[ff KyuMin] I Just Wanna Love You

I just Wanna Love You

Oneshoot

 

...

Presented by Kim Yeri

.

Genre :: Hurt, Romance

.

Rate : T

.

Pairing : KyuMin

.

Warning : GS For Sungmin, Typo(s).

.

Disclaimer : KyuMin milik Tuhan, Orang tua mereka, SUPER JUNIOR,

ELF, JOYERS, dan saya. Tapi, kalau Yesung hanya milikku seorang :*

 

Tujuh tahun yang lalu aku mengenal perasaan ini. Hanya dia satu-satunya yang bisa menghadirkan rasa ini. Dia yang memberiku perasaan seperti ini.

Tujuh tahun yang berlalu, dan ternyata perasaan itu masih sama. Bereaksi saat ia berada di sekitarku. Saat telingaku mendengar suaranya. Saat mataku tak sengaja menangkap bayangannya. Semuanya mengingatkanku pada tujuh tahun yang lalu. Tepat di saat aku menyadari rasa itu dan menjaga rasaa itu agar terus berada di dalam hatiku.

Cho Kyuhyun. Aku tak tahu apa yang dilakukan oleh namja itu. Dengan tiba-tiba aku mencintainya. Jangan tanyakan alasan apa yang membuatku mencintai namja itu. Semuanya tiba-tiba. Saat aku memasuki masa di mana mulai mengenal apa itu cinta, yang hadir di dalam pikiranku adalah dirinya. Nama yang terpatri di otakku adalah namanya.

Selama tujuh tahun, tak sekalipun rasa yang ku miliki untuknya berubah. Selama tujuh tahun pula aku hanya bisa memendamnya. Merasakannya sendiri. Tak ada yang tahu. Ku rasa memang hanya aku dan Tuhan yang tahu perasaanku terhadap namja itu.

Aku tak pernah mempermasalahkan, apakah aku memiliki cinta sendiri. Aku hanya ingin mencintainya saja. Tak peduli apakah suatu saat dia akan mencintaiku juga. Aku hanya menuruti keinginan hatiku yang tak mau berhenti mencintai namja itu.

–O–

“Umma. Jangan lewat di depan rumah Heechul ahjumma lagi. Minnie takut.”

Gadis kecil berusia 6 tahun itu merengek di depan pintu rumahnya. Ia yang bersama dengan sang umma hendak pergi berbelanja. Karena rumah mereka berada di sebuah kompleks, dan untuk menumpangi bus, mereka harus berjalan keluar. Memang tak jauh, hanya saja ada satu rumah yang tak ingin di lalui oleh gadis kecil itu.

“Tak apa Minnie. Kan, ada umma.”

“Tapi, umma…”

Leeteuk meraih tangan putri kecil, sambil tersenyum manis kepada anaknya. Seolah memberitahu tak akan terjadi apa-apa.

Ibu dan anak itu pun berjalan dengan santai. Tepat sebelum sampai di jalan besar, seorang bocah lelaki yang seumuran dengan Sungmin tiba-tiba berlari keluar dari dalam rumahnya. Berhenti tepat di tengah jalan.

“Umma. Minnie bilang juga apa. Dia tak akan membiarkanku lewat lagi.” Sungmin sudah hampir menangis. Leeteuk hampir tertawa jika tak kasihan melihat anankya yang ketakutan. Belum sempat menenangkan anaknya, Leeteuk melihat Heechul keluar pula dari rumahnya.

“Teukkie!!!” Leeteuk langsung saja berjalan menghampiri sahabatnya itu saat namanya dipanggil. Ia meninggalkan anaknya yang sempat bersembunyi di belakangnya.

“Umma!!! Tunggu Minnie, umma!!”

“Ya!! Kau mau ke mana?” Aku, kan sudah bilang. Tak boleh lewat di depan rumahku jika  tak ada izin dariku.”

Sungmin mencoba memberanikan dirinya. Di berikannya tatapan tajam pada bocah laki-laki di hadapannya itu.

Sementara kedua umma anak kecil ini sibuk berbicara, Sungmin dan Kyuhyun saling memandang tajam. Kedua anak itu mengambil gaya yang sama, menaruh kedua tangan mereka di pinggang. Menunjukkan jika tak ada yang takut satu sama lain.

“Ya! Cho Kyuhyun jelek! Aku tak takut padamu. Sebelumnya aku memang tidak berani lewat di depan rumahmu. Tapi, kali ini aku akan melawanmu.”

“Coba saja kalau kau berani Lee Sungmin jelek!”

Sungmin secepat mungkin berlari, berniat untuk melewati tubuh namja itu, tapi sayangnya Kyuhyun telah siap di tempatnya. Saat Sungmin berlari ke arahnya dan berniat melaluinya, namja kecil itu dengan sigap merentangkan tangannya.

Tanpa pikir panjang, Kyuhyun langsung memenjarakan Sungmin dalam kungkungannya. Sungmin yang tak terima di lumpuhkan seperti itu, sekuat tenaga menggoyang-goyangkan badannya agar lepas dari pelukan Kyuhyun. Namun, kedua anak kecil ini tak sadar jika mereka berdua semakin berjalan ke pinggir jalan, hingga….

GUBRAK!!!

“ADUHHH!!!”

Kyuhyun dan Sungmin mengaduh kesakitan secara bersamaan saat mereka terjerembab ke dalam selokan, yang untung saja tengah kering.

Tampaknya kedua umma cerewet mereka tak mendengar dan tak tahu apa yang terjadi pada kedua anak itu.

Sungmin sudah bersiap marah saat matanya menangkap sesuatu yang aneh di atas kepala Kyuhyun.

“BWAHAHAHA!!!!”

Tawa nyaring itu meledak saat Sungmin tahu yang ada di atas kepala Kyuhyun adalah kulit pisang. Kyuhyun melongo melihat yeoja itu tertawa sambil menunjuk-nunjuk kepalanya. Penasaran, Kyuhyun meraba kepalanya. Terkejut saat menemukan sebuah kulit pisang bertengger dengan indahnya di atas kepalanya.

Sedikit menggeram karena kesal di tertawakan, Kyuhyun melemparkan kulit pisang itu ke arah Sungmin. Namun, Sungmin yang tahu Kyuhyun akan melempar kulit pisang itu padanya, dengan sigap menangkap kulit pisang itu.

Sungmin terus saja tertawa. Kyuhyun yang awalnya kesal, jadi ikut tertawa melihat yeoja di hadapannya itu tertawa dengan begitu bahagianya. Sampai-sampai air mata gadis kecil itu keluar saking semangatnya dia tertawa. Mereka berdua tak peduli pada luka di tangan dan kaki mereka.

Biasanya jika telah bertengkar dengan Kyuhyun, Sungmin akan menangis. Baru kali ini, yeoja kecil itu tertawa saat bersama Kyuhyun. Baru kali ini yeoja kecil itu merasa bahagia saat bersama Kyuhyun.

–O–

Aku mengenalnya sudah sangat lama. Bisa dibilang sejak kami masih kecil. Keluargaku dan keluarganya memiliki hubungan yang baik.

Sebelum aku menyadari perasaan itu, aku dan Kyuhyun pun bisa di katakan akrab meski dalam artian selalu bertengkar. Namun, setidaknya kami saling mengenal baik sebelum aku pindah ke kota di mana nenekku tinggal, tepatnya di Jeongju-do.

Hampir tujuh tahun aku tak pernah lagi bertemu dengannya.

Aku sempat berpikir saat akan kembali lagi ke rumah appa dan ummaku. Mungkin aku akan bertemu dengannya lagi. Mungkin aku akan akrab dengannya lagi. Karena aku dan dia bukan lagi anak kecil, mungkin hubungan pertemanan kami akan lebih baik dari sekedar sering bertengkar.

Ku pikir begitu.

Saat aku telah kembali tinggal bersama appa dan umma, kemungkinan bertemu dengan Kyuhyun terbuka lebar. Meski akhirnya aku kembali tak bersekolah di tempat yang sama dengannya, setidaknya kami tinggal di kompleks yang sama. Kami akan sering bertemu lagi. Memulai kembali kisah pertemanan kami.

Ku pikir begitu.

–O–

Sungmin memperhatikan Kyuhyun yang tengah memperbaiki sepedanya. Sudah sejak setengah jam yang lalu, dan Sungmin belum berani menghampiri namja itu.

Sungmin sangat ingin menyapanya. Sudah sangat lama mereka tak bertatap muka, tak saling menyapa.

Sungmin sadar. Saat untuk pertama kalinya lagi melihat Kyuhyun, ia tahu ada yang berbeda. Padanya dan juga pada Kyuhyun. Selain fisik yang semakin bertumbuh, entah bagaimana, Sungmin merasakan hal yang aneh terjadi pada jantungnya.

Baru saja melihat namja itu, dengan lancang, jantungnya berdebar keras. Menghentak dengan cepat seolah ingin berlari. Sungmin tak tahu rasa apa itu. Ini yang pertama dan anehnya ia rasakan di saat ia akhirnya bisa melihat Kyuhyun lagi. Bahkan di jarak yang bisa di katakan cukup jauh, jantung Sungmin bereaksi dengan sangat tidak wajar karena namja itu.

Itulah mengapa gadis itu merasa enggan untuk menghampiri Kyuhyun. Berada pada jarak yang jauh saja, ia sudah berdebar tak karuan seperti ini, bagaimana jika telah bertatap muka langsung dengan namja itu. Tidak menutup kemungkinan jika ia akan pingsan.

“Kenapa diam saja. Katanya kau mau ke rumah Kyuhyun?”

Jika saja Sungmin memiliki penyakit jantung, mungkin sekarang ia sudah dilarikan ke rumah sakit, disebabkan sangumma yang sebenarnya tak berniat mengagetkan, namun bagi Sungmin sudah sangat mengejutkan. Leeteuk yang menyadari ekspresi keterkejutan putrinya hanya bisa menahan senyumnya.

“Ya sudah. Umma akan ke rumah Kyuhyun. Terserah kau mau ikut atau tidak.”

Leeteuk dengan santainya berlalu dari hadapan anaknya yang masih terpaku di tempatnya.

“Aku harus bagaimana?” gumam Sungmin.

Beberapa lama tertunduk, Sungmin akhirnya mengangkat wajahnya. Namun, alangkah kagetnya ia saat tak sengaja melihat ke arah Kyuhyun. Namja itu tengah menatap ke arahnya. Meski jauh, Sungmin bisa merasakan tatapan tajam itu.

“Ya Tuhan. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?”

–O–

Aku salah.

Sejak hari di mana akhirnya aku bisa melihatnya lagi, aku tak pernah dan tak sekalipun berbicara dengan Kyuhyun.

Dia berubah banyak.

Aku akui dia semakin tampan di usia pertumbuhan ini. Dan aku akui, aku akhirnya merasakan apa itu yang disebut dengan jatuh cinta. Ya. Aku jatuh cinta padanya.

Tapi, sepertinya ini akan jadi kisah cinta pertama yang tak akan kesampaian.

Aku bukannya pesimis, tapi aku sudah katakan. Ia berubah banyak.

Dia yang dulu sangat suka menggangguku, berubah menjadi namja yang begitu dingin.

Saat melihatnya yang menatapku tajam saat itu, entah mengapa aku merasa ia memberi batas antara aku dan dirinya. Seolah-olah menolakku masuk kembali dalam hidupnya.

Aku tak tahu apa yang telah terjadi selama aku pergi, tapi aku yakin jika Kyuhyun berubah.

Dan aku sadar. Sepertinya cinta pertamaku ini akan jadi cinta sendiri yang tak akan terbalas.

Bicara saja kami tak pernah, bagaimana mungkin bisa memiliki perasaan yang sama.

Sepertinya aku akan sakit hati bahkan di saat aku baru merasakan cinta.

–O–

“Ku dengar Cho Kyuhyun berpacaran dengan Victoria.”

“Benarkah? Victoria anak Song songsaengnim?”

“Iya. Mereka memang satu sekolah dan sekelas. Tapi, anehnya, bahkan di luar sekolah pun mereka selalu bersama.”

“Bagaimana nasib Hyuna, ya? Aku pikir dia dan Kyuhyun sudah berpacaran sebelumnya.”

Sungmin hanya diam mendengar sekumpulan temannya tengah membicarakan Kyuhyun.

Meskipun tak satu sekolah, namun siapa yang tak kenal Kyuhyun. Siswa berprestai bukan hanya di bidang akademik, namun juga jago di bidang olahraga.

Bukan yang pertama kalinya Sungmin mendengar cerita Kyuhyun dengan yeoja. Sejak ia baru duduk di bangku tingkat pertama sekolah menengah hingga sekarang ia telah berada di tingkat akhir sekolah menengahnya, cerita seperti itu sudah sangat sering ia dengar.

Sebelumnya ada yeoja bernama Tiffany, lalu Haneul. Tak lama Hyuna dan sekarang Victoria. Dan semua gadis-gadis itu adalah siswi yang tak kalah terkenalnya dari Kyuhyun, dan beruntungnya mereka, para gadis-gadis itu bersekolah di tempat yang sama dengan Kyuhyun.

“Sungmin-a. Ku dengar kau berteman dengan Kyuhyun saat kecil, kan?”

“Bahkan yang ku dengar, kau juga tinggal satu kompleks dengan namja itu.”

Sungmin memandang malas kedua yeoja di hadapannya.

“Wokkie. Kau benar. Kami berteman saat kecil. Tepatnya teman berkelahi. Dan ingat. Te-man sa-at ka-mi ke-cil. Dan, Hyukkie, kau juga benar. Aku tinggal di kompleks yang sama dengan Kyuhyun.”

Kedua yeoja itu sedikit terlejut, namun sejurus kemudian mereka berdua mengangguk.

“Tapi, kenapa sekarang kau tak berteman lagi dengannya. Ku kira umma mu dan umma Kyuhyun bersahabat.” Tanya Hyukjae.

“seandainya bisa, aku ingin berteman dengannya. Ingin akrab dengannya”

Ryeowook dan Hyukjae mengerutkan keningnya, saat menangkap sesuatu yang aneh dari ekspresi Sungmin saat berbicara tadi.

“Jangan bilang kau menyukai namja itu?” tebak Ryeowook.

“Benar begitu, Sungmin-a?” Hyukjae ikut bertanya. Sungmin hanya tersenyum samar.

Aku bukan hanya menyukainya Ryeowook-ah, Hyukkie-ah. Aku bahkan mencintainya.

–O–

“Ini menyenangkan!” pekik Hyukjae. Matanya mengedar dengan liar memperhatikan siswa dan siswi di depannya.

“Aku tak sabar menyelesaikan pekerjaan kita. Yesung oppa pasti telah menungguku.” Timpal Ryeowook.

Sekolah mereka tengah mengadakan sebuah festival karena sebentar lagi ujian kelulusan bagi siswa tingkat akhir.

Karena festival ini di buka untuk umum, dan memang dikhususkan mengundang siswa-sisiwi dari sekolah lain, tentu saja terlihat begitu ramai dan meriah.

Kelas Sungmin yang memakai konsep cafe, sejak festival di mulai, semua siswa kelas itu sibuk melayani tamu. Dan Sungmin yang menjadi salah satu kokinya, cukup kerepotan menghidangkan makanan.

Acara puncaknya, yaitu pementasan kembang api, baru akan di mulai pukul 00.00 KST. Masih sekitar tiga jam lagi.

Sungmin POV

Cafe kelasku baru saja tutup. Kami untung banyak di festival ini. Tak ku sangka jika akan banyak yang datang ke cafe kami.

Sembari menunggu pementasan kembang api, aku memutuskan berkeliling di halaman sekolah. Ada banyak gerai di sana.

Aku berjalan sendiri, karena kedua temanku, Ryeowook dan Hyukjae sudah bergegas duluan untuk menemui namjachingu mereka masing-masing.

Langkahku terhenti saat ku rasa jantungku berdebar keras. Aku mendengar suara Kyuhyun. Tak jauh dari tempatku berdiri.

Dan benar saja. Tak lama aku melihat sosoknya yang tengah berjalan bersama dengan teman-temannya.

DEG

Jantungku menyentak keras saat pandangan kami bertemu. Namun, dengan cepat ia memutuskan kontak matanya denganku.

Aku tersenyum miris.

Selalu seperti itu. Dia tak ingin berlama-lama menatap ke arahku.

Ku lanjutkan langkahku. Beberapa kali mengedarkan pandanganku untuk sekedar melihat kebaradaannya. Setidaknya dengan mengetahui ia ada di mana, aku bisa merasa sedikit bahagia.

Aku kadang berpikir. Alasan apa yang bisa ku berikan agar ia bisa melihat ke arahku.

Namun, semakin aku mencari, semakin aku sadar. Aku ini bukan siapa-siapa. Aku bukan gadis yang terkenal di kalangan pelajar. Aku hanya seorang gadis biasa yang tak punya apa-apa untuk dibanggakan.

Tiga tahun berlalu, namun tak ada perubahan. Baik perasaanku, dan juga sikap Kyuhyun terhadapku.

Selama ini, Kyuhyun benar-benar bersikap seolah tak mengenalku. Aku sudah sangat sering menelan ludahku dengan paksa saat tahu ia tak menggubris senyumanku untuknya. Aku sudah sangat sering di acuhkan bahkan di saat kami duduk berdampingan di dalam bus.

Sayangnya, perasaanku tetap seperti di awal aku merasakannya. Dan herannya, perasaan itu semakin menggebu-gebu.

Aku mengakui jika aku ingin perasaan ini berbalas, atau setidaknya Kyuhyun tahu akan perasaanku ini. Tapi, aku sudah terlalu menikmatinya sendiri, hingga untuk mengungkapkannya saja aku sudah tak berpikir untuk itu.

–O–

Sungmin terus berjalan. Tak terasa waktu akan menunjukkan pukul 00.00 KST. Sekitar tujuh menit lagi.

Saat Sungmin berjalan ke arah tengah lapangan sekolah, tiba-tiba semua penerangan di matikan. Tak ada cahaya sama sekali.

Sungmin berdiri kaku di tempatnya. Gadis ini sangat takut akan gelap, dan  ia lupa akan hal ini. Semuanya memang sudah di atur seperti ini, sebelum kembang api di nyalakan.

GREP

Sungmin membulatkan matanya, kaget saat merasakan sebuah tangan menggenggam erat tangannya. Sungmin berniat untuk melangkah, namun tangan itu menahannya. Malah semakin mengeratkan genggamannya.

“Tetaplah di sini. Jangan ke mana-mana lagi.”

Air mata Sungmin meluncur begitu saja saat mendengar suara berat itu. Sungmin tahu itu Kyuhyun. Sungmin sudah sangat mengenali suara yang beberapa tahun terakhir ini selalu mendengung di telinganya.

Sekuat tenaga Sungmin menahan isakannya. Terlalu bahagia hingga rasanya begitu menyesakkan. Sungmin hanya bisa memohon dalam hatinya, jika bisa, ia ingin waktu berhenti untuk saat ini saja. Ia ingin menikmatinya sebentar saja.

DUARRR…….

Sungmin sontak menolehkan kepalanya saat sudah ada cahaya dari kembang api yang terus ditembakkan ke atas.

Mata mereka bertemu. Selama lima menit tangan Sungmin dan Kyuhyun saling bertautan. Sungmin merasa sangat bahagia akan hal itu.

Namun, setelahnya ia merasa bodoh karena merasa bahagia.

Tepat saat Sungmin mempertemukan pandangan mereka, saat itu pula Kyuhyun melepaskan genggamannya dengan cepat, membuat tangan Sungmin terhempas.

Kyuhyun dengan cepat berjalan menjauh dari Sungmin yang tertunduk memandangi tanah yang ia pijak.

Sungmin bisa merasakan air matanya jatuh membasahi kakinya yang tak tertutup sendal. Dengan pandangan yang mengabur karena air mata, gadis itu berjalan pelan menuju toilet yang terletak di ujung lapangan sekolah.

Setelah memasuki salah satu wc di dalam sana, Sungmin menangis dengan keras. Tak peduli jika nanti ada yang mendengarnya. Ia hanya ingin menumpahkan perasaan sesak di hatinya.

“Kenapa bisa sesakit ini, Tuhan?” Gadis itu memukul-mukul dadanya, mencoba untuk mengurangi sakit di dalam sana.

“Apa aku memang seburuk itu, hingga tak pantas untuk bersamanya?” gumam Sungmin lagi. Ia tak peduli lagi air mata yang terus keluar membasahi wajahnya. Hatinya lebih kacau sekarang dibandingkan keadaan wajahnya.

Aku terlalu mencintainya, hingga lupa seberapa dalam luka yang telah aku buat sendiri di dalam hatiku karena mencintainya. Aku lupa telah menerjunkan diriku semakin dalam karena mencintainya. Aku hanya ingin mencintainya. Hanya itu. Aku tak akan berharap lebih lagi.

–O–

“Yakin, kau ingin sekolah di sana? Meninggalkan appa dan umma lagi?”

Sungmin beranjak dari duduknya untuk menghampiri sang umma untuk memeluknya.

“Umma ini bagaimana? Yang mendaftarkanku ke sana siapa? Umma sendiri. Sekarang aku di terima, apa tidak menyia-nyiakan kesempatan namanya jika aku tak sekolah di sana?”

Leeteuk mengusap pelan kepala anaknya. Memang dia yang mendaftarkan anaknya pada sebuah sekolah di Jepang. Ia tahu bagaimana keadaan Sungmin sejak anaknya itu kembali dari Jeongju. Dia tahu bagaimana anaknya itu menahan perasaannya untuk Kyuhyun. Dan ia tahu, sikap Kyuhyun terhadap Sungmin selama ini.

“Umma ingin kau bahagia sayang. Tapi, sedikit menyesal harus membuatmu meninggalkan umma lagi.”

Sungmin tersenyum. Ia paham akan hal yang membuat ummanya mengambil tindakan seperti ini.

“Aku sudah sangat bahagia umma. Hanya tiga tahun. Sebelum melanjutkan kuliah, aku akan kembali ke sini umma. Hanya tiga tahun.”

Leeteuk menghela napasnya.

“Umma harap kau baik-baik saja. Beritahu umma apapun yang membuatmu bersedih.”

“Tak ku beritahu pun, umma pasti lebih dulu mengetahuinya.” Sungmin melepas pelukannya seraya mengulas senyum untuk Leeteuk. “Aku mau membereskan barang-barang dulu.”

“Jangan terlalu larut tidurnya sayang. Kau berangkat pagi besok.”

Sungmin mengangguk seraya berdiri. Ia berjalan menuju kamarnya.

Aku akan pergi lagi Cho Kyuhyun. Ku harap kita bisa bertemu lagi. Dan ku pastikan aku akan tetap mencintaimu.

–O–

Heechul dan Kyuhyun ikut mengantar Sungmin ke bandara. Kyuhyun yang kebetulan duduk di bangku belakang mobil bersama Sungmin hanya diam. Sementara Sungmin, mati-matian menahan perasaannya. Antara bahagia dan juga sedih.

Sekuat apapun gadis itu mencoba, air matanya tetap saja terjatuh. Kyuhyun bukannya tak menyadari jika gadis di sampingnya terisak. Ia hanya mencoba untuk tak peduli.

“Jaga kesehatanmu, sayang. Sering-sering hubungi appa dan umma, ne?” Sungmin hanya bisa mengangguk. Kedua orang tua Sungmin memeluk anaknya dengan erat. Setelah melepaskan pelukan mereka, gantian Heechul yang memeluk Sungmin.

“Kau bahkan tak pernah ke rumah sejak kau datang. Dan sekarang kau sudah akan pergi lagi.”

“Mianhae ahjumma….”

“Ya!” Heechul dengan cepat melepaskan rangkulannya pada Sungmin. Beralih mencengkeram bahu gadis itu. “Kau masih memanggilku ahjumma?” Panggil umma Minnie. U-mma!”

Sungmin terkekeh mendengar protes dari Heechul. “ne umma. Mianhae.” Sekilas mata gadis itu melirik ke arah Kyuhyun yang berdiri di belakang Heechul. Lelaki itu tampak mengedarkan pandangannya.

Lagi. Sungmin hanya bisa tersenyum miris akan sikap Kyuhyun.

“Sepertinya sebentar lagi pesawatku berangkat.” Sungmin memeluk kedua orang tuanya bergantian, lalu Heechul.

“Aku berangkat dulu.”

Sungmin terdiam sesaat saat Kyuhyun tetap tak mau memandang ke arahnya.  Lelaki itu sepertinya tengah menerima panggilan seseorang.

“Hati-hati sayang.”

Sungmin mengangguk.

Di tatapnya Kyuhyun yang bebricara sebentar dengan Heechul sebelum berlalu begitu saja. Tak mengucapkan apapun pada Sungmin.

Leeteuk yang sadar akan tatapan Ssungmin yang sedari tadi tak pernah lepas dari Kyuhyun, menghampiri anaknya lalu mengusap punggungnya.

Sungmin menoleh. Mata gadis itu sudah berair. Tinggal menunggu air matanya meluncur menuruni pipinya.

“Umma, aku pasti akan sangat merindukan kalian.”

Dan ku pastikan, aku akan sangat merindukanmu, Cho Kyuhyun.

–O–

Aku tidak sedang berusaha melupakan ataupun berusaha untuk mempertahankan perasaanku padanya. Ku biarkan seperti ini saja. Seolah aku sedang baik-baik saja. Seolah aku tak punya perasaan itu terhadapnya.

Sudah terlalu banyak air mata yang aku keluarkan untuk menangisi keadaanku sendiri. Meskipun menyakitkan, tapi aku menikmatinya.

Mungkin karena yang membuatku seperti ini adalah dia. Dan karena dia Cho Kyuhyun, aku tak apa-apa.

Sepertinya memang mustahil mengharapkan dia akan mencintaiku juga. Di satu sisi, aku terlihat begitu menyedihkan. Namun, aku tidak bisa atau mungkin memang aku yang tak ingin keluar dari keadaan ini. Aku yang terus memelihara perasaan ini.

Sebanyak apapun aku mencoba, toh yang ada di pikiran dan hatiku hanya keinginan untuk terus mencintainya.

Aku lelah. Aku merasa seolah-olah diikat oleh kenyataan yang sebenarnya aku sendiri yang membuat talinya. Membuat diriku terlilit dalam perasaan yang menyulitkanku, namun sekaligus membahagiakanku.

Bahkan hanya dengan mencintainya saja, aku merasa bahagia. Aku bahagia karena merasa memiliki seseorang yang berharga yang seandainya bisa, aku sangat ingin menjadi yang berharga juga untuknya.

Cho Kyuhyun. Tak tahu apa yang akan terjadi padaku dan padamu nanti. Yang pasti, aku hanya berharap bisa melihatmu bahagia. Berharap ada sedikit tempat untukku di kehidupanmu yang bahagia nanti.

–O–

Sungmin menepati janjinya untuk kembali sebelum melanjutkan kuliahnya di Jepang. Tetap tak ada yang berubah saat ia kembali.

Saat baru saja sampai di rumahnya, Sungmin di sambut oleh Kangin, Leeteuk, dan juga Heechul.

“Kau tetap pendek, eoh? Tak berubah.” Heechul berujar seraya memeluk Sungmin.

“Umma..”

Semuanya menoleh ke arah suara itu, tak terkecuali Sungmin. Gadis itu sempat terpaku saat tahu yang berdiri di depan pintu rumahnya adalah Kyuhyun.

Lagi. Sungmin bisa merasakan bagaimana jantungnya bereaksi dengan begitu lancangnya saat mendengar suara lelaki itu. Di tambah ketika tak sengaja mata mereka berdua bertemu. Namun, untuk kesekian kalinya, Kyuhyun yang memutuskan kontak mata mereka.

Satu hal yang secepat mungkin Sungmin sadari saat melihat namja itu. Perasaannya. Sungmin tahu jika perasaannya bahkan tetap sama sejak awal. Tak ada yang berubah. Meskipun ia sempat berpikir perasaan itu tak akan muncul lagi, namun nyatanya? Perasaan itu ternyata selalu bersamanya dan akan menunjukkan wujudnya saat lelaki itu ada di sekitarnya. Membuat Sungmin menyadari bahwa memang ia tak pernah berhenti mencintai namja itu.

Heechul melepaskan pelukannya pada Sungmin saat ia enoleh pada anaknya.

“Oh, Kyunnie. Ada apa sayang?”

Terdiam sejenaka, sebelum namja itu memperbaiki posisinya yang masih melongokkan kepala di balik pintu, untuk segera berdiri tegak.

“Appa memanggil umma.”

“Kenapa tak menelpon saja? Atau kenapa appamu tak ke sini saja?”

“Umma tak membawa handphone.”

Kangin, Leeteuk, dan Sungmin hanya memperhatikan kedua ibu dan anak yang saling bercakap itu.

“Aku kembali ke rumah dulu, ne.” Pamit Heechul.” Ada apa lagi dengan suamiku yang manja itu?” Sungmin sedikit tersenyum saat mendengar gumaman dari Heechul.

Sungmin seketika mengikuti pergerakan Kyuhyun yang sepertinya akan mengikuti sang umma yang berlalu di hadapannya.

“Kyuhyun…..” Tidak sadar, Sungmin menggumam. Kyuhyun yang mendengarnya seketika menghentikan langkah dan berbalik. Menatap sekilas ke arah Sungmin. Gadis itu tengah menunduk sambil menutup mulutnya.

Kyuhyun lalu mengalihkan pandangannya pada Leeteuk yang tengah menghidangkan makanan.

“Umma, aku kembali ke rumah dulu.”

“Tak mau ikut makan bersama kami saja, Kyu?”

Kyuhyun menggeleng seraya tersenyum.

“lain kali saja umma.” Kyuhyun menunduk sekilas. “Kangin appa, aku kembali dulu.” Kangin menangguk pada Kyuhyun.

Kyuhyun pun akhirnya melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman Sungmin.

Secara spontan, Sungmin mengangkat wajahnya saat mendengar suara pintu tertutup pelan. Sedikit mengusap matanya yang berair.

Gadis itu akhirnya memilih melangkah menuju meja makan, menghampiri sang umma sebelum memeluknya.

“Umma, ku mohon. Kuatkan aku. Semuanya tersa menyakitkan.” Leeteuk hanya bisa terdiam mendapati sikap anaknya. Mengusap punggung putrinya itu, mencoba menenangkannya. Seandainya bisa, Ia ingin meminta Sungmin utnuk tak menyimpan perasaan cinta pada Kyuhyun lagi. Leeteuk pun sama sakitnya melihat anaknya yang sangat tidak berdaya jika telah berurusan dengan perasaannya pada Kyuhyun.

Sungmin menumpahkan tangisnya dalam pelukan ibunya. Tak tahu lagi harus menggunakan cara apa agar ia bisa, walaupun hanya sesaat tak mengingat perasaan itu.

–O–

Ternyata, memang tetap sama. Semuanya tak ada yang berubah. Baik perasaannya, maupun sikap Kyuhyun kepadanya.

Mungkin, tak akan ada cerita masa depan Sungmin untuk bisa bersama Kyuhyun.

Mungkin, hanya cinta Sungmin untuk Kyuhyun yang akan selalu bersama dengannya.

Mungkin, memang seharusnya seperti ini.

Hanya Sungmin yang akan mencintai Kyuhyun.

Hanya mencintai Kyuhyun saja yang bisa Sungmin lakukan.

Untuk sekarang, dan mungkin untuk selamanya.

 

 

–FIN–

 

 

maaf..maaf…maaf….di sini saya bikin umin ngenes banget ya……

sebenarnya ff ini saya bikin, buat curhatan sih.

Bisa dikatakan, nasibnya umin di sini, sama persis ama nasib saya u,u

Pengennya happy ending gitu, kyumin nya disatuin, tapi pasa mau lanjut, saya jadi sakit sendiri, harus ngebayangin sesuatu yang sepertinya sangat mustahil.

Tapi, ya udahlah. Kalo ada yang mau baca silahkan, ada yang ga suka silahkan.

Kalo mau lanjutan ceritanya happy ending, aku bikinin deh. Kalian tinggal minta aja 🙂

 

-Kim Yeri-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s