Second Trip “Goes to Lembah Ramma”

09 Oktober 2015, ba’da Jumat

Dimulai dari perjalanan ke Malino. Kami semua berjumlah 12 orang, 7 laki-laki dan 5 perempuan. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih dua jam kalau nggak salah.

Helm yang saya pake sempat rusak, nggak mau kalah sama jalanannya mungkin. Jalanan rusaknya cuma sedikit, sih tapi lumayan mengganggu. Tapi, pemandangannya mengalahkan semua keluhan. Wuihhhh….capeknya badan terganti sama senengnya mata dan hati.

Damai…indah…hebat…aih, ga tau lagi mau pake kata-kata apa buat menggambarkan keindahannya. Padahal keberangkatan kami saat itu pada musim kemarau, tapi cantiknya pemandangan di sana itu awet. Seandainya saya cuma jalan sendiri, mungkin kerjaannya singgah mulu buat foto. Kapan lagi coba bisa mengabadikan berhubung yang bawa kamera (pinjeman) itu saya. Tapi, karena saya tahu diri sebagai orang yang dibonceng, jadi cukup diam saja menikmati pemandangan. Rekam dalam hati dan ingatan saja. tapi, afa beberapa foto yang sempat di ambil, kok.

Padahal kalo dipikir-pikir, ini kita masih naik motor, loh. Belum mendaki yang sesungguhnya. Mungkin karena ini pengalaman pertama mau mendaki gunung, dan pengalaman pertama mengunjungi kota Malino, jadilah saya excited-nya keterlaluan. Belum lagi norak banget pas memasuki kawasan Malino gara2 cuaca yang tiba2 berubah drastis. Iya-lah, matahari masih bersinar dengan hebatnya tapi cuacanya itu sejuk. Dingin. Banget malah.

Mana lagi jalan masuk menuju tempat menginap itu ekstrim. Kecil, menanjak dan meliuk-liuk. Rasanya kalo udah dapat tanjakan yang wow itu, kita yang dibonceng berasa mau jatuh ke belakang. Jalan menurun pun ga kalah nyereminnya. Saking terjalnya, yang ngebonceng kayak didudukin sama yang dibonceng. Bayangin aja.

Oke, akhirnya sampe di tempat menginap yang sebenarnya adalah rumah teman kami sendiri (jadinya gratis), sekitar jam 5 sore kalo nggak salah. Naruh barang, terus keluar di halamannya yang langsung berbatasan dengan jalan dan diseberangnya ada jurang yang katanya di ujungnya itu ada sungai besar. Kedengeran, sih suara airnya.

Kalo udah ngumpul begini, nggak lengkap kalo nggak ada foto. Pake hp-nya temen, trus tongsis dari saya, jadilah foto-foto gaje kami.

B612-2015-10-09-16-51-00

B612-2015-10-09-16-52-55

Menjelang maghrib, yang cewek2 masuk duluan. Bantuin ibu sama kakaknya temen yg punya rumah menyiapkan makan malam. Setelah siap, kita langsung makan. Selama makan pun kita semua ngga bisa diam. Ada aja yang diketawain. Saling ngejek, ngebully, udah biasa. Ga dimasukin ke hati pula, yang penting….happy 😀

Abis makan, anak2 packing ulang. Ngatur barang yang perlu di bawa, dan nyimpan yg ga terlalu di perlukan untuk perjalanan besok. Sekedar info, air di perkampunagn orang sini itu dinginnya keterlaluan. Dingin yang segar, sih ngga nusuk.

Awalnya, kita yang cewek2 mau tidur di ruang tengah, yg ada tv-nya. Udah pewe, nih…tapi rasa dinginlah yang memaksa kami untuk masuk ke dalam kamar. Lumayan hangat, lah. Malam belum larut, sih sebenernya, tapi udah ngantuk aja. Tapi, entah karena dingin yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, atau emang karena mau kambuh, yang ngarepnya bakal tidur nyenyak, malah kesusahan karena asma kambuh. Sempat ngeganggu yg lainnya, soalnya suara napas saya gede banget. Tapi, Alhamdulillah bisa tidur juga.

10 Oktober 2015, Sabtu

Tidurnya paling telat, tapi lucunya saya yang bangun duluan. Karena saya grasak grusuk, akhirnya empat orang lainnya (Dasma, Iffah, Lina, dan Nur) ikut terbangun. Ada niat buat lari pagi, ngebayangin segarnya udara di luar, akhirnya saya ngajak mereka. Tapi, masih pada mager, jadilah saya keluar sendiri.

Jalannya sedikit di pelanin pas ngelewatin ruang tamu karena yg cowok2 tidur di situ. Pas keluar, nggak cukup satu menit, saya masuk kembali ke dalam rumah. Anginnya dahsyat. Dingin banget pula, dan hidung saya langsung meler. Alhasil diketawain sama temen2 cewek.

Setelah sedikit berbenah, dan makan pagi, kurang lebih sekitar jam 9, kami akhirnya berangkat. Ada dua orang laki-laki yang memandu kami. Naik motor beberapa menit menuju tempat yang lebih dekat dengan jalur pendakian.

Nah, pas perjalanan ke sana itu, topi saya hilang. Ga tau jatuh di mana. Padahal usinya baru 4 hari sejak saya beli dan menghilang begitu saja. Sempat ngeliat bapak2 pake topi yg persis sama, tapi ga sempat nanya karena si bapaknya keburu pergi dan anak2 udah nungguin buat berdoa bersama.

Awalnya nggak ada yang sadar kalo kita itu mendaki pas tanggal 10 bulan 10 /tapi bukan tahun 10/ sebelum saya ngeliat jam di ponsel. Bersejarah banget, kan?

Oke, pendakian pun dimulai. Jalurnya, Subhanallah, langsung terjal. Ga ada pemanasan dengan jalur melandai. Semangat yang luar biasa hebat, rasanya terkikis saat ngeliat tanjakannya. Awalnya saya masih bawa tas sendiri, plus kamera. Tapi, baru beberapa menit udah ngos-ngosan. Yang ada di pikiran saat itu hanya rasa takut, putus asa dan pengen nyerah. Takut asma kambuh, yang sebenernya udah kambuh. Kata anak2 yg nemenin di belakang, muka saya itu udah pucat banget. Mana rasa putus asa ga bisa sampai ke atas menguasai.

Padahal, ini pendakian yang saya impi-impikan sudah sejak lama. Masa iya, harus berhenti di sini? Ngga dong. Berusaha nguatin diri. Dan untungnya, temen2 juga ngerti. Pada akhirnya, tas sama kamera yang awalnya jadi bawaan saya, berpindah tangan. Sepanjang perjalanan juga, kelompok kami yg di belakang, yang paling banyak berhentinya. Maklum, kebanyakan pemula. Kata mereka, ga usah buru-buru, kalo capek bilang, jangan maksain diri.

Ini pelajaran buat siapa pun yang mau naik gunung. Ga boleh takabur. Harus sadar sama kemampuan diri sendiri, tapi jangan gampang menyerah. Ga ada pilihan selain turun atau melanjutkan perjalanan. Kan, ga asik. Tujuannya mau naik, ngelewatin jalannya aja ga mampu. Pasti bisa!

Awalnya, saya ini ngeremehin yang namanya naik gunung. Soalnya yang ada di pikiran saya itu, naik gunung, kan cuma jalan doang, paling juga tanjakannya kayak yang ada di kebun. Pas udah ngerasain sendiri, pengen nangis rasanya. Sadar betapa sombongnya saya jadi manusia yang ga ada apa-apanya ini.

IMG_0057IMG_0065IMG_0069IMG_0071IMG_0072IMG_0077IMG_0090

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan banyak dibantuin sama temen2. Dan jangan lupa satu hal yang penting saat kita mendaki gunung. Saling tolong menolong. Ga boleh ada gengsi2an buat minta tolong, dan yang nolong juga harus peka. Untungnya, capek yang kami rasakan sedikit banyak terobati dengan pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Bukit serta pegunungan yang biasanya hanya saya pandangi dari kejauhan di atas bukit depan kampus, hari itu bisa saya lihat dengan jelas di depan mata saya. Dan beberapa air terjun pun bisa saya lihat dari ketinggian. Ga perlu ngomong apa2, deh kalo udah liat pemandangan cantik begitu. Langsung sadar sama kebesaran Sang Pencipta.

Jam 11 lewat, akhirnya kami sampai di atas. Sebenarnya bukan puncak, sih soalnya masih ada jalur lagi yang akan mengantar para pendaki ke gunung Bawakaraeng. Tapi, karena tujuan kami hanya di lembah Ramma’, bisa dibilang inilah puncak yang kami temui. Foto-foto dulu, dong sambil melepas penat.

B612-2015-10-10-10-56-41 - CopyIMG_0101

Untuk kemudian kami menuruni dinding-dinding bukit yang lumayan curam menuju tempat camp di bawah sana.

Alhamdulillah lagi, kami semua sampai dengan selamat di kaki bukit setelah sebelumnya beberapa dari kami ada yang tergelincir karena medannya yang berpasir dan curam. Sebelum sampai di tempat untuk membangun tenda, untuk pertama kalinya saya melihat sumber mata air yang airnya mengalir dengan deras. Pas saya menyentuh airnya, Subhanallah, air dari kulkas mah kalah. Ini segarnya ga ketulungan. Mumpung ada air, kami akhirnya mengisi botol2 yang kosong di sana. Setelah itu kami segera menyusul beberapa teman yang telah sampai di lembah.

Sempat berdebat tentang lokasi untuk mendirikan tenda. Dan saat kami masih berputar-putar itulah, ada yang menarik perhatian kami (ga semua). Sebuah tiang bendera dengan bendera merah putih terikat di ujungnya. Foto-foto lagi. Ala-alaan gitu.

IMG_0130IMG_0127IMG_0128

IMG_0133

Yusar, Rini, Dasma, Nur, Sa’ad

IMG_0134

Setelah mengambil beberapa gambar, kami yang singgah berfoto segera menyusul. Pilihan mereka untuk mendirikan tenda ternyata jatuh pada tanah yang tak begitu lapang namun cukup untuk mendirikan tiga buah tenda yang berada di dekat sebuah danau kecil.

20151010_124147

Sumber mata air pun tak begitu jauh dari lokasi kami ini, jadi cukup memudahkan. Beberapa orang kemudian mendirikan tenda, beberapa lagi membuat minuman segar menggunakan air yang kami ambil dari sumber mata air sebelumnya. tanpa perlu di masak. Ini lebih alami dari apapun.

Tenda selesai dibentuk, barang-barang juga udah disimpan baik-baik. Berhubung waktu menunjukkan saatnya untuk makan siang, yang cewek2 dapat tugas buat menyiapkan. Saya sama Nur pergi mengambil air, sisanya di belakang memasak nasi. Mie instan dan sosis adalah makanan pelengkap yang wajib, selain membawanya gampang, masaknya juga gampang. Bisa buat rame2 pula.

Setelah makan siang, sebagian besar dari kami memilih untuk tidur. Sementara sisanya, termasuk saya, mencari spot yang bagus buat foto dan inilah hasilnya.

IMG_0206

IMG_0217

IMG_0215

Abis dari foto-fotolah ini, saya baru sadar kalo gelang kesayangan saya itu putus.

IMG_0185

Capek foto-foto, akhirnya kami memilih untuk tidur siang juga. Cuma sebentar, dan itupun ga nyenyak. Keluar tenda lagi. Ngemil-ngemil. Sekitar jam 4 lewat, yang cowok2 udah sibuk ngumpulin ranting dan batang pohon untuk membuat api unggun. Kalo ngumpul-ngumpul gini, ritual foto-foto itu wajib. Jepret sana jepret sini.

20151010_141813

20151010_172155

 

20151010_175635

20151010_175657

IMG_0286

IMG_0270

Belum juga gelap, anak2 udah nyalain api unggunnya. Emang udaranya udah dingin, sih. Jadi, wajar2 aja. Ngemil-ngemil lagi, cerita ini itu, kadang ga nyambung, tapi itulah yang bikin seru.  Ada yang di ketawain.

Malamnya, pas selesai makan, kita nyanyi2 ga jelas. Sok-sokan beat box, nyambung lagu ini ke lagu yang itu. Terserahlah, pokoknya kita seneng2. Pas malam, fotonya agak kurang, soale gelap banget.

IMG_0308

IMG_0300

Sebelum masuk ke tenda, kita yang cewek2 kompakan kebelet pipis. Awalnya mau jalan berlima, tapi ternyata takut juga. Setelah dirundingkan, kita berlima sepakat menunjuk satu orang (Enal) untuk nemenin kita pergi pipis. Yah, cuma satu orang ini kayaknya yang kita percaya ga bakal ngejahilin.

Setelah itu, kita yang cewek2 langsung masuk ke tenda. Udah lumayan ga tahan di luar soalnya dingin banget. Api unggunnya juga udah mulai redup. Yang cowok2. Mereka masih betah berada di luar, minum2 kopi + ngerokok. Sebenernya masih pengen di luar. Langitnya cantik, bintang-bintangnya kelihatan jelas. Tapi, ya mau gimana. Dinginnya bikin ga kuat. Ga lama kemudian, mereka yg cowok2 mulai nyerah berada di luar kayaknya. Mereka semua akhirnya masuk ke tenda masing-masing. Grasak-grusuk sana-sini. Kita yang cewek2, sebenernya sudah di ambang pintu memasuki dunia mimpi masing-masing, mau nggak mau terusik sama kerusuhan mereka. Mau nyari posisi tidur aja susahnya minta ampun, dan mereka lebih rempong dari pada kami (just kidding, mas bro)

Belum lagi, mereka masuk ke tenda itu ga sepenuhnya berarti mereka langsung tidur. Di dalam tenda masing-masing, mereka saling beradu teka teki, kami yg cewek2 pun jadi ikutan juga. Mana kalo mereka nanyain teka teki yang ga nyambung atau malah aneh, ketawalah sejadi-jadinya. Ada lagi yag hobi kentut. Suara kentutnya itu, loh, membahana.

Ditambah teriakan-teriakan dari para pendaki lain (katanya temen yang udah pernah pergi mendaki, hal itu wajar dan merupakan ciri khas para pendaki) membuat suasana lembah yang seharusnya hening, terasa begitu meriah, heboh dan pastinya seru. Jadi, ga pengen cepet2 tidur. Tapi, yang namanya kalau kantuk udah menyerang, mau di paksain pun, ujung-ujungnya kita semua tepar.

Berhubung saya ga punya SB (sleeping bag), dan cuma bermodalkan dua lapis jaket, celana panjang, dan kaus kaki di cuaca yang sangat dingin seperti ini,  melihat ada carrier yang kosong, tanpa pikir panjang, saya memasukkan kedua kaki saya ke dalam sana. Lumayan hangatlah. Dan malam itu, di tutup dengan suara ngorok yang bersahut-sahutan /bagi siapapun yang ngorok malam itu/.

11 Oktober 2015, Minggu

Saya terbangun karena suara angin yang jika bisa saya gambarkan, menggulung-gulung dan menyapu lembah serta bukit2 kecil di sekitar tenda. Suaranya dahsyat. Saya mengecek jam tangan kesayangan yang ga pernah lepas dari pergelangan tangan kanan saya. Jam 4 shubuh, ternyata. Sempat ngintip jendela, dan masih gelap. Mau bobo lagi, tapi udah ngga ngantuk. Jadilah, saya bobo-bobo dengan mata melek. Hampir sejam nunggu, belum ada tanda2 dari teman2 di samping saya bahwa mereka akan terbangun.  Pengen keluar, tapi berhubung saya tidurnya paling ujung dan jauh dari pintu tenda, ya udah bobo2 gaje lagi sayanya.

Sekitar jam setengah 6, saya mendengar beberapa teman cowok yang udah bangun dan sepertinya mereka keluar tenda. Gemes karena ga bisa kemana-mana, saya akhirnya iseng membuka jendela tenda, yang secara tiba2 tanpa di duga-duga, angin kencang tiba2 menyerang, membuat mereka yang berada di tenda yang sama denganku ini, menggeliat karena menggigil. Melihat pergerakan mereka, saya langsung menyuruh mereka satu persatu untuk bergeser, karena saya mau keluar tenda. Baru ngebuka tenda sedikit, saya dengan segera mengurungkan niat untuk keluar. Dinginnya keterlaluan.

Karena ga tau mau ngapain lagi, dengan nakalnya saya melintangkan tubuh saya di atas keempat temanku yang sepertinya masih enggan untuk bangun. Mereka mengeluh, tapi pada akhirnya bangun juga. Everybody wakes up now!

Kami semua pun keluar dari tenda, termasuk mereka yang berada di tenda lainnya. Ternyata, api unggun yang saya kira telah mati semalam, masih menyala dan api unggun kami ini yang paling lama bertahan dibanding api unggun pendaki yang lain. Beberapa dari kami kemudian mengelilingi api unggun untuk menghangatkan tubuh. Ada juga yang membasuh wajahnya dengan air danau. Kalau saya, sih ga perlu. Maksudnya, ga sanggup dulu buat nyentuh air di pagi hari yang dingin ini.

Foto-foto lagi dengan suasana pagi di lembah ini.

IMG_0313

IMG_0356

Beberapa saat kemudian, si ketua tingkat (Irwan) manggil saya yang bawa kamera ini menuju puncak bukit di belakang tempat kami mendirikan tenda. Sebenernya kaki pegel banget, dan lumayan ngeri membayangkan perjalanan pulang nanti.

Dan di atas bukit ini, pemandangannya bagus banget. Si keti ini minta di fotoin. Okelah, saya sebagai juru dokumentasi, menuruti kemauannya. Sekalian saya foto juga

IMG_0339

IMG_0341

IMG_0351

IMG_0352

Usut punya usut, selain minta difotoin, dia jauh2 nyari tempat foto ini sebenernya juga sekalian nyari tempat buat BAB. Yaelah. Saya, mah cuma bisa nahan ketawa. Yoweslah, saya balik duluan, masa iya mau ditungguin. Kan, ga mungkin.

Balik ke dekat tenda, lagi ada yang bikin kopi. Segeralah saya mengambil snack. Ngemil lagi, minum2 kopi lagi. Sambil becanda dan foto2 tentunya.

IMG_0371

Setelah makan pagi dengan persediaan ramsun yang tinggal sedikit, tapi Alhamdulillah cukup untuk kami ber-14, kami pun berbenah. Ada yang membongkar tenda, memasukkan kembali semua barang2 ke dalam 2 carrier dan tas masing2, dan saya kebagian mengambil air untuk persediaan di perjalanan pulang kami.

Setelah semuanya beres, foto2 lagi. Maklum, ada banyak yang nitip salam, trus namanya ditulis di kertas gitu. Itu yang lagi happening di Indonesia. Jadi, supaya kekinian, kita juga ga mau kalah, dong.

IMG_0390

Sekitar pukul 10 lewat, kami meninggalkan lokasi berkemah dan memulai perjalanan pulang. Ga lupa sampah2 yang kami hasilkan, dibawa kembali. Ke gunung ga boleh nyampah, dong. Masa iya bikin lahan pembuangan sampah baru? Kan, ga asik.

Selama sehari semalam berada di lembah tersebut, saya belajar banyak hal. Termasuk bagaimana para pendaki saling berinteraksi satu sama lain. Yang saya lihat, biarpun mereka ga saling kenal, mereka tetap saling sapa. Dan ada satu sapaan yang paling sering saya dengar, yaitu “Salam Lestari”. Ini menunjukkan kalau tingkat solidaritas mereka itu tinggi. Rasa persaudaraannya ga perlu ditanya lagi. Loyal banget kayaknya.

Pas jalan pulang ini, kita tetap melewati jalur yang sama saat kita berangkat. Bedanya, pas datang, ga begitu banyak pendaki yang kami jumpai di perjalanan. Tapi, berhubung ini hari minggu, ada begitu banyak pendaki lain yang akan pulang juga, sama seperti kami. Jadilah jalur tracking itu di penuhi oleh orang2. Seru juga, sih. Ga berasa capeknya kalo ngeliat orang banyak.

Tapi, ya dasarnya saya belum tau teknik2 mendaki itu seperti apa, ditambah fisik yang kayaknya kagetkjarena tenaga di porsir habis2an, saya tetep ngos2an pas mendaki di dinding2 bukit yg curam tersebut. Padahal tasnya udah dibawain, kamera juga, masih aja susah buat mendaki sendiri. Malah pucatnya lebih parah dari pas datang. Hampir dan nyaris pingsan, pokoknya. Dengan bantuan beberapa teman, Alhamdulillah, saya bisa juga sampai di atas.

Dan lagi-lagi, kami sampai di puncak ini saat waktu menunjukkan pukul 11 lewat beberapa menit lah. Foto2 lagi. Ada yang bawa bendera, dipinjamlah benderanya buat di pake foto.

IMG_0397

IMG_0398

Setelah istrahat beberapa menit, kami kemudian melanjutkan perjalanan untuk turun. Perjalanan turunnya, sih santai. Tapi, tetep harus hati2, soalnya lumayan berpasir.

Berhubung kamera DSLR yg saya bawa udah lowbat, sebisa mungkin kami menghemat pemakaiannya, alhasil foto2 perjalanan pulang kami tidak begitu banyak.

IMG_0406

IMG_0410

IMG_0411

Kurang lebih pukul 1 siang, kami semua sampai di bawah, dan langsung mengambil motor masing2 untuk kemudian menuju rumah teman kami. Sesampainya di rumah Iffah, semuanya kompakan untuk tidur. Ga ada acara buat bersih2 dulu. Pokoknya, bobo aja dulu. Capek banget, mana kaki rasanya mau lepas.

Ga lama saya terbangun dari tidur yang tidak bisa disebut dengan tidur /Cuma meremin mata dan masih mendengar/, mendapat ide jahil dari Dasma, saya pun segera mengambil baterai kamera yg sempat saya charge saat tiba, memasangnya pada kamera dan tanpa rasa bersalah sedikit pun, saya mengambil gambar teman2 cowok yang tertidur di ruang tamu. Saking capeknya, mereka ga sadar udah di foto.

Saat semuanya sudah bangun, sedikit membersihkan diri, dan berbenah, kami disuguhi makan siang lagi oleh tuan rumah. Sebenernya udah ga enak ngerepotin, tapi lebih ga sopan lagi kalo menolak pemberian orang, akhirnya kami makan siang dulu.

Nyaris pukul 3 sore, kami meninggalkan rumah teman kami tersebut untuk kembali ke Samata. Perjalanan pulang kami sempat terhambat karena hujan yang mengguyur. Namun, tak memakan banyak waktu hingga akhirnya kami semua tiba dengan selamat di rumah dan kos2an masing-masing.

Capeknya baru terasa secara nyata pas malam. Saya saja sampe nangis padahal lagi tidur. Sepertinya, sih masih ga bisa move on dari gunung.

Besoknya ke kampus, saling berbagi cerita, dan rata2 mereka juga bilang gitu. Keinget sama gunung terus.

Kalo gini, sih sepertinya naik gunung bakal jadi agenda wajib kami. Lagipula waktu untuk berkumpul itu semakin sedikit, jadi sekali2 naik gunung lagi, sepertinya bukan ide yang buruk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s