Karena

Karena pada dasarnya, aku paham takkan ada “kita” yang menyatukan aku dan kau. Sekalipun aku percaya segala kemungkinan bisa terjadi, tapi dalam urusan ini, aku harus senantiasa terjaga agar tak jatuh tertidur dan terus bermimpi tentangmu, tentang kita.

Apakah pernah sekali waktu aku melintas di pikiranmu?

Setidaknya, aku harus menanyakan hal ini. Karena rasanya terlalu sulit menarik benang merah untuk menyatukan pikiranku denganmu, jika kau bahkan tak memegang salah satu ujungnya. Bisa jadi aku menarik seutas benang merah yang teramat panjang, dan ternyata hanya kehampaan yang kudapati di ujung penantianku.

Apakah aku harus berhenti?

Seharusnya memang iya. Tapi, aku tak ada daya mengendalikan hati yang terlebih dulu memilihmu. Meskipun kau tak akan peduli, karena memang tak pernah tahu. Karena yang ku lakukan hanya diam, memandangmu, berharap kau menoleh padaku dan pikiranmu sedikit di sentil oleh kehadiranku. Tapi, jika memang aku tak diberi kesempatan bahkan untuk sekedar melihat ke dalam hatimu, sepertinya aku memang harus berhenti.

suddenly, it came out
December, 7th 2016
di tengah tumpukan buku, dan televisi yang sibuk ngoceh
serta saya yang dikalahkan oleh skripsi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s