyum. Memberikan Seunghyun pada Ryeowook, sebelum menggenggam tangan wanita itu.

“Tenang saja. Tak akan terjadi apa-apa. Ini hal wajar.”

Ryeowook mencoba untuk menerima hal yang dikatakan Sungmin meski hatinya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan Sungmin.

–O–

“Kau tahu sayang? Umma sudah tak sabar ingin melihatmu”

Sungmin tengah mengelus perutnya. Seolah-olah tengah berbicara dengan anaknya yang masih berada di dalam kandungan. Ia sedang menunggu Kyuhyun pulang.

Sungmin yang masih sibuk berbicara sendiri, tak menyadari jika pintu kamarnya terbuka sejak tadi. Kyuhyun, yang baru saja datang, tak langsung menghampiri istrinya. Ia lebih memilih memeperhatikan istrinya yang terlihat sangat serius berbicara pada perutnya.

Kyuhyun tak bisa menahan senyumnya selama mengamati aktivitas Sungmin. DI saat yang bersamaan, istrinya itu terlihat sangat dewasa dan menggemaskan. Bagaimana wanita itu dengan polosnya berbicara banyak pada anaknya yang masih berada di dalam perut.

Grep

Pelukan di leher Sungmin, seketika menghentikan ocehan yang keluar dari mulutnya.

“Kau sudah pulang?”

Kyuhyun berjalan ke hadapan Sungmin.

CUP

Sungmin mengelus pipi suaminya yang tengah mencium keningnya itu. Tak lama, Kyuhyun berjongkok.

CUP

Kembali laki-laki itu mendaratkan sebuah ciuman yang kali ini pada perut besar Sungmin.

“Apa kabar anak appa, hmm? Baik-baik saja, kan?”

Sungmin mengangguk, meski tahu Kyuhyun tak melihatnya. Kyuhyun tengah menyandarkan kepalanya pada perut Sungmin. Mencoba merasakan pergerakan, atau mungkin suara dari dalam sana. Sungmin mengusap pelan kepala Kyuhyun.

“Aku tak sabar menunggunya lahir, Min.” Ujar Kyuhyun, kali ini lelaki itu menengadahkan wajahnya guna untuk menatap istrinya.

“Aku juga, Kyu.”

Kyuhyun sedikit membenarkan duduknya. Meraih Sungmin ke dalam dekapannya.

“Gomawo, sayang. Kau selalu memberikanku kebahagiaan yang tak pernah habis.” Kyuhyun sesekali menciumi bahu istrinya. Sedikit menghirup aroma yang sangat ia sukai dari sana.

“Aku bahkan lebih bahagia karena memilikimu, Kyu. Terima kasih karena tak pernah melepaskanku.”

Kyuhyun tersenyum. Dilepaskannya pelukan pada Sungmin. Memegang bahu istrinya itu.

CUP

Ciuman singkat di bibir Sungmin kembali Kyuhyun daratkan.

“Saranghae, Cho Sungmin.”

“Nado…saranghae Cho Kyuhyun. Malam ini kau harus memelukku terus.”

“Jangankan malam ini. Sampai seterusnya pun aku akan memelukmu terus.”

Kyuhyun lalu mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjanga. Setelah membersihkan dirinya, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Sungmin. Menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Membuat wanita itu senyaman mungkin dalam tidurnya.

“Jaljayo…”

–O–

Pagi itu, Sungmin tengah sibuk menulis sesuatu pada kertas-kertas kecil berwarna. Menempelkan satu persatu kertas itu pada pintu kulkas.

Kyuhyun yang baru saja keluar dari kamar dan tengah bersiap-siap untuk ke rumah sakit, menghampiri istrinya yang terlihat tengah sibuk.

Cup

Kyuhyun mengecup kening Sungmin yang baru saja selesai menempelkan kertas terakhir di pintu kulkas. Kyuhyun tak begitu memperhatikan apa yang ditulis oleh istrinya. Matanya tertuju pada kaki istrinya. Sedikit menyunggingkan senyum lucu sebelum mengusap kepala Sungmin.

“Kau mendapatkannya dari mana? Ku kira kau tak suka?”

Sungmin memandang kakinya yang tengah memakai sepatu olahraga. Wanita itu terkekeh. Ditatapnya sang suami yang juga tengah menatapnya.

“Umma memberikanku ini saat aku akan pindah ke Nowon. Maaf, baru memakainya sekarang, Kyu.”

“Tak apa. Kau tak memakainya pun tak akan membuatku berhenti mencintaimu Cho Sungmin.”

Sungmin tersenyum kala mendengar penuturan Kyuhyun yang sepertinya berlebihan. Dilihatnya Kyuhyun yang tengah mengedarkan pandangannya.

“Appa keluar pagi-pagi sekali. Katanya ia akan ke Seoul.”Sungmin memberitahu Kyuhyun seakan tahu apa yang akan ditanyakan oleh suaminya.

“Tak apa kau sendiri di rumah?”

“Ryeowook akan ke sini sebentar siang. Kau tenang saja.”

“Baiklah, aku berangkat dulu. Ada operasi pagi ini.”

Sungmin tersadar jika suaminya belum sarapan.

“Kyu..sarapan…”

“Nanti saja sayang. Aku bisa makan di rumah sakit.” Kyuhyun sekali lagi mencium kening lalu bibir istrinya. Tak lama lelaki itu menghilang di balik pintu.

“ Ya sudahlah. Kau bisa memakannya saat pulang nanti.” Sungmin menggumam, seraya menutup sarapan yang ia siapkan untuk suaminya itu.

–O–

Sungmin POV

Membosankan berdiam diri seperti ini. Apa Ryeowook masih lama? Aku harus melakukan apa sekarang.

Ku edarkan pandanganku, saat tak sengaja melihat rak buku di ujung ruangan ini. Buku-buku di sana berantakan. Bahkan ada yang terjatuh di lantai.

Hmm..jika bukan appa, sudah pasti Kyuhyun. Dasar. Kedua laki-laki itu sama saja. Tak sabaran jika tengah mencari sesuatu.

Ku gerakkan kursi rodaku menuju rak buku itu. Sesampainya di sana, satu persatu, ku ambil buku yang tergeletak begitu saja di lantai. Menaruhnya kembali di tempat yangseharusnya. Satu buku lagi. Namun, temaptnya begitu tinggi. Aku bisa menjangkaunya jika bisa berdiri.

Tak ingin pekerjaanku hanya ku lakukan setengah-setengah, ku coba untuk berdiri. Aku memang tak bisa berjalan, tapi jika berdiri, selama ada tumpuan aku bisa melakukannya.

Baru saja berdiri, seketika rasa pusing menyergap kepalaku. Aku tak bisa melihat dengan jelas. Di tambah lagi rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di sekitar perutku.

Aku tahu ini belum waktunya aku melahirkan. Tapi, kenapa tiba-tiba rasa sakit ini muncul. Aku tak sanggup menahannya, hingga setelah melihat keadaan di sekitarku berputar, aku tak ingat apalagi yang terjadi selain gelap.

–O–

Ryeowook berjalan masuk ke dalam rumah. Ia tak membawa Seunghyun. Anaknya itu tengah bermain dengan Jongjin cafe.

“Sungmin-a. Kau ada di dalam, kan?”

Sedikit heran saat tak melihat Sungmin di tempat biasanya wanita itu menonton tv. Di edarkannya pandangannya, saat tak sengaja melihat kursi roda Sungmin di depan rak buku. Ia tak bisa melihat lantai karena terhalang meja makan.

“ASTAGA!! LEE SUNGMIN!!”

Teriakan itu terdengar bertepatan saat Ryeowook mendapati Sungmin yang tengah tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Bisa dilihatnya jika ada darah yang mengalir pada paha Sungmin. Ryeowook mengeluarka hpnya. Mencoba meredam tangisnya. Entah kenapa, perasaanya terus tak tenang seperti ini.

“Jongwoon-a..Sungmin. Cepat kemari!” Ryeowook tak sanggup berbicara panjang lebar.

“Sungmin. Bangun Lee Sungmin. Ku mohon.” Ryeowook menangis sejadi-jadinya.

BRAK

Pintu yang di buka dengan tiba-tiba itu membuat Ryeowook menoleh. Dilihatnya Jongwoon yang berlari.

“Cepat, Jongwoon-a.” Tanpa berbicara lagi, Jongwoon mengangkat tubuh sepupunya itu. Ryeowook dengan cepat mengikuti Jongwoon yang berlari keluar.

Ku mohon Sungmin. Bertahanlah, aku mohon.

 

 

 

–T.B.C–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s