[ff KyuSung] He’s My Brotheart

Hes My Brotheart

Oneshoot

 

...

Presented by Kim Yeri

.

Genre :: Drama, Family, Hurt/Angst

.

Rate : T

.

Cast : Yesung, Kyuhyun

 

“Berikan mobil-mobilan itu pada Kyunie, Yesung-ah.”

“Ne, Appa.”

“Jangan membiarkan adikmu kedinginan. Berikan mantel yang kau pakai dulu.”

“Ne. Appa.”

“Berhentilah mengajaknya bermain. Kyuhyun akan kelelahan.”

“Kau tak usah keluar kamar jika tak kami panggil, Yesung-ah.”

“Ulang tahunmu tak usah di rayakan, ya. Cukup ulang tahun Kyunie saja. Kau tak keberatan, kan?”

“Gwaenchana appa. Aku sudah sangat bahagia jika Kyuhyun bahagia.”

Aku memang sangat menyayangi Cho Kyuhyun, adik laki-lakiku. Apapun akan ku lakukan agar ia bahagia. Aku terlalu menyayanginya hingga untuk mencari kebahagiaanku sendiri pun ku rasa tak perlu lagi. Karena, dialah sumber kebahagiaanku, jadi tak salah jika aku menjaganya, menjaga kebahagiaanku.

Aku selalu mengalah karenanya. Aku selalu memberikan apapun yang ku punya jika ia menginginkannya. Aku tak akan keberatan sama sekali jika itu berhubungan dengan adikku itu. Aku bahkan akan memberikan nyawaku sekalipun jika ia membutuhkannya untuk terus bahagia.

 

—O—

 

“Cepatlah! Kau tak mau terlambat di hari pertama kita sekolah, kan?”

“Sabar sedikit, hyung.” Kyuhyun segera menyambar sepatu ketsnya, membawanya sambil berlari pelan ke teras rumahnya, memasang sepatunya di sana. Sementara Yesung, kakaknya, dengan sangat tidak sabar menunggu adiknya itu di atas sepedanya.

“Cha! Kita berang…”

“Kyunie!!!”

Yesung maupun Kyuhyun yang sudah bersiap untuk berangkat, menoleh saat mendengar panggilan yang ditujukan untuk Kyuhyun. Ayah mereka yang memanggil.

“Appa! Berhentilah memanggilku dengan panggilan menjijikkan seperti itu.” Gerutu Kyuhyun. “Aku bahkan sudah SMA sekarang.”

Tuan Cho sepertinya tak menghiraukan protes dari anaknya. Dengan perlahan ia menghampiri kedua anaknya.

“Yesung-ah. Kau berangkat duluan saja. Biar Kyunie di antar supir.”

“Tidak mau!! Aku mau berangkat bersama Yesung hyung.” Tolak Kyuhyun.

“Sudahlah Kyuhyun-ah. Ada baiknya juga jika kau di antar supir saja. Aku jadi tak kesusahan mengayuh sepeda.” Yesung melirik sekilas ke arah ayahnya. Namun, sang ayah tampak tak memandangnya.

“Ya! Hyung!! Kau apa-apaan? Kalau tak ingin susah mengayuh sepeda, lebih baik kita sama-sama di antar saja.”

Tuan Cho menatap Yesung, seakan menyampaikan sesuatu dari tatapan tajamnya.

“Kyuhyun-a. Dengarkan, hyung. Kau tak tahan panas, kan? Lagi pula, jika bersepeda, akan terkena banyak terpaan angin. Kau itu gampang flu. Sebelum-sebelumnya, kau memang selalu di antar. Jadi, tak masalah, kan jika sekarang kau di antar ke sekolah lagi?” Yesung mencoba memberi pengertian pada adiknya.

“Jangan berlebihan, hyung. Aku ini laki-laki. Sama sepertimu. Dan juga, ini masih pagi. Tak akan panas.”

“Tapi, Yesung benar, Kyunie. Kakakmu tak akan kenapa-kenapa bersepeda sendiri. Toh, sejak dulu dia selalu pergi sendiri ke sekolah, kan? Lagipula, appa heran. Kenapa kau tiba-tiba ingin ikut kakakmu?” Tuan Cho juga mencoba untuk meyakinkan Kyuhyun.

Kyuhyun memasang wajah cemberutnya. Sejak masih TK, hingga lulus sekolah menengah pertama, ia memang tak pernah berangkat maupun pulang bersama kakaknya, meskipun mereka bersekolah di tempat yang sama.

Entah kenapa, sekarang ia sangat ingin seperti teman-temannya yang lain. Bisa bermain bebas dengan temannya apalagi dengan saudaranya sendiri. Kyuhyun baru menyadarinya sekarang. Sejak dulu, ia terlalu di jaga. Terlalu di lindungi, dan sepertinya bahkan terlalu di perhatikan daripada Yesung, kakaknya.

“Ya sudah. Aku berangkat dulu appa, Kyuhyun.”

Tuan Cho hanya mengangguk, namun tak sedikitpun menatap ke arah anaknya yang satu itu. Pandangannya hanya tertuju pada Kyuhyun.

Kyuhyun masih memandang kepergian Yesung dengan sepedanya saat sang ayah menarik tangannya pelan.

“Ayo. Kau juga harus berangkat. Tak ingin terlambat, kan?”

Kyuhyun menurut. Setelah masuk ke dalam mobil, Tuan Cho melambaikan tangannya pada anak kesayangannya itu.

Kau harus mendapatkan semua yang terbaik Kyuhyun-a. Kau harus bahagia.

“Aisshh…kenapa kita tak sekelas, sih??”

Yesung mengendikkan bahunya. Tangannya terus menyuapkan ramyeon ke dalam mulutnya. Menatap datar pada adiknya yang tak berhenti menggerutu saat tahu jika mereka tak sekelas. Kyuhyun bahkan tak menghiraukan makanan yang telah ia pesan.

“Ini karena kau terlalu bodoh, hyung.”

“Ya!!” Yesung berteriak tak terima.

“Apa? Kau mau membantah? Memang benar, kan? Terbukti, kau bahkan di tempatkan di kelas paling akhir. Memalukan.” Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Menunjukkan sikap prihatin yang malah terlihat mengejek di mata Yesung.

Memang tak dipungkiri jika Kyuhyun memiliki kepintaran di atas rata-rata. Ia bisa berada di tingkat yang sama dengan kakaknya karena mengikuti program akselerasi.

“Lalu masalahnya denganmu apa?? Aku juga tak sudi sekelas denganmu.” Yesung membalas perkataan Kyuhyun, mencoba membuat adiknya itu kesal. Namun, bukannya kesal, Kyuhyun malah memasang tampang sedih. Membuat Yesung seketika menghentikan makannya. Di tatapnya Kyuhyun yang masih menunduk.

“Jangan berlebihan Kyuhyun-a. Kau tahu, aku hanya bercanda.”

Kyuhyun masih terdiam. Belum mau mengangkat wajahnya. Yesung jadi merasa bersalah mengatakan hal menyinggung seperti tadi. Jujur, ia hanya bercanda.

“Kyuhyun-a. Hei..lihat aku.”

Kyuhyun mendongak. Menatap kakaknya yang tengah tersenyum kepadanya.

“Hyung..”

“Hmm..apa?”

Kyuhyun diam lagi. Yesung jadi jengah sendiri dengan tingkah Kyuhyun yang seperti ini.

“Apa kau merasa tak diperlakukan adil selama ini?”

Dahi Yesung berkerut, menandakan ia bingung akan pertanyaan Kyuhyun.

“maksudmu apa? Hyung tak mengerti.”

Kyuhyun menghela napasnya panjang. Sudah lama ia merasakan ini. Sudah sejak lama ia ingin menanyakan perihal ini kepada Yesung. Sungguh, ia sama sekali tak tenang saat menyadari bagaimana perbedaan perlakuan yang ia dapatkan di banding kakaknya itu.

Yesung masih sabar menunggu Kyuhyun untuk berbicara lagi.

KRINGG…

Baru saja Kyuhyun akan melanjutkan ucapannya, bel masuk lebih dulu berbunyi. Yesung dengan cepat menenggak habis minumannya.

“Bicaranya nanti saja. Cepat kembali ke kelasmu.” Yesung bergegas meninggalkan Kyuhyun yang sama sekali tak bergeming dari tempat duduknya bahkan setelah Yesung menghilang dari pintu kantin.

 

—O—

 

 “Tenang saja. Dia tak akan pernah mendapatkan apapun. Anak ini jadi milik kita sekarang. Tak akan ada yang melarang apapun yang kita lakukan pada anak ini.”

Wanita berusia tiga puluh tahunan itu terdiam memandangi bayi laki-laki kecil di hadapannya yang sedang tertidur dengan sangat pulas. Ada rasa enggan yang terpancar dari tatapan matanya terhadap bayi itu. Sangat jelas jika ia tak menyukai kehadiran sang bayi.

“Wanita kurang ajar itu!! Bagaimana bisa kau tertipu olehnya sampai harus memiliki anak darinya?? Aku bahkan baru melahirkan.” Wanita itu sama sekali tak menangis. Ia hanya berteriak. Mengeluarkan emosinya atas kebodohan yang telah suaminya lakukan.

Lelaki itu, hanya bisa merutuki kebodohannya setahun yang lalu. Hanya karena ia mendapat berita dari seorang wanita bahwa istrinya tak bisa hamil, ia melakukan hal yang sangat bodoh, hingga hampir saja merusak keadaan rumah tangganya.

“Biar bagaimana pun, anak kita membutuhkan anak ini. Jadi, aku akan menerimanya.” Putus sang istri. “Tapi….”

Sang suami menatap lekat istrinya, menunggu apa yang akan dikatakan oleh istrinya itu.

“Jangan pernah berharap aku akan menerimanya dengan baik. Aku tak akan peduli apa yang terjadi padanya. Toh, jika saatnya nanti, ia akan menghilang sendiri. Untuk kehidupan anakku.”

“Aku juga tak akan memintamu untuk menerimanya, bahkan menyayanginya. Kita hanya perlu merawatnya dengan baik agar benar-benar berguna untuk anak kita. Hanya anak kita. Dan asal kau tahu sayang. Aku tak pernah sekalipun menganggapnya anakku. Anakku, satu-satunya, hanyalah yang tumbuh di dalam rahimmu.”

Lelaki itu menarik istrinya ke dalam pelukannya. Bersyukur karena istrinya ini akhirnya mengerti akan apa yang telah terjadi pada dirinya dan mau menerima kenyataan ini.

Ia tak peduli apa-apa lagi, asalkan keluarganya bahagia. Keluarganya, hanya dia, istrinya, dan anak yang dilahirkan oleh istrinya.

 

—O—

 

Kyuhyun sampai lebih dulu di rumahnya. Namun, ia tak langsung masuk. Lelaki itu lebih memilih duduk di teras untuk menunggu kakaknya.

“Oh.Kyuhyun-a..kau sudah pulang? Kenapa tak langsung masuk rumah.”

Nyonya Cho yang berniat untuk keluar rumah, sedikit kaget saat mendapati anaknya itu tengah duduk di teras.

“Ani..eomma. Aku menunggu hyung dulu, baru masuk.”

Sedikit ada rasa tak suka saat lagi-lagi ia harus melihat betapa pedulinya Kyuhyun pada kakaknya.

“Kau harus masuk sekarang. Ganti pakaianmu, makan, lalu istrahat.” Perintah Nyonya Cho.

“Tapi…”

“Tidak ada penolakan.” Ucap wanita itu. “Eomma akan ke butik sekarang.”

Kyuhyun tak akan pernah bisa membantah perintah dari eommanya. Ia bukan anak yang pintar membangkang pada orang tua.

Dengan sedikit perasaan enggan, Kyuhyun beranjak dari duduknya. Setelah memastikan anaknya masuk ke dalam rumah, Nyonya Cho bergegas berjalan menuju mobilnya. Sang supir telah siap membukakan pintu untuknya.

Tak lama setelah kepergian nyonya Cho, Yesung keluar dari tempatnya berdiri di depan gerbang rumahnya. Sudah sejak tadi ia berada di sana. Namun, tak langsung masuk saat mendengar Kyuhyun berbicara dengan ibunya.

Yesung memang sengaja menghindar dari ibunya. Bukan karena kemauannya, namun karena keinginan ibunya sendiri. Ia tak tahu, apakah wanita itu pantas ia sebut sebagai ibu. Selama 16 tahun ia hidup, tak pernah sekalipun ia terlibat pembicaraan dengan ibunya.

Yesung tahu, bagaimana sang ibu yang tak pernah sekalipun memeperhatikannya. Bahkan, untuk menyebut namanya saja, ibunya tak pernah melakukannya. Yesung tak pernah memusingkannya. Ia terima apapun yang telah ia dapatkan hingga sekarang. Memiliki orang tua dan adik, lalu apalagi yang ia harapkan?

Meskipun ia tahu, jika hanya dirinya saja yang merasa memiliki mereka.

 

—O—

 

PLAK!!

Yesung tersungkur di bawah kaki ayahnya, saat sang ayah memukul wajahnya dengan sangat keras.

BUGH!!

Lagi, tubuh namja berusia 10 tahun itu mendapatkan tendangan dari ayahnya sendiri.

“Kenapa kau mengajaknya berlarian? Sudah ku katakan ia tak boleh kelelahan!! KAU ANAK BODOH!!!”

PLAK!!

Yesung tak sanggup lagi bangun dari jatuhnya. Ia biarkan saja ayahnya terus menghujaninya pukulan dan tendangan. Yang ada di pikirannya sekarang hanya Kyuhyun.

“JIKA TERJADI SESUATU PADA ANAKKU, KAU AKAN KU BUNUH!!!”

BRAKK!!!

Suara pintu yang ditutup dengan sangat keras itu sama sekali tak mengagetkan Yesung. Ia terlalu kesakitan sekarang. Namun, bukan itu yang ia pikirkan.

Yesung mencoba untuk bangkit. Dicengkeramnya pinggangnya, berusaha untuk meredam rasa sakit yang menyerangnya saat ia mencoba berdiri. Yesung sedikit terkejut saat merasakan ada cairan yang membasahi tangannya. Perutnya di bagian kanan sepertinya mengeluarkan darah.

Yesung tak menghiraukannya. Ia menyeret langkahnya menuju pintu kamarnya. Perlahan memutar knop pintunya. Namun, sayangnya pintu itu terkunci. Berkali-kali ia menggoyang-goyangkan knop pintu,berharap pintu itu terbuka, namun sama sekali tak berhasil.

Tak kuat menahan berat badannya, Yesung terpaksa membiarkan tubuhnya jatuh merosot di dekat pintu kamarnya.

“Kyuhyun-a. Apa kau baik-baik saja?”

Yesung tak bisa lagi menahan air matanya. Bukan karena ia kesakitan. Ia terlalu khawatir akan Kyuhyun yang tiba-tiba pingsan siang tadi. Yesung tahu ia yang bersalah. Ia yang tak bisa melarang Kyuhyun untuk tak ikut berlari bersamanya.

“Mianhae, Kyuhyun-a. Mianhae…ini semua salah hyung.”

Darah yang terus mengalir dari perut Yesung, tampaknya membuat namja itu akhirnya tak bisa mempertahankan kesadarannya lagi. Yang ada dipikirannya hanya Kyuhyun. Hanya adiknya.

 

—O—

 

“Appa..boleh, ya boleh. Hanya di kompleks saja. Aku tak akan jauh.”

“Tapi, kau belum mahir sama sekali, Kyuhyun-a.”

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. Cukup lelah juga ia harus membujuk ayahnya agar mengizinkannya menggunakan mobil.

“Yesung hyung akan menemaniku.”

Tuan Cho mendelik tak suka saat lagi-lagi Kyuhyun menyebut nama kakaknya. Ia sudah cukup gerah memikirkan Kyuhyun yang sepertinya sangat bergantung pada Yesung.

“Dia tak tahu mengendarai mobil. Bagaimana mungkin dia akan mengawasimu?”

“Setidaknya, kan ada yang menemaniku. Lagipula hanya berkeliling di kompleks rumah.”

Tuan Cho nampak tengah berpikir. Sesaat ia mengangkat wajahnya, memandang sang anak yang tengah memasang tampang memohon padanya.

“Baiklah appa izinkan…”

“Yes!! Gomawo appa. Aku menyayangimu.” Kyuhyun dengan cepat melompat dan memeluk ayahnya.

“Tapi..”

Ucapan Tuan Cho itu membuat Kyuhyun serta merta melepaskan pelukannya.

“Apalagi??”

“Kau di temani supir saja. Appa tak akan membiarkanmu mengendarai mobil jika kau bersama kakakmu.”

Kyuhyun mendengus. Sebenarnya ia sangat ingin menunjukkan pada Yesung bagaimana dirinya yang dengan cepat dapat mengendarai mobil. Namun, sepertinya hal itu tak akan terwujud.

“Baiklah..baiklah.” ujar Kyuhyun kemudian. “Aku akan pergi sekarang, appa.”

Meskipun tak mengendarai mobil bersama Yesung hyung, aku tahu ia akan memperhatikanku.

Kyuhyun mengendarai mobilnya sendiri. Beberapa kali berputar-putar di sekitar kompleks rumahnya. Awalnya ia bersama dengan supirnya, namun agar tak ketahuan ayahnya, Kyuhyun menyuruh sang supir untuk beristrahat di rumah selama Kyuhyun mengendarai mobil. Kebetulan tuan Cho telah berangkat ke kantornya.

Awalnya, supir Kyuhyun menolak, takut jika tuan besar nya mengetahui hal ini. Namun, setelah diyakinkan oleh Kyuhyun, akhirnya sang supir menurut.

Jadilah sekarang, Kyuhyun sendiri. Tampaknya namja ini makin lincah, meskipun masih dalam batas kecepatan normal.

Saat mencoba menambah keepatan mobilnya, Kyuhyun keasikan sendiri, hingga tak memperhatikan seorang wanita melintas di hadapannya.

BRAKK!!!

Tabrakan itu tak terhindarkan lagi. Kyuhyun terdiam di balik kemudinya setelah menginjak paksa rem mobilnya. Masih tak percaya akan apa yang terjadi baru-baru saja.

“Ya!! Kyuhyun-a..apa yang kau lakukan? cepat keluar!”

Tak tahu sejak kapan Yesung datang, namun dengan cepat namja itu menarik adiknya agar keluar dari mobil.

Suasana saat itu sangat sepi. Kompleks perumahan di sana memang dihuni oleh orang-orang sibuk, sehingga di jam kerja seperti ini tak ada orang di sana.

Wajah Kyuhyun memucat saat melihat tubuh wanita yang tergeletak di depan mobilnya di penuhi dengan darah yang tampaknya mengalir dari kepalanya.

“Hyung…”

Yesung menghentikan langkahnya yang berniat untuk membawa adiknya pergi dari situ.

“Apa a-aku membunuhnya??”
Dapat Yesung rasakan ketakutan yang dialami oleh adiknya itu.

“Tidak..tidak..kau tak bersalah. Ingat, ini bukan salahmu. Ahjumma itu yang seenaknya menyeberang. Kau sama sekali tak bersalah, Kyuhyun-a.”

Kyuhyun berjalan perlahan ke arah wanita itu. Berjongkok di hadapannya. Namja itu tak bisa menahan tangis ketakutannya.

“Hyung..aku membunuh orang. Aku pembunuh!!”

PLAK!!

Kyuhyun terdiam. Bukan karena sakit di pipinya, namun lebih karena sikap kakaknya. Yesung tak pernah sekasar ini.

“Berhenti bertingkah bodoh, Cho Kyuhyun!! Lebih baik kau pergi dari sini. Hyung yang akan mengurus semuanya.”

Kyuhyun masih terdiam. Seperti tak mendengar apa yang di katakan oleh Yesung.

“KU BILANG PERGI DARI SINI!!” Yesung berteriak kalap. Ia bukannya marah, namun ia hanya ingin melindungi Kyuhyun. Ia hanya ingin melakukan apa yang ia bisa sekarang.

Kyuhyun segera berlari, meninggalkan Yesung bersama dengan wanita yang ditabraknya.

 

—O—

 

Yesung tak heran. Bukan hal yang sulit bagi keluarga Cho untuk menyembunyikan hal seperti ini.

Saat hari di mana Kyuhyun menabrak seseorang hingga meninggal, Kyuhyun segera menghubungi ayahnya. Awalnya tuan Cho sangat terkejut.

Namun, setelah ia tahu, siapa wanita yang ditabrak Kyuhyun, segalanya dengan cepat ia rencanakan. Mengingat wanita yang ditabrak oleh Kyuhyun adalah seorang wanita gelandangan, tak begitu sulit untuk menyembunyikan kejadian itu.

Apa yang tak bisa dilakukan oleh keluarga Cho?

Sebelumnya, Yesung berinisiatif untuk melapor kejadian tersebut ke kantor polisi. Ia yang akan bertanggung jawab. Namun, niatnya itu lebih dulu diketahui oleh ayahnya. Membuat ia harus menerima amarah dari ayahnya.

Tuan Cho tak ingin ada hal yang bisa membuat nama keluarganya tercoreng. Ia tak ingin salah satu dari orang-orang yang ada di dalam keluarganya di cap sebagai pembunuh. Mereka keluarga terhormat. Tak boleh ada yang mengubah kenyataan itu, bahkan sekalipun hal tersebut harus mengorbankan nyawa seseorang yang tak bersalah.

 

—O—

 

“Jahitan di perutnya terlepas. Sepertinya terkena benda tumpul.”

Kyuhyun bisa mendengar dengan jelas kata-kata dokter itu. Saat tahu bahwa Yesung masuk rumah sakit yang sama dengannya, dengan segera Kyuhyun mencari kamar kakaknya.

Belum sempat ia masuk, Kyuhyun mendengar percakapan dari dalam kamar.

“Sejak kapan Yesung hyung memiliki jahitan? Gumam Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Kyuhyun sedikit memundurkan dirinya saat dokter dan ayahnya keluar dari dalam. Ia tak ingin ketahuan telah keluar dari kamarnya.

Saat sang ayah dan dokter telah menghilang di balik koridor, dengan perlahan Kyuhyun membuka pintu kamar di mana Yesung di rawat.

Kyuhyun mendudukkan dirinya pada bangku yang tersedia di samping ranjang Yesung.

Wajah Yesung terlihat pucat. Sepertinya banyak kehilangan darah.

Kyuhyun penasaran. Ia menyingkap baju Yesung di bagian perutnya. Sedikit kaget saat melihat perban yang melingkari perut kakaknya. Kyuhyun tahu, jika perut bagian kanan Yesung lah yang pernah dijahit, dan sekarang harus di jahit lagi.

“Apa yang terjadi padamu, hyung?”

Tak ada jawaban. Yesung masih terlelap dalam tidurnya.

“Kenapa jahitanmu bisa sama denganku?” lagi, Kyuhyun berbicara sendiri.

Terlalu banyak keganjilan yang Kyuhyun rasakan sekarang. Terutama pada kakaknya. Bagaimana Yesung yang selalu dilupakan orang tuanya. Bagaimana Yesung yang selalu mengalah untuknya. Bagaimana Yesung yang selalu memperhatikannya, selalu ada untuknya.

Kyuhyun menyadari berbagai keganjilan itu di mulai saat ayah maupun ibunya yang tak pernah merayakan ulang tahun kakaknya. Bahkan ucapan pun tak ada.

Kyuhyun sadar jika orang tuanya sangat memperhatikannnya. Selain karena ia anak bungsu, juga karena fisiknya yang memang lemah. Kyuhyun tak tahu pastinya apa, namun seperti itulah orang tuanya memberitahukan kondisinya yang harus selalu di perhatikan.

Namun, Kyuhyun merasa ketidakadilan yang dilakukan orang tuanya antara ia dan kakaknya. Ia senang jika di perhatikan, tapi jika harus melupakan seorang anaknya lagi, jujur saja, Kyuhyun tak bisa menerima hal itu.

 

—O—

 

Yesung mendatangi makam wanita itu seorang diri.

Ia sempat mengikuti pesuruh ayahnya saat pemakaman wanita itu. Namun, ia tak sempat untuk melihat makam itu karena mengingat Kyuhyun yang seorang diri di rumah saat itu.

Barulah ia bisa mengunjungi makam tersebut setelah sebulan berlalu sejak kejadian itu.

KIM HANA

Hanya itu yang tertulis pada nisan yang tertancap di makam tersebut. Tak ada yang lain.

Yesung mengernyitkan alisnya. Bagaimana mereka bisa tahu jika wanita itu bernama Kim Hana?

Namun, saat mengingat ayahnya, Yesung sadar. Apa yang tak bisa dilakukan oleh ayahnya itu?

“Ahjumma. Mianhae baru mengunjungimu sekarang.” Yesung berjongkok di samping makam itu. Menjulurkan tangannya untuk menyentuh ujung nisan tersebut.

“Maafkan adikku. Dia tak tahu apa-apa. Maaf, ku mohon maafkan kami semua.” Entah apa yang dipikirkan Yesung. Ia hanya merasa sesak di dadanya sekarang. Seperti ada yang menghantam saat menatap makam di depannya. Ia tak tahu kenapa, namun tanpa ia inginkan air matanya terjatuh begitu saja.

“Suatu saat nanti, aku akan menebus semua kesalahan ini. Aku akan membayar nyawamu yang melayang begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban. Aku berjanji.”

Belakangan ini, Kyuhyun lebih banyak diam. Tak ada yang bisa menemaninya berbicara. Ayah maupun ibunya. Hanya Yesung yang tahu apa yang Kyuhyun rasakan, karena hanya pada kakaknya lah ia selalu bercerita.

Hari ini, saat pulang dari sekolah, Kyuhyun yang di antar supirnya tak langsung pulang. Ia mengikuti kakaknya, yang ternyata menuju pemakaman.

Namun, di perjalanan ia bertemu dengan ayahnya yang juga hendak mengunjungi makam.

“Kau mau apa datang ke sini, Kyunie?” tuan Cho segera menanyai anaknya itu saat ia turun dari mobilnya dan menghampiri Kyuhyun yang juga turun dari mobilnya.

“Aku mengikuti Yesung hyung. Ku mohon, jangan melarangku.”

Tuan Cho nampak berpikir. Kyuhyun yang tak kunjung mendengar ucapan selanjutnya dari ayahnya, berniat melangkah untuk menuju makam yang dikunjungi Yesung.

“Dia bukan saudaramu, Kyuhyun-a.”

Kalimat itu mampu menghentikan langkah Kyuhyun yang sudah berjarak agak jauh dari ayahnya. Namun, lelaki ini belum membalikkan badannya.

“Berhentilah peduli padanya. Dia bukan siapa-siapamu.”

“Berhenti mengatakan hal bodoh seperti itu, appa. Aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi terus-terusan.” Kyuhyun menggeram. Suaranya tercekat saat mengatakan kalimat itu.

“Kau hanya perlu menerimanya Kyuhyun-a. Sudah appa beritahukan sejak awal. Percayalah.” Tuan Cho berjalan untuk menghampiri anaknya yang masih berdiri membelakanginya itu.

“Aku tak akan percaya. Yesung hyung adalah kakakku. Tidak ada yang bisa mengubah itu!” Suara Kyuhyun meninggi saat merasakan tangan ayahnya memegang pundaknya.

“Dia hanya orang yang kaubutuhkan untuk hidupmu. Seluruh yang dia miliki adalah milikmu. Tak perlu merasa bahwa dia adalah seseorang yang berharga untukmu, apalagi menganggapnya kakakmu.”

Kyuhyun menepis tangan ayahnya. Ia membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan tuan Cho.

“Aku tahu. Alasan kenapa appa dan umma tak pernah menyayangi Yesung hyung. Aku tahu kenapa kalian tak pernah memperhatikannya. Tapi, tidakkah appa berpikir? Dia lahir karena berasal dari orang yang sama denganku. Dia hadir karena keinginan appa untuk memiliki anak. Meskipun dari wanita yang berbeda, dia darah dagingmu appa. Dia yang tak pernah kau sayangi itu anak kandungmu.”

“Hentikan, Kyuhyun-a!!”

“Tidak appa. Aku muak dengan semua yang appa lakukan. Mencoba membuatku terus bahagia namun menyakiti kakakku. Asal appa tahu, aku bahagia karena Yesung hyung selalu menemaniku. Dia yang mengerti semua keinginanku, perasaanku. Pernahkah appa memikirkannya sekali saja??”

“HARUSNYA KAU TAHU!!! DIA ITU HANYA ORANG YANG KAU BUTUHKAN UNTUK KELANJUTAN HIDUPMU!!” Suara menggelegar itu membuat Kyuhyun menatap tajam kepada ayahnya.

Mata Kyuhyun memerah. Sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tak jatuh. Sudah lama ia memendam ini semua. Sudah lama ia ingin menyampaikan ini pada ayahnya.

“Apa lagi yang appa inginkan darinya?? Apa lagi?? Sudah cukup ginjalnya appa ambil secara paksa untukku. Sudah cukup appa mengambil kebahagiaannya untuk membahagiakanku. Appa sudah sangat menyakitinya. Dia anakmu juga!! Seandainya aku tahu sejak awal, aku tak akan pernah menerima semua itu appa. Aku tak membutuhkannya. Jika memang aku harus mati lebih cepat, aku tak akan keberatan, asal tak merenggut kehidupan orang lain, yang bahkan adalah kakakku sendiri!”

Kyuhyun menghela napas panjang. Mengusap air matanya dengan kasar. Menatap marah pada ayahnya.

“Dia bukan anakku. Appa tak pernah mengharapkan kehadirannya. Satu-satunya anak appa, hanya kau!”

Kyuhyun tersenyum miris. “bukan anakkmu kau bilang? Lalu untuk apa kau mengambil dia dari ibu kandungnya? Mengapa kau tak membiarkannya saja?”

“Jaga bicaramu! Semuanya appa lakukan untukmu. Harusnya kau mengerti itu. Kami menyayangimu Kyuhyun-a.” Nada suara tuan Cho sedikit melunak.

“Jika begitu, hentikan. Aku tak membutuhkannya lagi.”

Kyuhyun berbalik untuk melanjutkan langkahnya. Meninggalkan sang ayah. Ia sudah merasa sesak sejak tadi, namun mencoba untuk menahan sakit yang mendera di bagian dadanya.

“Bagaimana jika dia yang menginginkannya? Dia yang ingin memberikan seluruh hidupnya untukmu? Apa kau akan menolak juga?”

Lagi, langkah Kyuhyun terhenti.

“Asal kau tahu Kyuhyun-a. Yang menawarkan semua organ tubuhnya agar bisa kau miliki adalah orang yang kau anggap kakakmu itu.”

Kyuhyun tak suka mendengar itu.

“Yesung hyung tak sebodoh itu.”

Tanpa Kyuhyun tahu, ayahnya menyunggingkan senyum liciknya.

“Sayangnya, apa yang appa katakan ini memiliki bukti. Sekarang terserah kau saja.”

Dengan angkuhnya, tuan Cho melangkah menuju mobilnya. Tak menghiraukan Kyuhyun yang berlari ke arahnya.

Saat mobil sang ayah siap berjalan, dengan cepat Kyuhyun berdiri di hadapan mobil itu.

“JIKA BEGITU, BUNUH AKU SEKARANG SAJA!!! BUNUH AKU!!!”

Nafas Kyuhyun tercekat saat ia berhenti berteriak. Dadanya berdebar keras. Sakit yang sejak tadi ia tahan semakin menggila, membuat ia kesusahan untuk bernapas.

Brughh…

Mata tuan Cho membulat kaget ketika dengan tiba-tiba, tubuh Kyuhyun terjatuh begitu saja di depan mobilnya.

Air mata Yesung terus berjatuhan, namun tak ada suara yang terdengar. Ia terlalu lelah.

Ia sama sekali tak bisa berdiri dari tempatnya saat mendengar semuanya. Ditambah, saat ia melihat Kyuhyun yang terjatuh di depan mobil ayahnya.

Ingin berlari ke sana, namun dirinya tak kuasa menggerakkan tubuhnya yang sejak tadi berlindung di balik pohon.

Ia sudah tahu semuanya. Bahkan sebelum Kyuhyun mengetahuinya. Saat di mana ia memberikan ginjalnya pada Kyuhyun, saat itu Yesung mengetahui kenyataan itu.

Bukan. Ia tak pernah merasa di sakiti atau tak dianggap oleh ayahnya. Yang ia takutkan hanya Kyuhyun. Selama ini, mungkin adiknya itu mengira jika dirinya di paksa memberikan apa yang Kyuhyun butuhkan. Kyuhyun tak tahu jika semuanya karena keinginan Yesung sendiri.

Yesung takut, jika Kyuhyun akan marah padanya, atau bahkan membenci dirinya.

Yesung tak mau itu terjadi.

 

—O—

 

 “Aku sudah mengurusnya sayang. Kau tenang saja, tak akan terjadi apa-apa pada Kyuhyun.”

“Tapi, kau yakin itu benar Kim Hana?”

“Aku yakin. Aku melihatnya sendiri.”

 “Tapi, bagaimana bisa wanita itu berada di sini? Kau bilang, dia telah kau kirim ke Nowon?”

“Maaf, karena tak memberitahumu. Sebulan yang lalu, wanita itu datang. Meminta untuk dipertemukan dengan anaknya. Tapi, aku tak pernah mengabulkannya.”

“Yesung tahu? Apa anak itu tahu kalau yang ditabrak oleh Kyuhyun itu adalah ibu kandungnya?”

“Tidak sama sekali. Sudahlah, kau tenang saja.

PRANG!!

Gelas yang ada di tangan Kyuhyun terjatuh begitu saja saat mendengar apa yang tengah dibicarakannya oleh kedua orang tuanya.

Dua orang dewasa yang tengah berbincang di dalam kamarnya, sontak keluar dan mendapati sang anak yang menatap tajam kepada mereka berdua.

“Kyuhyun-a…”

“Apa maksud kalian?!” Nada suara Kyuhyun terdengar sangat tinggi, namun sarat akan penekanan. Menandakan bagaimana ia berusaha untuk menahan emosinya.

“Jangan berpikir yang macam-macam. Kau hanya salah paham.” Tuan Cho mencoba menenangkan Kyuhyun.

“KATAKAN!!! APA MAKSUD KALIAN??!!!”

Kyuhyun berjalan ke arah orang tuanya. Berdiri tepat di hadapan mereka.

“Siapa wanita yang ku tabrak itu? Apa hubungannya dengan Yesung hyung?” Suara Kyuhyun memelan saat menanyakan hal itu.

“Beritahu aku. Ku mohon.”

 

—O—

 

 “Transplantasi jantungnya tak bisa di tunda lagi, tuan. Kebocoran di jantung Kyuhyun sudah sangat parah. Kita sudah terlalu sering menunda operasi.”

Yesung terdiam di depan kamar rawat Kyuhyun. Masih dapat ia ingat dengan jelas perkataan dokter yang menangani Kyuhyun.

Yesung terus berpikir. Ia sudah siap. Apapun itu asalkan Kyuhyun bisa melanjutkan hidupnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Semua yang ia miliki ada milik Kyuhyun. Bahkan sekalipun ia harus memberikan nyawanya sendiri.

Yesung mendongakkan kepalanya saat mendengar derap langkah kaki yang menuju ke arahnya.

Dilihatnya ayah dan ibunya yang sedikit berlari ke arahnya. Siang tadi, hanya ayahnya saja yang ada di rumah sakit. Nyonya Cho yang sedang menjalankan bisnisnya di Jepang, sepertinya langsung kembali saat mendengar berita tentang Kyuhyun.

Kedua orang itu berlalu begitu saja dan langsung memasuki kamar Kyuhyun, tanpa mengucapkan apa-apa pada Yesung yang baru saja berdiri dari duduknya untuk menyapa kedua orang tuanya tersebut. Oh, masih bisakah ia menyebut mereka orang tuanya?

Suara tangis itu terdengar jelas. Nyonya Cho tengah menangis di dalam sana.

Yesung tetap diam di tempatnya. Tak berniat untuk pergi maupun beranjak dari sana.

Perlahan Yesung mendudukkan dirinya pada bangku panjang yang ada di depan kamar Kyuhyun.

Brak!

“Kim Yesung! Yesung-a! Yesung!”

Yesung kembali berdiri ketika dengan sangat tiba-tiba pintu kamar Kyuhyun terbuka. Dan betapa kagetnya ia saat Nyonya Cho memanggil-manggil namanya. Kim Yesung?

Wanita itu menghampirinya. Mendudukkan tubuhnya di lantai tepat di hadapan Yesung. Tuan Cho yang mengikuti istrinya itu mencoba membangunkan istrinya, namun ditolak oleh nyonya Cho sendiri.

“Eomma mohon Yesung. Demi adikmu. Demi Kyuhyun. Berikan jantungmu padanya.”

Yesung tak bergeming. Ia menatap dengan pandangan yang sulit diartikan kepada wanita di hadapannya itu.

Wanita yang sejak kecil ia kira ibu kandungnya. Wanita yang bahkan seumur hidupnya tak pernah menyebut namanya. Namun, kali ini, wanita itu menyebut namanya. Memohon padanya. Bahkan bersujud di hadapannya.

“Hanya kau harapan kami. Eomma mohon…” Wanita itu menangis dengan sangat keras saat lagi-lagi Yesung tak merespon permohonannya.

Sedikit melirik ke arah tuan Cho, sebelum akhirnya Yesung berjongkok. Menjulurkan tangannya untuk memegang bahu nyonya Cho.

“Jangan seperti ini.”

Nyonya menurut begitu saja saat Yesung membantunya untuk berdiri.

“Anda tak memintanya pun, aku rela memberikan apapun yang Kyuhyun butuhkan. Aku selalu siap untuk memberikan jantungku pada Kyuhyun. Anda tenang saja.”

Nyonya Cho berniat untuk memeluk Yesung, namun namja itu dengan cepat berjalan ke arah pintu kamar Kyuhyun. Menengok sesaat ke dalam melalui kaca transparan pada pintu itu.

Yesung menoleh, pandangannya tertuju pada sosok lelaki yang berdiri di samping wanita itu.

“Aku dilahirkan di dunia ini untuk kesembuhan Kyuhyun. Nyawaku tak ada harganya di bandingkan, hidup Kyuhyun. Aku benar, kan tuan Cho?” Sedikit membungkukkan badan kepadanya, Yesung lalu beranjak dari hadapan mereka berdua. Berjalan menuju tempat keluar dari rumah sakit itu.

“Hyung!!”

Yesung tak bisa mengabaikan suara itu. Ia sudah berada di ujung koridor saat mendengar suara itu. Dengan cepat ia membalikkan badannya. Dilihatnya Kyuhyun yang baru saja membuka pintu kamar rawatnya.

“Kyunie, kau mau kemana?” nyonya Cho tak sempat menahan Kyuhyun yang berjalan cepat untuk menghampiri Yesung.

“CHO KYUHYUN!! APPA BILANG BERHENTI!!”

Kyuhyun terus berjalan dan tak menghiraukan teriakan ayahnya. Yesung masih berdiri di tempatnya. Menunggu Kyuhyun yang datang menghampirinya.

Grep!

Kyuhyun langsung memeluk Yesung saat ia telah berada di hadapan kakaknya itu. Yesung membalas pelukan adiknya itu. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya, mencoba menghentikan agar air matanya tak keluar.

“Mianhae.” Suara itu keluar bersamaan dengan isakan. Kyuhyun menangis. Ia mendengar apa saja yang telah orang tua dan kakaknya bicarakan.

Yesung mencoba menenangkan Kyuhyun. Diusapnya punggung Kyuhyun dengan pelan. Meski ia tak tahu apa yang membuat adiknya itu menangis, Yesung hanya tak sanggup mendengar isakan lirih Kyuhyun.

“Uljima. Tak akan terjadi apa-apa padamu. Aku berjanji.”

Tangan Kyuhyun mengepal. Ia tak suka mendengar ucapan Yesung. Dengan kasar ia melepas pelukannya. Ia harus mengatakannya. Tak apa jika nantinya Yesung akan membencinya. Akan lebih baik jika seperti itu.

“Jangan mengatakan hal yang bahkan bisa menyakiti dirimu sendiri.”

Yesung menatap Kyuhyun bingung.

“Maksudmu apa, Kyu….”

“Ibu kandungmu, aku yang membunuhnya.”

DEG

Yesung tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya menatap Kyuhyun dengan pandangan yang sarat akan pertanyaan. Yesung tahu jika nyonya Cho bukanlah ibu kandungnya. Namun, ia tak tahu siapa ibu kandungnya. Dan sekarang, dengan tiba-tiba Kyuhyun berkata perihal ibu kandungnya. Yesung masih tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.

“Cho Kyuhyun! Hentikan!” Tuan Cho dengan cepat menghampiri Kyuhyun dan Yesung saat mendengar perkataan Kyuhyun barusan.

“Tidak! Yesung hyung harus tahu ini. Ia berhak tahu. Kim Hana, ibu kandung Yesung hyung adalah orang yang ku tabrak hingga meninggal saat i…”

“Jangan bercanda!”

“Tidak! Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau harus membenciku! Kau harus marah padaku, hyung!” Kyuhyun menahan tangisanya saat menatap Yesung. Kau harus membenciku, Yesung hyung. Pergi dari sini secepatnya. Jangan pedulikan aku.

“Sudahlah, Kyuhyun-a. Kau harus istrahat.” Tuan Cho menarik tangan Kyuhyun, namun segera ditepis oleh anaknya itu.

Kyuhyun beralih mencengkeram bahu Yesung. Memaksa Yesung agar menatap matanya.

“Kau. Harus. Membenciku.” Kyuhyun menekankan setiap kata yang ia ucapkan.

“Tidak akan!”

“Benci aku, hyung!! Tinggalkan aku!! Berhenti mengorbankan dirimu untukku. Aku pembunuh ibumu!”

PLAK

“Ya! Kim Yesung! Apa-apaan kau?!”

Gantian tuan Cho yang mencengkeram kerah baju Yesung, mengambil alih pegangan Kyuhyun dari bahu Yesung.

Nyonya Cho segera menghampiri Kyuhyun, lalu memeluk anaknya itu. Kyuhyun menatap nanar pada Yesung yang baru saja menamparnya. Kyuhyun bisa melihat dengan jelas air mata  Yesung berjatuhan.

“Bunuh aku sekarang saja, tuan Cho. Ambil jantungku sekarang.” Dengan pandangan yang telah mengabur, Yesung menatap lekat ke arah tuan Cho.

“Aku tak akan menerima jantungmu!” Kembali, Kyuhyun berteriak. Namja itu memberontak dalam pelukan ibunya.

“Aku ingin bertemu ibuku. Bunuh aku sekarang!” Tubuh Yesung merosot begitu saja. Wajahnya ia rapatkan ke lantai. Menangis dengan keras di bawah sana.

“Bunuh aku.” Lirih Yesung. Namja itu terus menangis. Kyuhyun berhasil melepaskan pelukan ibunya. Di hampirinya Yesung yang menunduk dalam di lantai.

Kyuhyun segera memeluk tubuh kakaknya yang terlihat begitu rapuh. Ia ikut menangis saat mendengar suara tangis Yesung yang sangat menyakitkan.

“Kalau kau ingin mati, kita bersama saja, hyung. Aku muak dengan semua ini. Aku hanya ingin bersamamu.”

Yesung tersentak mendengar ucapan Kyuhyun. Namja itu segera bangkit, lalu melepaskan rangkulan Kyuhyun.

“Hyung..”

Yesung menggeleng. Saat Kyuhyun akan mendekatinya, Yesung semakin menggelengkan kepalanya.

“Jangan mendekat. Kau! Kalian! Aku membenci kalian semua!! Aku membenci kalian.”

Yesung berlari meninggalkan keluarga Cho itu. Tak memperdulikan saat tuan dan nyonya Cho berteriak memanggilnya.

“Bagaimana ini? Kyuhyun bagaimana jika Yesung tak mau mendonorkan jantungnya?” Nyonya Cho bertanya dengan panik pada suaminya. Tuan Cho sendiri nampak kebingungan.

Sementara itu, seulas senyum tipis menghiasi bibir Kyuhyun. Namja itu masih memandang ke arah tempat di mana Yesung berlari.

Pergilah hyung. Berlarilah sejauh mungkin. Lanjutkan hidupmu. Jangan perdulikan aku lagi.

“Eomma mian….mianhae…Aku tak tahu jika ini kau. Mian eomma.”

Yesung tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia terus berlari dari rumah sakit menuju tempat pemakaman. Tubuhnya sejak tadi, ia biarkan tersungkur di makam ibunya.

“Aku menyayangimu. Jika bisa, aku sangat ingin bertemu denganmu.”

“Eomma…”Yesung terus merintih. Seolah tengah mengalami sakit yang amat sangat.

Ya. Ia sakit. Seluruh perasaannya seakan tengah dipermainkan. Di saat Kyuhyun sangat membutuhkannya, ia harus menerima kenyataan jika wanita yang meninggal tertabrak oleh Kyuhyun adalah ibunya. Ibu kandungnya.

“Aku harus apa, eomma?? Harus apa?”

“Aku ingin membenci mereka semua. Sangat ingin. Tapi aku tak bisa melakukannya.”

Yesung terisak pilu. Berkali-kali ia memukuli dadanya, berharap rasa sakit yang menyerangnya, yang membuat ia kesulitan untuk bernapas, dapat ia kurangi. Namun, semakin lama, perasaan sesak itu semakin menggerogotinya.

Hampir empat jam Yesung menangis di depan makam itu. Saat tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya, dengan cepat Yesung bangkit dari duduknya.

“Tunggu aku, eomma.” Yesung mengusap air matanya. Mencoba menenangkan dirinya.

“Sebentar lagi kita akan bertemu. Sebentar lagi.”

 

—O—

 

Pagi itu juga, Kyuhyun harus melakukan transplantasi jantung. Semalam, kondisinya terus memburuk. Ia tak sadarkan diri selama tujuh jam.

Tuan dan nyonya Cho sempat kebingungan, tak tahu harus melakukan apa-apa saat Yesung tak kunjung muncul.

Namun, pagi itu, dokter yang menangani Kyuhyun dengan segera meminta persetujuan orang tua Kyuhyun untuk melakukan operasi. Tanpa bertanya apa-apa lagi, orang tua Kyuhyun langsung menyetujuinya, mengingat kondisi Kyuhyun yang terus melemah.

Kyuhyun tersadar saat sebelum operasi akan dimulai. Ia bisa melihat ada sesosok tubuh lain di dalam ruang operasi itu saat ia di bawa masuk ke dalam sana.

Tubuh Kyuhyun diletakkan sejajar dengan tubuh sosok tersebut, namun di batasi oleh tirai.

“Dia siapa?” gumam Kyuhyun.

Dokter dan perawat yang ada di ruang operasi itu bertingkah seolah tak mendengar pertanyaan Kyuhyun.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari tirai yang membatasinya dengan orang yang akan mendonorkan jantung padanya. Ia menoleh untuk menatap dokter Park, dokter yang menanganinya selama ini.

“Beritahu aku.”

Dokter Park tampak kebingungan. Tak tahu apakah ia harus memberitahu Kyuhyun atau tidak.

“Aku hanya ingin memastikan. Aku tahu dia Yesung hyung. Aku tahu.”

Kyuhyun menoleh saat mendengar suara tirai yang dibuka. Matanya memanas saat melihat Yesung yang terbaring sama sepertinya, tersenyum lembut kepadanya.

“Uljima…Kyuhyun-a.”

“Hyung…” Air mata kedua bersaudara itu sama-sama terjatuh.

“Kau akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja.” Yesung terus tersenyum meski air matanya tak berhenti mengalir.

Kyuhyun menggeleng pelan. Ingin rasanya berlari dari sana. Jika bisa, ia ingin pergi dari tempat ini.

“Hyung…mian.”

“Kau tak bersalah. Berhenti meminta maaf.”

“Hyung….” Kyuhyun menjulurkan tangannya, mencoba menjangkau Yesung. Perawat yang ada di sana tak kuasa menahan tangis mereka saat melihat kedua orang itu. Dokter Park hanya bisa memandang sedih kepada mereka berdua. Tak tahu harus berbuat apa.

Yesung menerima tangan Kyuhyun, balas mengenggam tangan adiknya.

“Tanganmu terasa dingin, hyung.” Lirih Kyuhyun. Ingin rasanya ia bangkit dan memeluk kakaknya.

“Tanganmu malah terasa hangat.” Ujar Yesung lemah. Sebagian kesadarannya telah menghilang. Sepertinya obat bius yang disuntikkan padanya mulai bereaksi.

“Hyung. Kita berhenti saja, bagaimana? Kita mati bersama saja, eoh.”

Yesung tersenyum lemah mendengar ucapan Kyuhyun.

“Hyung lelah, Kyuhyun-a.” Perlahan mata Yesung menutup seiring dengan merenggangnya genggaman pada tangan Kyuhyun.

“Hyung! Andwae, hyung! Jangan bercanda!” Kyuhyun menggoyang-goyangkan tangan Yesung yang digenggamnya.

Perlahan, namun Kyuhyun tak bisa lagi melawan obat bius yang juga telah bereaksi padanya.

“Mianhae, hyung. Keurigo,gomawo. Aku menyayangimu.”

Akhirnya tautan tangan itu terlepas seutuhnya saat Kyuhyun kehilangan kesadarannya.

 

—O—

 

Ku harap kau sangat sehat saat mendengar ini Kyuhyun-a.

Ku pastikan kau amat sangat sehat sekarang. Aku jadi merasa bangga jika memikirkannya,hehe…

Tak terasa, sebentar lagi ulang tahunmu yang ke-16.

Apa yang kau inginkan sebagai kado?

Sepertinya hanya aku yang akan memberi kado terbaik untukmu. Tak perlu ku beritahu, karena kau pasti akan mengetahuinya sendiri.

Selain itu, aku mau berterima kasih.

Kepadamu yang telah menjadi seorang adik yang sangat baik, adik yang sangat menyayangiku, adik yang begitu mempercayaiku, bahkan adik yang bergantung segalanya padaku, termasuk kelangsungan hidupmu.

Ok. Tak usah kau anggap serius yang terakhir tadi.

Jangan merasa bersalah, eoh. Aku melakukannya atas kemauanku sendiri. Ingat itu.

Aku menyayangimu, oleh karena itu kau tak boleh merasa bersalah sedikitpun padaku. Arasseo??

Kapanpun, bagaimanapun, dan apapun yang terjadi padaku, kau harus melanjutkan hidupmu, karena aku memberi hdupku untukmu. Kau boleh merasa bersalah atas kematian ibu kandungku, tapi  tidak pada kematianku nanti. Kau tidak boleh merasa bersalah meski kau berpikir untuk menyalahkan dirimu. Kau tidak boleh dan  tidak bisa merasa seperti itu, karena yang berhak atas hidupku bukan kau.

Maaf, jika terdengar egois, tapi aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu. Kau berhak untuk hidup bahagia. Aku pun berhak. Jangan berpikir aku tak bahagia jika aku memberikan hidupku untukmu. Karena kebahagiaanku adalah melihatmu terus hidup.

Selain itu, jika aku lebih dulu pergi dari kau, aku bisa bertemu dengan ibuku.

Dan lagi, jantungku yang akan ku berikan padamu. Itu berarti aku tetap hidup. Hidup di dalam dirimu. Kita tak akan terpisah lagi.

Kau tahu surga, kan? Tempat itu ada. Di sana, suatu saat nati kita akan bertemu lagi. Aku hanya akan pergi lebih dulu daripada kau karena ibuku telah menunggu. Dan nanti, giliranku yang menunggumu.

Tak usah terburu-buru. Nikmati hidupmu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Wujudkan cita-citamu yang ingin menjadi penyanyi terkenal. Aku mendukungmu.

Terakhir, aku hanya ingin minta maaf. Mungkin, jika jantungku telah barada di dalam tubuhmu, ku pastikan kau tak akan mudah jatuh cinta. Jantungku hanya akan bereaksi jika wanita itu adalah Moon Chae Woon, atau setidaknya yang mirip dengannya. Maafkan aku soal yang satu ini, ne.

Saengil Chukkae Kyuhyun-a. Hyung menyayangimu.-

 

—O—

 

Hampir setiap hari Kyuhyun mendengarkan rekaman itu. Saat di mana ia tersadar dari koma pasca ia operasi, ayahnya memberikan rekaman yang ada di dalam iPod milik Yesung.

Hari itu, bertepatan dengan hari ulang tahunnya, 3 Februari.

Kyuhyun menangis hampir seharian penuh. Berkali-kali ayah dan ibunya menenangkannya, namun Kyuhyun tak bisa menghentikan tangisnya.

Barulah ketika ia mendengarkan rekaman suara Yesung, tangisnya perlahan mereda.

Dua hari setelah ia keluar dari rumah sakit, Kyuhyun bersama dengan ayah dan ibunya mengunjungi makam Yesung yang dibuat bersebelahan dengan makam ibu kandungnya sendiri.

“Hyung..annyeong. Seperti yang kau bilang. Aku baik-baik saja sekarang. Kau memang peramal ulung.”

Kyuhyun berjongkok di hadapan makam kakaknya. Menatap lekat nisan pada makam itu.

“Kau hebat sekali memberi kejutan. Appa dan eomma bahkan tak tahu kalau kau yang mendonorkan jantung untukku.” Nyonya Cho tak kuasa menahan tangisnya mendengar celotehan Kyuhyun. Tuan Cho memilih untuk memeluk istrinya.

Sejak hari di mana mereka mengetahui jika Yesung yang memberikan jantungnya pada Kyuhyun, kedua orang itu tak bisa melepaskan rasa bersalah yang terus meliputi perasaan mereka. Karenanya, tuan Cho segera mendatangi kantor polisi saat itu, melaporkan kejadian yang merenggut nyawa Kim Hana, ibu Yesung.

Namun, laporan yang diajukan oleh tuan Cho ditolak oleh pihak kepolisian. Barulah ia tahu, jika Yesung telah mengurus semuanya. Anak itu melaporkan dirinya sendiri sebagai pelakunya. Yesung tak menerima hukuman karena ia menunjukkan surat yang menyatakan ia akan mendonorkan jantungnya, yang berarti anak itu akan mengakhiri hidupnya.

Bertambahlah rasa bersalah pada tuan Cho.

Semua ini keputusanku. Kalian tak meminta pun aku akan melakukannya. Jangan berpikir aku akan membenci kalian. Seandainya aku tahu bagaimana cara membenci itu, mungkin aku akan melakukannya. Sayangnya, kalian tak pernah mengajarkanku untuk membenci seseorang. Meski kalian tak pernah memperhatikanku, namun kalian tak pernah menunjukkan rasa benci kepadaku. Kalian mungkin tak menyukaiku, namun memeliharaku selama ini sudah menunjukkan jika kalian menyayangiku. Tak apa jika hanya aku yang menganggap diriku anak kalian. Setidaknya kalian tak pernah melarangku melakukan hal itu.

Jika saja Yesung tak berpesan padanya, mungkin ia akan diliputi rasa bersalah seumur hidupnya karena telah menyia-nyiakan anaknya yang berhati mulia.

“Kau lihat saja nanti, aku akan menjadi seorang penyanyi yang terkenal. Bukan hanya penyanyi, tetapi juga seorang aktor ternama, sehingga aku bisa bertemu langsung dengan Moon Chae Woon.”

Tuan dan nyonya Cho sedikit tersenyum mendengar celotehan Kyuhyun.

“Bicara tentang Moon Chae Woon, ternyata jantungmu bereaksi parah karenanya. Baru saja melihatnya di tv, aku merasakan debaran keras. Bagaimana jika bertemu dengannya? Haha…” Kyuhyun tertawa sendiri membayangkan hal itu.

“Sudah hampir malam Kyuhyun-a. Kita pulang sekarang.” Nyonya Cho ikut berjongkok di samping Kyuhyun. Dengan pelan wanita itu mencium nisan Yesung.

“Eomma pergi dulu, Yesung-a.” Kyuhyun tersenyum pelan kepada ibunya saat wanita itu menatapnya. Namja itu mengalihkan pandangannya pada sang ayah. Menatapnya seolah berkata ‘appa tak pamit pada Yesung, hyung?’

Tuan Cho terkekeh melihat tampang Kyuhyun. Pria itu pun berelih ke samping Kyuhyun. Mencium nisan Yesung seperti yang dilakukan oleh istrinya.

“Appa pamit Yesung-a. Kami akan mengunjungimu lagi.” Tuan Cho tak sadar saat air matanya mengalir menuruni pipinya. Saat ia berdiri, dengan pelan diusapnya wajahnya. Menghapus jejak air mata yang baru saja mengaliri pipinya.

Kyuhyun terdiam sesaat.

“Hyung, kau bahagia, kan? Sesuai keinginanmu, aku juga akan bahagia di sini, bersama appa dan umma. Sampaikan salamku untuk Hana eomma.” Kyuhyun menatap nisan Yesung lalu nisan Kim Hana.

Perlahan Kyuhyun bangkit sambil tersenyum samar.

Aku akan melanjutkan hidupmu yang kau berikan untukku, hyung. Kau tenang saja.

Annyeong, hyung.

Seperti yang kau katakan, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Pasti. Di surga.

 

—FIN—

 

 

Advertisements

13 thoughts on “[ff KyuSung] He’s My Brotheart

  1. T.T FFnya super keren!!! aku smpai nangis baca ff ini huaaaa sayang bgt ya cuma one shoot 😦 mmng pantas dapat juara 1 lomba FF. fighting ya !!!!

  2. hiks…aku nangis aku nangis 😥 ya ampun yesungku …hatimu begitu mulia aku sampe gak bisa ngomong apa-apa sangkin sesaknya ini dada…sumpah nyeseekkk bangett deh … pengin nangis lagi.. 😥

    ffnya kereeenn bangetttt…sukses buatku banjir air mata 😥

  3. Huaaaaaaa nyeseeeeeekk ampe gak bisa berhenti nangis baca ff nya kereeeen.. yesung oppa i love youuu muach muach muach YA! Kyuhyun~ah yesung for you 😀 kyusung~kyusung foreveeeerrr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s