MT. Lompobattang (30 Desember 2016 – 3 Januari 2017)

Gunung Lompobattang (2874 mdpl)

Yang pertama kali bilang kalo mau ada rencana mendaki adalah Irwan. Pas kami semua lagi ngumpul di rumah keluarganya untuk syukuran wisuda dia. Udah sedih duluan karena kayaknya nggak bakal bisa pergi. Di tambah Dasma yang sedikit kesal sama anak-anak gara-gara foto. Besoknya, tanggal 30 Desember 2016, hari Jumat, setelah ujian hasilnya Sa’ad, aku, Dasma, Enal, Sa’ad, dan Nur ngumpul di teras fakultas sambil makan sekaligus cerita-cerita. Saat itu, Enal bilang kalau dia mau ikut rombongan mendakinya Irwan. Enal, sih ngajakin. Suruh saya kasih dia info kalau saya mau ikut atau tidak. Galau lagi lah, saya. Sampe di rumah cuma bisa nangis sambil baca novel The Death Cure. Putus asa aja. Cuma bisa minta sama Tuhan, kalo emang diizinin, tolong di kasih jalan.

Nggak lama kemudian, ada telepon dari Irwan. Ngajakin, dan adikku juga pengen ikut. Setelah minta izin sama emak, langsung packing. Katany mau berangkat jam 4 sore ke kampungnya Irwan. Tapi, nyatanya kami berangkat sekitar pukul 9 malam karena hujan yang terus mengguyur.

Berbeda degan pendakian2 ku sebelumnya, kali ini aku pergi bukan dengan teman-teman sekelasku. Hanya ada aku, Enal, dan Irwan, juga satu orang junior sejurusanku yang bernama Ita yang memang sudah lebih dulu ku kenal. selebihnya adalah orang-orang baru termasuk adikku, Ita. Kami yang berangkat malam itu berjumlah 15 orang. Delapan orang laki-lakidan tujuh orang perempuan. Karena kami berangkat malam, aku yang sebelumnya berboncengan dengan adikku, di suruh berganti pembonceng. Yang memboncengku adalah salah satu junior yang juga merupakan anggota pramuka bernama Ahmad. Sementara yang membonceng adikku adalah mahasiswa dari UNM bernama Rahul.

Saat rombongan kami berhenti di pertengahan jalan untuk beristrahat, saat itulah kami saling berkenalan. Ada Wanda, Niar, Lisa, dan kak Isti. Saat itu, aku baru nyadar kalau ada salah satu junior sejurusanku lagi yang ikut, namanya Hajir. Juga ada yang namanya nggak tau siapa, tapi seringnya dipanggil kak Bolang, yang ternyata adalah seniornya adikku. Sisanya, aku masih kurang tau.

Kami pun melanjutkan perjalanan setelah makan mie instan, dan sekitar pukul 1 malam, kami semua tiba di rumah Irwan. Di suguhi makanan sama yang punya rumah sebelum tidur dalam suhu yang sangat dingin. Di dalam kamar, aku tidur bersama Ita juniorku, kak Isti, dan Niar. Sisanya tidur di ruang tamu.

31 Desember 2016

Rencananya mau berangkat pagi, tapi cuaca kurang mendukung. Sehabis sarapan makan ubi rebus sambil minum teh dan kopi, kita semua sibuk nge-packing ulang barang2 yang perlu di bawa. Abis itu makan lagi. Karena belum ada tanda-tanda mau berangkat, semuanya kompakan tidur.

Sekitar jam 3 siang, kita semua bangun. Irwan udah sibuk ngurusin truk yang mau ngangkut kita ke lokasi pendakian. Awalnya kita diminta bayar 30rb per-orang. Berhubung keuangan sudah menipis, minta di nego dulu. Siapa tahu bisa dikurangin jadi 20rb per-orang. Dan benar saja, yang punya truk setuju. Kita pun siap-siap lagi. Nungguin truknya datang, sambil ngobrol ini itu, lengkap dengan curcol bapernya para manusia-manusia absurd. Bukan cuma pas waktu itu, tapi sejak kita berangkat dari Samata ke kampungnya Irwan, para makhluk berjenis laki-laki itu selalu saja menyangkut pautkan masalah perasaan mereka dengan apapun yang menjadi bahan obrolan. Yah, cukup di ketawain aja. Lumayan meramaikan suasana.

Pukul 4 sore, yang sebenarnya sudah nyaris setengah 5, truk yang ditunggu2 akhirnya datang juga. Bersamaan dengan itu, 8 orang teman sekampung Irwan, yang dua di antaranya adalah perempuan, yaitu kak Yuni dan kak Cayu juga ikut bergabung. Semua carrier, backpack, dan semua barang-barang lainnya dinaikkan terlebih dahulu, setelah itu, kami para perempuan naik disusul para laki-laki. Setelah beres dengan grasak grusuk, kami pun berangkat.

Perjalanan ke lokasi pendakian memakan waktu sekitar 1 jam lebih 30 menit. Jalanan berkelok-kelok, dengan disuguhi pemandangan cantik dari jejeran pohon pinus tinggi, juga rumah-rumah warga yang hampir semuanya dihiasi bunga-bunga cantik. Tidak lupa pemandangan dari gunung lompobattang, dan kota di bawahnya. Saat kami memasuki area yang semakin menanjak, dengan jalana berbatu, di kanan kiri jalan dihiasi dengan jejeran tanaman sayur yang tumbuh subur.

Saat melewati tanjakan yang sangat terjal, truk yang kami tumpangi tak bisa melaluinya. Beberapa orang kemudian turun dari truk untuk melihat kondisi jalanan sekaligus memberi instruksi pada supir untuk mengarahkan truknya ke mana, sementara kami yang di atas truk, berusaha membantu seraya melompat-lompat di bagian paling belakang truk. Dan Alhamdulillah, cara itu berhasil. Meskipun saat itu saya sudah mual, tapi bisa dilawan. Sayangnya, saat menemukan tanjakan yang nyaris sama, truk kembali kandas. Bahkan setelah kami menggunakan metode yang sama dengan yang pertama, tetap saja, truk tidak bisa melaluinya. Akhirnya, kami semua memutuskan untuk turun di situ saja, dan melanjutkan perjalanan ke atas dengan berjalan kaki.

Tepat saat memasuki waktu maghrib, kami semua sedang beristrahat di depan masjid. Diputuskanlah untuk salat terlebih dahulu. Setelah salat, kami semua berkumpul terlebih dahulu di samping masjid, berdiri melingkar untuk berdoa, barulah setelah itu kami memulai perjalanan kami. Sesekali  berbalik untuk melihat suasana kota di bawah sana yang terlihat indah karena lampu-lampunya yang terlihat dari kejauhan. Setelah berjalan sekitar 150 meter dari masjid, kami singgah pada salah satu rumah warga untuk meminta beberapa buah kol dan wortel, sekalian minum air hangat. Selepas urusan kami di sana, perjalanan pun dilanjutkan. Kurang lebih 100 meter dari rumah tersebut, kami pun berbelok memasuki ladang. Melewati persawahan, beberapa anak sungai kecil sebelum akhirnya sampai di pos 1 yang dialiri sungai kecil.

Beberapa orang mengisi botol airnya. Kemudian kami berhitung untuk memastikan jumlah kami semua. 23 orang lengkap. Dan pendakian sesungguhnya pun di mulai. Dari pos satu menuju pos dua kami melewati pepohonan. Entah pohon apa. Karena keadaan yang sudah sangat gelap dan kami hanya bermodalkan headlamp dan senter. Saat tiba di pos 2, kami memutuskan untuk makan. Makan seadanya, mie instan dan ketupat. Saat itu, hujan mengguyur. Awalnya hanya gerimis, tapi makin lama, semakin deras. Semuanya serempak memakai jas hujan dan memasang tenda besar di atas tempat memasak.  Disitulah rasa dingin terasa semakin menusuk.

Setelah makan, perjalanan pun dilanjutkan. Dari pos 2 ke pos 3, kami melewati rimbunnya ilalang yang tingginya mampu menutupi kami. Masih dengan guyuran hujan, kami tiba di pos 3. Beristrahat sejenak, lalu perjalanan kembali dilanjutkan. Semangat sudah mulai menurun. Sebentar-sebentar, berhenti lagi. Rasanya campur aduk. Capek, sesak, lapar, dan dingin.  Tapi, tetap harus lanjut. Yang awalnya berencana langsung ke pos 9 untuk membangun tenda di sana, akhirnya diputuskan hanya sampai di pos 7 dulu. Aku nggak begitu ingat dengan jalanan yang di lalui mulai dari pos 4 sampai pos 6. Lelah mengalahkan segalanya. Cuma bisa jalan terus, dan kalau capek, ya berhenti lagi. Sayangnya, saat perjalanan menuju pos 7, aku mengalami pusing hebat. Sempat beristarahat sejenak, tapi baru beberapa langkah saat melanjutkan jalan, kesadaranku hilang, dan yah begitulah. Aku pingsan. Untungnya, masih ada rombongan teman-temannya Irwan yang menemani di belakang. Mereka lah yang mengurusiku. Dari 15 orang rombongan dari Samata, hanya aku dan Rahul yang tertinggal di belakang. Rahul sendiri juga mulai oleng, dan sedikit ada masalah dengan carrier-nya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Setelah aku agak baikan, kami melanjutkan perjalanan. Tapi ternyata, saya kena hipotermia. Sampe-sampe ngga bisa jalan, ngomong ngalor-ngidul, nangis, mata rasanya nggak bisa di buka. Udah ancur-ancuran lah, pokoknya. Akhirnya saya  digendong sama kak Faiz. Padahal jarak ke pos 7 sudah sangat dekat, tapi yah mau gimana lagi. Mau dipaksain pun udah mentok. Pas sampe di pos 7, kedengaran riuhnya teman-teman yang lain pas kami datang. Sebenarnya saya udah sadar, tapi mata nggak mau kebuka.

Selanjutnya yang ku ingat, kak Isti dan Ita juniorku menunggu di dalam tenda, sekaligus mengurusiku yang menggigil hebat. Pokoknya saya udah kayak anak kecil. Diurusin apa-apanya, sampe digantiin bajunya. Ya, terima nasib aja. Kalah berat saya kalo sama dingin.

Entah itu sudah pukul berapa, yang pasti sudah sangat dini. Dan Alhamdulillah saya bisa tidur dengan bantuan kak Isti dan Ita yang mengungkungiku agar tetap merasa hangat.

Pagi di hari pertama tahun 2017, saya terbangun dengan kondisi yang sudah membaik, meskipun merasa sedikit kelaparan. Aku bangun lebih dulu dibanding Kak Isti dan Ita. Entah berapa lama saya bertahan dalam posisi rebahan, hingga Ita terbangun dan keluar dari tenda. Dari luar pun terdengar suara “Pasien bagaimana? Sehat?” yang sudah pasti ditujukan pada saya. Aduh, malunya. Rasanya  nggak pengen keluar tenda.

Tapi, karena perjalanan harus dilanjutkan, juga saya yang sudah kebelet pipis, akhirnya keluar tenda juga. Disambut pertanyaan yang sama. Juga saya yang kebingungan nyari sandal yang entah di taruh di mana dan oleh siapa. Sembari ditemani adikku mencari tempat untuk buang air kecil, beberapa celotehan ejekan yang ditujukan untukku masih terdengar. Ya udah, senyumin aja. Becanda doang.

Setelah membenahi tenda dan segala tetek bengeknya, juga ada yang sarapan dengan roti tawar dan saya sendiri sarapan dengan sebungkus bengbeng, lalu kemudian sandal saya ketemu dan kak yuni yang ngurusin saya pas pingsan ngasih tau kalo headlamp-nya Nur yang saya pake ada sama dia, dan foto bareng-bareng semuanya, lengkap!, kita semua pun berangkat ke pos 9.

Awalnya, kami melalui jalan yang menurun dengan pohon-pohon tanpa dedaunan di kanan kirinya. Beberapa batang pohon nampak menghitam, bekas kebakaran beberapa bulan lalu. Juga deretan bunga edelweiss yang menghiasi kanan kiri jalan.

Setelah jalanan menurun, kami kemudian berjalan di atas tebing yang di kanan kirinya adalah jurang. Dengan angin yang bertiup sangat kencang, memaksa kami untuk ekstra berhati-hati melalui medan tersebut. Apalagi di jalur selanjutnya. Jalanan bukan lagi menurun ataupun mendatar, melainkan menanjak, terus-terusan. Jalur bebatuan besar dan kecil yang kami lewati dan menjadi pijakan kami untuk melangkah benar-benar memacu adrenalin.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya kami tiba di pos 9. Pada tanah yang lumayan lapang di bawah bongkahan batu-batu besar, nampak dua buah tenda pendaki lain yang berdiri di sana. Gerimis kembali melanda.

Sebenarnya, ada dua tingkat tanah lapang, di mana bagian bawahnya telah digunakan oleh pendaki lain, sementara tingkata atasnya, masih kosong. Di sanalah kami beristrahat. Memasang tenda biru besar. Awalnya, semua berencana untuk membangun tenda di pos 10 saja, tapi saat mengetahui jika cuaca kurang mengizinkan, ditambah pendaki yang memiliki tenda di sana sudah akan kembali, akhirnya diputuskan untuk membuat camp di pos 9 saja.

Sementara hujan yang mengguyur, beberapa orang mulai memasak. Aku dan adikku duduk di atas batu kecil yang ada di pinggir tebing pendek tingkat pertama. Ada yang membuat kopi dan segera dibagi-bagikan. Juga roti tawar, Mie instan kering, dan biscuit kelapa. Dingin kala itu benar-benar menusuk. Bukan hanya hujan, tapi juga angin yang kencang karena kami berada di ketinggian 2769 mdpl.

Saat adikku sudah tak bisa menahan dinginnya, ia mendekat ke tempat orang-orang yang sedang memasak untuk menghangatkan diri, sekalian membantu memasak. Sedangkan aku, berjalan keluar dari tenda, dan melakukan gerakan-gerakan kecil di luar agar merasa hangat, dibawah gerimis dan angin yang setiap menitnya bertiup sepuluh kali. Tidak sia-sia. Buktinya, saya merasa lebih hangat dibanding hanya duduk diam di dalam tenda.

Tak lama kemudian, makanan sudah matang. Sayangnya, nasi mentah. Tapi tetep di makan juga. Kalo lagi di gunung mah, ngga ada kata protes. Apapun itu, makan aja. Daripada mati kelaparan, kan nggak lucu.

Setelah tenda milik pendaki lainnya telah dibongkar oleh pemiliknya sendiri dan mereka meninggalkan pos 9, barulah para laki-laki sibuk memasang tenda mereka. Dimulai oleh Enal, Ahmad, dan Rahul yang membangun tenda mereka di pinggir tebing dengan posisi tanah yang lumayan miring. Diikuti oleh yang lainnya.

Sekitar jam 4 sore, semua teda sudah berdiri. Sebagian besar dari kamu pun masuk ke tenda, terutama yang cewek. Aku dan adikku masuk ke tenda di mana hanya ada Lisa di sana. Lumayan, menghangatkan diri di dalam. Tapi, nggak cukup setengah jam di dalam tenda, di luar pada ribut-ribut, karena akhirnya awan dank abut menyingkir. Awalnya cuma becandaan. Tapi, pas aku denger suaranya Ita juniorku dan aku tanyain dia, akhirnya aku ikut keluar. Dan benar saja. Tebing-tebing di sekitar kami terlihat tanpa ditutupi kabut. Juga pemandangan koat nun jauh di sana pun ikut menampakkan dirinya. Kesempatan langka di musim hujan pas lagi di gunung. Wajib diabadikan. Hampir setengah jam lamanya, sampai area di sekitar kami kembali ditutupi kabut. Semuanya pun kembali ke tenda.

Kak Isti ikut bergabung bersama kami bertiga. Nggak lama, kak bolang muncul, ikut-ikutan minta choki-choki pas ngeliat kita bagi2 choki-choki di dalam tenda. Eh, nggak berhenti disitu, muncul Irwan juga minta choki-choki, sekaligus masuk ke tenda. Dan berlanjut sama pacarnya kak Isti yang juga ikut masuk ke tenda.

Cerita-cerita lah kita di dalam. Dari kak bolang sama Irwan yang ngegangguin adekku mulu, sampai ngomong yang aneh-aneh. Kak bolang, Irwan, dan pacarnya kak Isti yang setenda cerita jorok mulu. Ya nggak jauh2 dari cerita BL. Katanya mau dibikinin film, atau sekalian live cam. Nah, kita yang cewek2 disuruh jadi cameramen lah, sutradara lah. Pokoknya ngaco. Ya, cukuplah buat ketawa-ketawa.

Karena katanya ngantuk, ketiga laki-laki itu pun keluar dari tenda kami. Sama, kita-kita juga ngantuk. Baru mau nutup mata, eh, tenda sebelah, a.k.a tendanya kak bolang, malah ribut2. Itu ngantuknya ke mana coba? Jadinya, kita nggak tidur. Cuma denger cerita mereka yang makin ngawur.

Di tambah tenda sebelah yang entah diisi siapa, dan cuma ada suara leader yang saya tahu. Mereka ribut main sambung-sambung lagu. Kalo udah nggak tahu sambungannya, otomatis bikin lagu sendiri. Yang niatnya saya mau tidur, batal lagi. Permainan ngawur juga obrolan nyeleneh tiga tenda tetangga kami bertahan hingga pukul 10 malam. Sementara di tenda paling ujung, sibuk goreng bakwan sambil ngobrol. Hanya tenda kami yang jadi pendengar setia ditengah cuaca dingin yang membuat kami berempat menggigil hebat.

Sampe waktu menunjukkan pukul 3 dini hari, saya masih terjaga. Karena dingin, tentu saja. Resiko nggak punya SB. Mana mau ngurusin adek yang juga sama2 menggigil kedinginan. Entah jam berapa saya bisa tertidur. Yang pasti saat suara burung di luar tenda mulai berisik, saya terbangun. Masih sunyi. Hanya saya yang terjaga. Sampai tenda-tenda lainnya mulai berisik karena penghuninya terbangun, saya masih dengan mata melek.

Tidak lama, Lisa juga bangun. Terdengar suara Enal di samping tenda. Minta tolong lah kami sama dia untuk ngebukain jendela tenda dari luar. Sekedar mau tau keadaan cuaca di luar sana. Dan, yah masih berkabut.

Suasana makin riuh. Semuanya sudah bangun. Tiba-tiba ada celetukan “Rini, bangun. Celana kamu cepetan di pasang.” Langsung meledak tawa saya. Itu si Irwan. Saya pun membalas, “wah, kok kamu tahu saya buka celana?” dan dianya balas, sambil ketawa-ketawa, “Yagitu, gara-gara mimpi.” Ngawur bin ngaco pokoknya.

Semuanya berencana melanjutkan perjalanan ke pos 10, di puncak. Tapi, barang-barang tetap di taruh di pos 9.

Preparing sekitar setengah jam, sebelum beberapa orang mulai mendaki. Beberapa orang membawa jas hujan, seperti saya. Juga ada yang membawa sarung. Kabut masih menyelimuti.

Baru beberapa langkah mendaki, sempat nanya sama diri sendiri, bisa naik nggak, nih? Mau napas aja susahnya minta ampun. Udaranya tipis banget. Tapi, tetep di lanjutin. Rasanya sia-sia aja kalo ke gunung tapi nggak bisa sampe puncaknya. Apalagi kalo harus diingetin sama perjuangan ke sininya.

Tanjakannya semakin ekstrim. Terjal. Ditambah licin juga. Mana ada jalur yang kanan kirinya benar-benar jurang sementara yang mau dilalui hanya gundukan batu-batu besar. Emang harus saling bantu. Bener-bener harus dibantu.

Setelah berjuang sekuat tenaga, akhirnya, sampai juga kami di puncak yang di sana terdapat sebuah gapura dan sebuah papan yang bertuliskan MT. Lompobattang lengkap dengan ketinggiannya (2874 mdpl).

Memang berkabut, sih. Yang bisa dilihat cuma kabut. Tapi, tetep seneng. Bisa menginjakkan kaki di atas sana, sudah cukup untuk mengucap syukur. Di kasih kesempatan sama Tuhan untuk menikmati pecahan surga-Nya.

Dan satu hal yang tidak boleh terlewatkan dim omen seperti ini, ya tentu saja jepret2. Nah, yang paling heboh itu si Irwan. Kan, dianya baru wisuda, kesempatan banget gitu, kan bawa baju wisuda sama toga ke atas sana. Nggak lupa juga baju pramuka-nya. Maklum, mantan ketua pramuka di kampus.

Puas foto-foto, saya ikut sama beberapa orang yang ternyata sembunyi di balik batu besar, menghindar dari terpaan angin. Dan ternyata, lumayan nyaman di situ. Karena kita nggak kena angin. Sempat berencana mau ke pos 12. Ada spot bagus di sana, yang katanya kayak kabbah. Tapi, berhubung cuaca tidak mendukung, akhirnya niat itu diurungkan. Benar saja, baru juga beberapa langkah meninggalkan puncak, hujan mulai mengguyur.

Perjalanan kembali ke pos 9 nggak kalah seremnya pas datang ke pos 10. Apalagi hujan mulai turun. Jas hujan yang dipake lumayan menyulitkan langkah. Tapi, Alhamdulillah, bisa sampai dengan selamat juga. Saya langsung ngibrit ke dalam tenda. Mau ngehangatin tubuh dulu sekalian beres-beres.

Pas lagi bobo-bobo, ada panggilan dari Irwan. Dipanggil makan. Tau aja kalo saya nggak makan dari semalam. Makan roti tawar di tenda cewek yang satunya lagi. Pake toping susu atau abon. Bisa di pilih sesuai selera. Habis makan itu, berbenah lagi. Dan sebelum tenda benar-benar di bongkar, saya makan mie instan dulu, bareng sama adek, Enal, Hajir, Rahul, Lisa, Ahmad, Niar, dan Ita. Yang lainnya udah makan dulu.

Setelah itu, semua barang yang udah dikemas, dikeluarin dari tenda. Sementara yang cowok2 ngurusin tenda, saya mulai memunguti sampah yang nampak berserakan di tingkat atas. Beres dengan urusan tendanya, yang lain juga mulai membersihkan area sekitar camp kami.

Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 2 siang, kita semua sudah berkumpul, berdiri melingkar untuk berdoa dan berhitung kembali. Lengkap 23 orang. Setelah berdoa, dan ngobrol ngalor-ngidul sempilan, satu persatu mulai berjalan menuruni area camp. Ditargetkan, kami tiba di tempat awal pendakian sebelum maghrib, kalo memang nggak ada halangan. Sebelum sampe di pos 7, beberapa orang sibuk ngumpulin bunga edelweiss. Setahuku, sih di larang, ya ngambil apapun dari gunung. Tapi, ya pada ngeyel. Terserah, lah. Bukannya nggak mau peduli, tapi di katain sok tahu, jadi ya udah.

Pas di pos 7, sempat istrahat sebentar. Dan juga si leader sama Niar, sok2an bikin adegan menjijikkan (re: katakana cinta) yang bikin beberapa dari kami mules, dan segera kabur dari pos 7. Cuaca lumayan mendukung kala itu. Beberapa spot nampak tak terselimuti awan, dan kami bisa melihat pemandangan kota di siang hari itu.

Saking semangatnya jalan, tak terasa sudah melewati beberapa pos. Kalo tidak salah, di pos 5, Niar menggantikanku membawa tas, sementara saya membawa senter besar yang di bawanya. Perjalanan pun dilanjutkan. Saya mulai sedikit memisahkan diri dari barisan. Berjalan sendiri dengan sangat serius.

Pos 4 terlewati, setelah berhenti sejenak untuk minum. Untung masih ada Hajir di sana. Lanjut lagi, saya memimpin. Diikuti Adikku, Enal, dan Hajir. Juga Irwan dan dua orang temannya yang agak jauh di belakang. Pos 3 ku lalui tanpa berhenti. Pepohonan tinggi memayungi perjalananku menyusuri tanda-tanda di kanan kiri jalan. Sambil terus berzikir. Takut kalo jalan sambil ngelamun, entar jalannya salah atau apa gitu.

Matahari sore menembus jejeran pepohonan tinggi, dengan sinar jingganya, menandakan hari yang semakin sore. Sempat bertemu dengan beberapa orang yang berjalan terlebih dahulu di pos 3. Sebelum mereka berjalan lebih dahulu.

Aku, Enal, dan Adikku pun menyusul. Berjalan perlahan di tengah cahaya yang semakin menghilang digantikan gelap. Tak lama, Irwan dan kedua temannya juga sudah menyusul di belakang kami. Enal berjalan terlebih dahulu, di susul olehku, adikku, Irwan, dan kedua temannya.

Jalan yang kami lalui sangat licin. Dan tentu saja, menurun. Salah satu teman Irwan yang membawa carrier, berjalan terlebih dahulu, disebabkan karena Enal tidak memiliki penerangan sama sekali. Kami berenam pun kembali berjalan. Adzan maghrib mulai berkumandang. Yang pasti suara adzan itu berasal dari masjid tempat di mana kami singgah untuk salat maghrib sebelum mendaki. Yang artinya, kami sudah sangat dekat.

Tak sengaja, salah satu teman Irwan yang berjalan paling di belakang terpeleset. Tentu saja. Licin dan gelap begitu. Tak berapa lama, gantian Irwan yang terpeleset. “Solidaritas.” Celetuknya. Dan benar saja, selanjutnya, aku yang kena giliran. Harusnya, adikku yang berjalan di belakangku, tapi ternyata, aku yang kena giliran. Sempat berhenti sebentar. Bokongku, sakit minta ampun. Gimana enggak? Setengah bokongku terjepit di antara dua akar pohon yang besar.

“Senternya nggak kenapa-napa, kan?”

Bukannya nanya saya baik-baik aja atau nggak, malah senternya yang dikhawatirin. Begitulah Irwan. “Punyanya ayah. Kalo kenapa-napa, nanti namamu masuk ke KK, loh.” Lanjutnya bergurau.

Alhamdulillah, kami berenam pun sampai di pos 1 yang jaraknya sudah tak begitu jauh lagi dari rumah penduduk tempat kami singgah sebelum mendaki.

Sekitar 15 menit kemudian, kami pun sampai sepenuhnya di rumah penduduk tersebut. Aku dan adikku nggak ikut masuk kayak yang lainnya. Lebih milih duduk di luar. Awalnya duduk di atas kayu yang entah apa itu. Setelah Enal masuk, saya turun ke tempat dia, duduk di atas karung berisi kompos. Nyender-nyenderlah sama carrier yang ada di belakangku, sementara adikku merebahkan kepalanya di perutku.

Awalnya, ada yang bilang kalo truk yang mau ngejemput kami itu bakal datang ke rumah ini, tapi tidak lama, kami malah berjalan menyusuri jalan berbatu di depan. Katanya, mobil truknya bakal ngejemput di tempat di mana kami di turunkan. Takut truknya nggak bisa naik.

Kaki yang pegelnya udah minta ampun banget, harus di paksa buat jalan. Rasanya, semua baut yang ada di lutut tuh longgar. Tapi, ya tetap harus jalan. Sekitar kurang lebih sepuluh menit kemudian, kami tiba di lokasi yang di maksud. Dan truknya pun datang.

Alhamdulillahnya, si supir truk ngebawain kami teh sama roti. Tau aja kalo orang pada kecapean.

Barang-barang pun dinaikkan, termasuk kami menaikkan diri sendiri. Dan, truknya pun berjalan perlahan membawa kami pulan ke rumah Irwan. Nyaris sepanjang perjalanan ke rumah Irwan, yang saya dan adik saya lakukan adalah tidur. Lelah mengalahkan segalanya.

Dan pukul 10 malam kurang lebih, kami tiba di depan rumah Irwan. Yang menandakan berakhirnya perjalanan mengakhiri tahun 2016 dan mengawali tahun 2017 kami.

Besoknya, saya dan adikku pulang terlebih dahulu berhubung adikku ada kuliah. Last but not least…it was an awesome short journey, with new experience and new friend. What a wonderful new year. I feel so grateful ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s